My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 47


Akhirnya hujan mulai reda, Aneeq juga sudah duduk dengan tenang di kursinya, karena sudah mendapatkan asupan semangka. Mobil kembali melandas membelah basahnya jalanan yang masih diguyur gerimis manja.


Dan pada saat itu, Jennie menggeliat sambil mengerjapkan kelopak matanya, merasa sudah terlalu lama dia tertidur, dia merasa aneh, dengan aroma maskulin yang menyeruak.


Ternyata ada jas Aneeq yang melekat di tubuhnya, sementara pria itu hanya mengenakan kemeja yang digulung sampai ke siku.


Melihat itu, Jennie mengulum senyum, ternyata pria ini juga cukup perhatian, perasaan was-was yang dulu hinggap kini perlahan memudar, karena nyatanya Aneeq tidak melakukan yang bukan-bukan padanya.


Dia tidak tahu saja, ular di sampingnya habis menyantap semangka sambil memanjakan si Anaconda.


Aneeq melihat pergerakan Jennie, dia sedikit tersentak karena merasa terkejut, tiba-tiba Aneeq gelagapan takut saja Jennie merasakan apa yang sudah dia lakukan.


Demi menetralisir kekhawatiran itu, Aneeq mencoba tersenyum, meski terlihat sangat kikuk di mata Jennie.


"Kamu— sudah bangun, Jen?" tanya Aneeq dengan sedikit terbata.


Namun, sungguh Jennie tak merasa curiga sedikitpun, dia membalas pertanyaan Aneeq dengan anggukan. "Terima kasih, Tuan, atas jasnya, aku jadi tidak kedinginan." Manik mata Jennie beralih ke bawah kaki pria tampan itu, di mana banyak tisu berserakan.


"Tuan, kenapa ada banyak tisu di bawah kakimu?"


Deg!


Mati aku!


Sudah seperti bukan sifatnya yang terkenal begitu santai, Aneeq justru semakin gelagapan mendapat pertanyaan seperti itu. Kenapa tidak kepikiran untuk membuangnya ke tempat sampah, jadi Jennie tidak perlu melihatnya.


Tisu yang menjadi tempat calon buah hatinya berakhir dengan sia-sia.


Ludah Aneeq terasa tercekat di tengah tenggorokan, membuatnya susah payah untuk menjawab. Sementara Jennie terus memperhatikan Aneeq dengan seksama, ada apa dengan bosnya?


"Itu—aku habis flu tadi, udaranya sangat dingin, makanya hidungku jadi gatal," jawab Aneeq setelah mencari alasan yang tepat.


Tak ambil pusing, Jennie akhirnya mengangguk, tak merasa curiga. Sementara Caka sudah geleng-geleng kepala.


Selang beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai, saat itu rintik gerimis masih mengundang. Mobil Caka masuk ke sebuah cafe, tempat di mana mereka janjian.


Sebelum turun, pria sedingin salju itu menyerahkan satu payung pada Aneeq. Aneeq menerimanya, dan segera membuka pintu mobil, sebelum turun Aneeq lebih dulu mengulurkan tangannya. "Jen, pegang tanganku, payungnya hanya ada satu, pastikan bajumu tidak akan kebasahan."


Dengan sedikit ragu, Jennie mengulurkan pula tangannya, sementara Aneeq sudah merasa tidak sabar, dia segera menggapai tangan Jennie, lalu membawanya keluar.


Mereka langsung ke tempat yang sudah direservasi, tetapi karena orang yang mereka tunggu belum datang, maka Aneeq memutuskan untuk makan terlebih dahulu.


Jennie yang memang sudah sangat lapar, memakan makanan itu dengan lahap. Hingga akhirnya satu persatu hidangan yang ada di meja itu tandas.


Dan sesuai praduga. Mobil yang dikendarai oleh Caka benar-benar mengalami kemacetan, sementara dunia sudah mulai menggelap berselimut awan hitam.


Seperti sudah menjadi kebiasaannya, Jennie malah asyik tidur, tetapi perbedaannya kini Jennie tidur dalam dekapan Aneeq, sedari tadi dia tak sadar, karena terus mengusal mencari kehangatan.


Alhasil Aneeq gunakan saja kesempatan itu, untuk mendekap semangkanya. "Kamu tidak bisa menyalahkan aku kali ini, karena kamu sendiri yang memulai lebih dulu." Ujar Aneeq sambil mengulum senyum, ah tidak, dia bahkan mengecup sekilas bibir Jennie, lalu ikut tidur.


Di sini hanya Caka yang benar-benar tersiksa, sampai akhirnya mereka sampai di depan rumah Jennie tengah malam, Caka sudah sangat lelah, tetapi dia tahan.


Jennie terbangun lebih dulu, dan mendapati Aneeq yang memeluknya, pada saat itu kantuk Jennie langsung hilang, kelopak matanya sontak melebar.


Secara reflek, Jennie mendorong tubuh Aneeq dengan keras, hingga pelukan mereka terlepas.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Aneeq, dengan kepala yang terasa berdenyut.


"Harusnya saya yang tanya, apa yang Tuan lakukan? Kenapa anda memeluk saya tanpa izin?"


Aneeq langsung tersadar. "Jennie, asal kamu tahu, kamu yang lebih dulu mendekatiku, kamu kedinginan dan tiba-tiba memeluk aku. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Caka, atau kamu perlu melihat cctv yang aku pasang?"


Mendengar itu, sontak saja Jennie langsung terdiam, dia merasa malu, akan kelakuannya yang secara tidak sadar. Namun, namanya wanita, di mana-mana pasti tidak mau disalahkan.


Jennie mencebik. "Saya kan tidak sadar!"


"Tapi_"


Belum juga menjawab Jennie langsung membuka pintu.


"Jennie!"


Brak!


Oh my God, wanita ini benar-benar!


*


*


*


Ingat pasal Mommy Njoyyy 🤣🤣🤣