My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 92


"Argh sakit!" Suara lolongan kesakitan terus keluar dari mulut Lora. Aneeq benar-benar menginjak kakinya tanpa belas kasih, pria itu terus memberikan tekanan hingga membuat jeritan Lora semakin terdengar keras.


"Tolong lepaskan aku, sakit ...." Lirihnya dengan derai air mata. Tangan kanannya sudah memerah, dan sebentar lagi pasti akan patah.


Jennie menutup mulutnya, ia terus menggeleng tak percaya. Jennie merasa kasihan dengan nasib Lora yang sudah berada di tangan Aneeq. Membuat ia tiba-tiba mendekat dan menyentuh bahu kekar itu dengan perasaan takut.


"An, hentikan, aku mohon hentikan," ujar Jennie dengan suara yang terdengar tercekak.


Tubuhnya seketika gemetar melihat kemarahan Aneeq yang begitu nyata. Ini pertama kalinya, ia melihat Aneeq dengan wujud yang berbeda. Tidak slengean seperti biasanya.


Mendengar suara Jennie yang seperti itu, Aneeq langsung menghentikan aksinya. Kesadaran pria itu berangsur pulih, ia terlalu gegabah karena memperlihatkan semuanya di depan Jennie.


Tanpa menunggu instruksi lagi, Aneeq langsung mengangkat kakinya. Tangan Lora bergetar hebat, nyaris tak bisa digerakkan. Wanita itu meraung merasakan sakit yang luar biasa.


"Hiks, sakit."


Aneeq menoleh ke belakang, hingga tatapannya dengan Jennie bertemu. Wanita itu terlihat mundur selangkah demi selangkah. Aneeq mengatupkan bibirnya, tanpa bicara pria itu langsung pergi begitu saja.


Kamu benar-benar ceroboh, An. Rutuk pria itu di dalam hati seraya melangkah masuk ke dalam lift.


Aneeq merogoh ponsel miliknya yang ada di dalam saku jas. Ia berniat menghubungi seseorang, sebagai seorang pimpinan tanpa menunggu lama, panggilan itu langsung terhubung. "Patahkan kedua tangan wanita itu, aku ingin hari ini semuanya beres, dan pastikan dia tidak akan mengganggu wanitaku lagi!" Titah Aneeq yang langsung mendapat jawaban iya dari anak buahnya.


*


*


*


Setelah hari itu, bukannya membaik, hubungan Jennie dan Aneeq malah semakin terasa hambar. Aneeq sama sekali belum berdamai dengan hatinya, karena Jennie pun masih terlihat acuh tak acuh.


Dua orang dewasa itu seperti sedang mengadu ego masing-masing. Aneeq mencoba menjauh sejenak dari Jennie, ingin melihat apakah wanita itu sanggup bertahan dalam keadaan mereka yang seperti ini? Atau Jennie justru akan merindukannya, lalu datang dengan sebuah pelukan hangat.


Hari ini ketepatan dengan hari ayah, Ziel sudah membicarakan acara tersebut saat Aneeq menjemputnya dari sekolah. Semua siswa datang dengan ayah mereka masing-masing, begitu pun dengan Ziel.


Dia terus menggandeng tangan Aneeq dengan bangga, untuk masuk ke dalam kelas bersama yang lain. "Dad, lihat. Semua temanku membawa ayah mereka, aku juga membawa Daddy. Aku tidak malu lagi sekarang." Ujar Ziel, memperlihatkan semua teman-temannya yang duduk pada Aneeq.


Dulu setiap hari ayah, Michael tidak pernah mau menemani dirinya, tetapi Ziel tidak pernah marah, karena ada sang ibu yang selalu memberi pengertian bahwa sang ayah tengah sibuk bekerja.


Aneeq tersenyum lebar, lalu mengusak puncak kepala Ziel dengan sayang. "Tentu saja, Boy. Kamu tidak perlu malu, karena ada Daddy yang akan selalu menemanimu."


Mendengar itu, Ziel semakin mengeratkan genggaman tangannya. Kedua pria berbeda generasi itu duduk, dan Ziel langsung memeluk tubuh Aneeq. Tangan mungilnya melingkar di perut Aneeq, sementara wajah Ziel bersemayam di dada pria tampan itu.


"Terima kasih, Dad. Tapi kapan kita akan tinggal bersama? Kenapa kita terus tidur secara terpisah?" tanya Ziel, menatap Aneeq dengan sorot mata polosnya.


Aneeq langsung menelan salivanya mendapat pertanyaan seperti itu dari Ziel. Sebab ia pun tidak tahu, kapan mereka akan bersatu menjadi keluarga yang utuh.


"Sebentar lagi, Mommy pasti akan mengizinkan Daddy tidur bersama kalian," jawab Aneeq setelah mengecup kening Ziel.


"Apa kalian harus menikah dulu? Soalnya Biel bilang Mommy dan Daddy-nya baru bisa tidur bersama setelah mereka menikah. Terus mereka berdua buat adik deh untuk Biel," jelas Ziel lagi membuat Aneeq merasa kikuk sendiri. Dia tidak pernah sebingung ini.


"Ya, seperti itu. Mommy dan Daddy memang harus menikah dulu, baru bisa tidur bersama dan buat adik," jawab Aneeq sekenanya. Tiba-tiba otak pria itu kosong, tak bisa berpikir dengan jernih untuk menjawab pertanyaan Ziel.


Bocah tampan itu mengerutkan dahi, seolah tengah berpikir keras. "Cara buatnya bagaimana? Apa Ziel boleh ikut dengan kalian berdua?" Tanyanya tiba-tiba, membuat Aneeq langsung gelagapan dan kehabisan kata-kata.


*


*


*


Iya boleh, nanti Dede Ziel nonton di pojok sama ngothor ya🥱