
Malam itu Ziel terus merengek meminta tidur bersama dengan Jennie dan Aneeq. Hingga akhirnya Aneeq hanya bisa pasrah. Sementara Jennie tersenyum sumringah. Mereka berbaring dengan Ziel yang berada di tengah-tengah. Sebab bocah tampan itu ingin diapit oleh kedua orang tuanya.
Ziel terus tersenyum merasa bahagia karena akhirnya Jennie dan Aneeq menikah. Mereka juga tinggal bersama. Ziel menggenggam satu tangan Jennie, begitu juga dengan tangan Aneeq, lalu menyatukan keduanya di dada.
"Mom, Dad. Kita harus terus seperti ini yah," ujarnya menatap kedua orang dewasa itu secara bergantian. "Daddy tidak boleh membuat Mommy menangis. Dan Mommy juga tidak boleh nakal pada Daddy. Kalau kalian seperti itu, Ziel akan sedih." Sambung Ziel membuat Jennie merasa haru, hingga dalam sekejap kedua netra wanita itu sudah berembun.
Jennie mengusap surai keemasan putranya dan meninggalkan kecupan singkat di sana. Di tubuh Ziel memang tidak ada darah miliknya, tetapi sungguh kasih sayang Jennie pada Ziel tetaplah besar.
Hingga tiba-tiba terbesit dalam otaknya sebuah pikiran picik. Dia takut, sungguh takut kelak saat dia dan Aneeq memiliki anak. Pria itu akan membeda-bedakan kasih sayangnya terhadap Ziel.
Dia tidak mau itu terjadi, mau bagaimana pun Ziel tetaplah malaikat kecil yang dikirimkan Tuhan untuk menemaninya. Tuhan maha baik, hingga tahu apa yang ia butuhkan. Ziel adalah salah satu anugerah terindah untuknya.
"Of course, Mommy dan Daddy akan berusaha untuk itu, Sayang. Kami akan selalu menyayangimu, dan Ziel tahu itu," ujar Jennie dengan bibir yang bergetar, dia terus menatap wajah putranya. Sementara Aneeq bergeming dan memerhatikan sang istri yang hampir menangis.
Apa dalam bayangan Jennie, dia melihat Michael dalam diri Ziel? Cih, Aneeq langsung mengusir pikiran buruk itu. Dia ikut mengecup kepala Ziel dan menggenggam tangan bocah tampan itu.
"Saatnya tidur," ucap Aneeq sambil menatap Jennie menggoda.
Aneeq menjetikkan jari ingin membuat lampu tidur menyala. Ziel tersenyum tipis, dia mengangguk dan segera menutup mata sambil terus menggenggam tangan kedua orang tuanya.
Beberapa saat kemudian.
Di dalam kegelapan itu, tiba-tiba Aneeq mendengar seseorang terisak kecil. Dia tahu Ziel sudah tertidur. Sementara suara itu tak jauh dari tubuhnya. Pelan, Aneeq mengangkat tubuhnya, dia memerhatikan dada Jennie yang naik turun.
Semuanya terlihat begitu jelas sebab ukuran dada Jennie yang memang sangat besar. Bahkan tangan wanita itu sampai memeluk Ziel dengan erat, membuat Aneeq mengernyit heran karena merasa penasaran, ada apa dengan istrinya? Apa Jennie sedang mengigau?
Aneeq kembali menyalakan lampu utama. Sontak saja hal itu membuat tangis Jennie berhenti seketika. Jennie membuka kelopak matanya yang sudah digenangi oleh banyak air, begitu dia mengangkat wajah, sejurus dengan itu kedua netranya bertemu dengan manik mata Aneeq.
Deg!
Aneeq tak bisa tinggal diam, dia bergegas bangkit dari ranjang dan berpindah ke sisi tubuh Jennie. Pria itu berubah cemas, takut sang istri sakit akibat dia hajar habis-habisan dari pagi sampai siang.
"Sayang, ada apa denganmu? Apa kamu sakit?" tanya Aneeq sudah memposisikan dirinya di samping Jennie. Aneeq memiringkan tubuhnya dan memeriksa suhu tubuh Jennie, tetapi dia tidak menemukan kejanggalan apapun.
Jennie bergerak pelan, tanpa menjawab wanita itu langsung memeluk Aneeq dan membenamkan wajah di dada bidang suaminya. Jennie kembali terisak, sebab pikiran wanita itu malah dipenuhi tentang Ziel dan Aneeq.
"Jen," panggil Aneeq pelan, dia benar-benar tidak mengerti dengan sikap istrinya. "Jen, tolong bicara kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman."
Aneeq mulai mengusap punggung Jennie. Akan tetapi wanita itu masih enggan untuk bicara. Aneeq berusaha sabar, dia tidak menyerah membuat Jennie untuk buka suara. Hingga akhirnya wanita itu mengangkat wajah.
"An, jangan hakimi aku, karena aku memiliki pikiran sepicik ini. Aku mohon yakinkan aku, kelak jika kita sulit untuk memiliki anak, jangan pernah tinggalkan aku ...."
"Jen!"
"Atau jika sebaliknya, saat kita punya anak. Tolong, An, aku minta jangan pernah bandingkan kasih sayangmu terhadap Ziel."
"Jen, apa yang kamu bicarakan? Baru tadi pagi aku berjanji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Dan untuk Ziel, aku tidak pernah berpikir seperti itu, meskipun Ziel adalah anak Michael," jelas Aneeq dengan menggebu-gebu.
Jennie terisak-isak. "Kamu salah, An."
"Maksudmu?"
Bibir wanita itu bergetar, takut kalau dirinya dicap sebagai pembohong, karena menyembunyikan status Ziel. Padahal tidak demikian. Dia hanya tidak mau kalau sampai semua orang tahu, bahwa Ziel hanya anak hasil adopsi. Sungguh Jennie tidak mau membuat Ziel bersedih.
"Ziel bukan anakku dan Michael. Dia hasil adopsi, An."
Deg!