My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 89


Di mansion keluarga Tan, satu keluarga itu sedang makan malam. Namun, Ken dibuat terperangah setelah mendapat telepon dari asistennya. Ron meminta Ken dan Zoya datang ke rumah secara tiba-tiba, karena ini semua menyangkut tentang masa depan putra-putri mereka.


"Aku akan ke sana sekarang!" ucap Ken mengakhiri panggilan tersebut. Ken langsung bangkit, dan mengajak sang istri untuk ikut bersamanya.


"Sayang, ada apa?"


"Kita harus ke rumah Ron sekarang, sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan putri kita," jelas Ken secara singkat. Karena dia pun belum tahu, di mana titik permasalahannya.


Tak hanya Zoya yang terkejut, tetapi ketiga pria yang sedang asyik makan pun langsung berhenti mengunyah, mereka mengangkat kepala, dan menatap Ken dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Dad, apa maksudnya?" tanya De, mewakili semua orang. Ken menatap anak dan istrinya bergantian, ia menggelengkan kepala memberi jawaban.


"Daddy belum tahu, yang jelas sepertinya El dalam masalah, Daddy tidak bisa diam saja," jawab Ken, dia meraih tangan Zoya agar wanita itu mengekor di belakangnya. "Kalian lanjutkan saja makan malamnya. Mommy dan Daddy pergi sebentar."


Ketiga pria dewasa itu mengangguk, patuh pada ucapan Ken. Sementara Ken dan Zoya langsung pergi menuju rumah kediaman Liem.


***


"Mi, dengarkan aku, aku bisa jelaskan semuanya. Aku dan Nona El tidak melakukan apapun," ucap Caka dengan mimik wajah sungguh-sungguh. Dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana meyakinkan Siska yang memergoki ia dan El sedang bercumbu, sementara dirinya tidak memakai celana.


"Tidak melakukan apapun bagaimana sih, Kak? Jelas-jelas Mami lihat kamu sedang ciuman dengan El, tapi kamu nggak pake celana!" cetus Siska, tidak percaya kalau El dan Caka tidak melakukan apa-apa.


Jelas-jelas ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, mereka berdua sedang mesra-mesraan, sementara semua orang menunggu di meja makan.


"Mi, itu tuh karena aku_"


"Nggak mau tahu, pokoknya kamu harus menikahi El. Kamu harus tanggung jawab, Kak. Jangan mau enaknya saja!"


"Astaga, Mi. Harus berapa kali aku bilang? Aku dan El tidak melakukan apapun selain ciuman, aku tidak memakai celana karena_" Lagi-lagi ucapan Caka terpotong, ia mengeratkan gigi depannya, malu sendiri untuk membeberkan kejadian yang sebenarnya.


"Karena apa? Kamu nggak bisa jawab, 'kan?"


"Mami Mertua, Kak Caca memang tidak melakukan apapun kok," timpal El, ia melirik Caka, wajah pria tampan itu terlihat memerah, dan El sadar sekarang Caka sedang merasakan malu yang luar biasa.


"Tidak perlu membelanya! Yang ada dia akan terus semena-mena sama kamu, kamu diam saja, biar Mami yang bicara." Siska bicara sedikit ketus, bahkan ibu beranak dua itu sudah menunjukkan wajah tak ramah pada putranya.


Caka menarik nafas dalam-dalam, ia memang ingin menikah dengan El, tapi bukan begini caranya. Dia ingin datang secara baik-baik, dan meminta El pada kedua orang tuanya. Kalau begini ceritanya, yang ada citra Caka di depan Ken dan Zoya akan buruk, ditambah kasta mereka yang berbeda.


"Bagaimana, Pi?" tanya Siska saat Ron kembali bergabung setelah selesai menelpon Ken.


"Sebentar lagi orang tua El akan datang. Papi harap kamu menjelaskan semua pada kita, Kak. Sebagai pria sejati, jangan pernah bicara omong kosong, kalau kamu cinta katakan cinta, kalau tidak ya tidak! Dan ingat, pertanggungjawabkan apa yang sudah kamu lakukan!" jelas Ron, kejadian ini memang seperti Dejavu, ia masih ingat betul, saat ia melamar Siska dan mereka malah terpergok oleh para orang tua.


Tak berapa lama kemudian, Ken dan Zoya datang. Caka langsung merasa gugup, ia takut salah bicara saat menghadapi calon mertuanya.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Ken tanpa basa-basi, setelah mereka semua duduk dengan tenang di ruang keluarga.


Ron langsung menjelaskan dari sudut pandang Siska, sebagai orang pertama yang melihat pemandangan tak senonoh itu. Pria itu meminta maaf pada Ken atas kelakuan putranya.


Namun, Ken tak langsung menyalahkan Caka, Ken justru memberikan waktu pada pria itu untuk bicara. Dengan tangan yang berkeringat dingin, Caka menjelaskan kejadian tersebut, tetapi ia melewatkan satu adegan di mana ia memeluk El dari belakang dengan tubuh setengah telanjang.


Mendengar itu, Ken manggut-manggut, membuat Caka semakin cemas, apa tanggapan yang akan Ken berikan, apakah pria paruh baya ini akan memaki atau bahkan memukulinya?


"Dari dua cerita tadi, aku akan memberimu pilihan. Nikahi putriku, atau pergi menjauh!"


Glek!


Caka langsung menelan ludahnya susah payah, siap tidak siap ia harus menikahi El, kalau ia memang ingin mewujudkan cerita cintanya. Namun, kalau Caka memilih karir lebih dulu, maka ia harus rela pergi menjauh.


"Kalau kamu pilih yang pertama, aku tunggu niat baikmu. Kalau kamu pilih yang kedua, jangan pernah muncul lagi di hadapan El, atau aku yang akan maju untuk menghajarmu!" sambung Ken dengan sorot mata tak main-main.


Di sampingnya, Zoya terus mengelus bahu Ken, sementara El menunduk tak berani untuk menampakkan wajahnya di hadapan sang ayah.


Mendengar ucapan Ken, tubuh Caka semakin gemetaran, peluh semakin menderas dari pelipis turun hingga ke tulang selangka. Caka memejamkan matanya sejenak, mencoba memantapkan hatinya.


Hingga kesunyian itu pecah, saat Caka buka suara. "Saya akan menikahinya. Tapi satu yang perlu anda ingat, Tuan. Saya menikahi El bukan karena kejadian ini, tetapi itu semua karena saya mencintainya."


Semua orang langsung terperangah, merasa bahwa rencana mereka untuk mencairkan es di Kutub Utara telah berhasil dengan sempurna. Ron dan Siska saling pandang, merasa bahagia karena akhirnya anak mereka akan menikah.


Sementara Ken mengedipkan satu matanya ke arah El. Tanda drama yang ia mainkan sukses membuat Caka mengungkapkan apa yang seharusnya diungkapkan.


Siapa dulu? Rajanya uler gitu lho.


"Baik, aku tunggu kamu di rumah. Bukan sebagai asisten An, tapi sebagai calon menantu keluarga Tan!"


***


Maaf ye hari ini telat up, soalnya hari ini sampai besok ngothor sibuk, mohon dimaklum syg-sygku💕