
"Akhirnya kamu datang, An."
Deg!
Waktu seolah berhenti begitu saja, Aneeq menelan salivanya susah payah, ia terpaku dengan dada yang berdebar hebat, suara itu berhasil membuat Aneeq membisu dengan bola mata yang memanas, dia tidak salah dengarkan?
Aneeq melirik ke bawah di mana sepasang tangan langsing memeluk erat tubuhnya. Dan dia jelas tahu, siapa pemilik kedua tangan itu. Perasaan pria itu mulai tak karuan, otaknya terus menebak-nebak, benarkah, benarkah, benarkah?
Tiba-tiba lelehan air turun dengan lancang, menyambangi pipi Aneeq dan jatuh ke tangan Jennie. Basahnya begitu terasa, membuat tangis wanita itu akhirnya pecah, Jennie terisak sambil menghirup dalam aroma tubuh Aneeq, aroma yang begitu dia rindukan.
Aku benar-benar merindukanmu, An.
Hati dan tubuh Jennie kembali menghangat, kepingan asa itu kembali melambung tinggi, berharap akan terwujud hingga dia bisa hidup berdua dengan tokoh pria yang dia cintai.
Aneeq tidak bisa menahan diri lagi, dengan tangan yang bergetar dia menggapai jemari Jennie yang mulai meraaba dadanya. Dia pegang dengan erat mengisyaratkan bahwa dia tidak mengizinkan Jennie untuk pergi lagi, suara tangis Jennie terdengar semakin nyaring, bahkan punggung Aneeq pun sudah terasa basah.
Aneeq mengecupi jari jemari lentik itu dengan buncahan rasa bahagia. Dia tidak peduli bagaimana Jennie kembali, yang terpenting sekarang wanita itu ada di sini.
Pria itu sudah tak tahan lagi, dia menurunkan tangan Jennie dan hendak membalik tubuhnya. Namun, alangkah terkejutnya saat semua orang tiba-tiba sudah berdiri di belakang sana dengan senyum sumringah.
"SUPRISE!!!" teriak semua penghuni mansion dengan suara yang begitu menggema. Tak hanya mengejutkan Aneeq, tetapi Jennie yang sedang sesenggukan pun tak kalah terkejutnya.
Kedua bola mata Aneeq hampir lompat dari sarangnya, mulut pria itu menganga, merasa tak percaya dengan ini semua. Permainan apa ini? Kenapa tiba-tiba semua orang ada di sana? Sumpah demi apapun Aneeq hanya bisa mematung dengan bola mata yang membulat sempurna.
Jadi semua ini hanya drama? Dia ingin marah, tetapi rasanya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk melampiaskan itu semua. Sebab sudah ada Jennie di depan matanya.
Aneeq menatap Jennie yang mengelap jejak basah miliknya, wanita itu berusaha tersenyum dan menempelkan tangan di wajah Aneeq.
Keduanya saling tatap, Jennie mengelus pipi yang sedikit berbulu itu dengan usapan lembut. Dia sangat bahagia, akhirnya wajah ini dia temukan kembali, wajah yang memiliki garis wajah lebih tegas dari pada yang lainnya.
"Aku senang kamu datang, An. Aku senang akhirnya kamu datang," ucap wanita itu berulang kali dengan bibir yang bergetar.
Pria itu tergugu dengan lelehan air mata yang semakin menderas. Aneeq menangkup kedua sisi wajah Jennie, memastikan sekali lagi bahwa wanita yang ada di hadapannya ini adalah seseorang yang dia cintai. "Benarkah ini kamu, Jen? Ini kamu?" Tanya Aneeq, dia menggigit bibir bawahnya menahan sesak karena terlalu bahagia.
Jennie mengangguk sambil mengulum senyum tipis. Aneeq langsung menyatukan kening mereka dan memasukan jarinya di antara riapan rambut Jennie. Bahu pria itu naik turun dengan dada yang membusung. "Kamu jahat, Jen. Kamu meninggalkanku begitu saja. Setelah ini, kamu tidak bisa ke mana-mana, aku akan mengurungmu. Dan tak mengizinkanmu keluar sedikitpun. Camkan itu!"
Bukannya merasa tak suka. Jennie malah semakin melebarkan senyumnya, wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Aneeq, ia mengangguk dan menantang ucapan pria itu. "Kurung aku, An, dan bawa aku ke manapun kamu mau. Aku berjanji, aku akan selalu di sampingmu."
Aneeq merasa terperangah dengan ucapan Jennie, detik itu juga dia tidak peduli dengan semua orang yang tengah menonton mereka berdua. Aneeq langsung melabuhkan ciumannya berkali-kali di bibir sang wanita, tanda bahwa Jennie hanyalah miliknya.
"You are mine, only mine!" ucap Aneeq lalu kembali meraup bibir Jennie yang sudah lama tidak dia sesap. Ternyata rasanya masih sama, manis seperti gula.
"Hei, Boy! Jangan jadi pengecut, segera lamar dia, supaya senjatamu cepat diasah!" teriak Ken tiba-tiba, membuat Aneeq langsung menghentikan aksinya. Sementara semua orang tertawa membahana.
Dia menatap sang ayah dengan senyum tipis, kini dia tahu bagaimana cara Ken mendidiknya. Karena Aneeq sadar, bahwa hanya dia anak yang paling keras kepala di antara yang lainnya.
"As you wish, Dad," ucap Aneeq seraya menatap Zoya, cinta pertamanya itu terlihat tersenyum dengan wajah penuh rona bahagia. Aneeq kembali berkaca-kaca, ternyata semua orang begitu menyayanginya.
Dia hendak bersimpuh di kaki Jennie, tetapi pandangannya tak sengaja menangkap sosok bocah tampan yang berdiri di samping El. Senyum Aneeq semakin mengembang dengan bola mata yang berbinar. "Ziel!" panggil Aneeq dengan penuh kerinduan.
Si empunya nama langsung mengangkat kepala, tetapi bukannya senang dia malah diam saja. Ziel tidak memberi reaksi apa-apa membuat semua orang merasa heran.
El sedikit berjongkok untuk mensejajarkan diri dengan tubuh mungil Ziel.
"Boy, itu Daddy An. Kenapa kamu diam saja, hem?"
Ziel menggelegakkan kepala dengan bibir yang mencebik. "Sepertinya bukan. Dari kemarin yang datang itu Uncle-uncle semua, tidak ada Daddy. Nanti Ziel salah lagi." Cetus pria kecil itu.
Membuat tawa semua orang pecah, karena jawaban polosnya.