
"Anak kalian juga kembar," sambung dokter Alana, saat melihat dua kantung rahim yang sudah diisi oleh janin.
Mendengar itu semua orang langsung terperangah, Jennie bahkan sudah berkaca-kaca karena merasa haru, ada bayi kembar yang tumbuh di perutnya.
"An, anak kita kembar juga," ujarnya dengan bibir yang bergetar.
Aneeq mengangguk dengan senyum yang mengembang. Dia melangkah ke arah brankar tepat di samping kepala Jennie, lalu mengecup kening wanita itu beberapa kali.
"Iya, Sayang. Usaha kita tidak sia-sia 'kan. Lagi pula ini bukti bahwa kamu itu sehat, tidak memiliki kekurangan, buktinya aku bisa menghamilimu dengan cepat," ungkap Aneeq, dia semakin meyakinkan Jennie, bahwa yang bermasalah itu Michael, bukan istrinya.
"Iya, An."
Jennie akhirnya menangis, tetapi air mata itu langsung dihapus oleh Aneeq. Selama Jennie ada di sampingnya, dia akan pastikan bahwa wanita itu bahagia.
"Selamat ya, Sayang. Sehat-sehat buat kamu dan Baby Twins," kata Zoya memberi ucapan selamat pada menantu dan anaknya. "By the way, kembar berapa, Dok?"
Pandangan ketiga orang itu kembali pada dokter Alana yang saat ini mengulum senyum takjub.
"Jumlahnya kebetulan sama dengan Nyonya Zoya. Ada dua kantung yang sudah terlihat berkembang."
Bukan lagi kening yang Aneeq cium, melainkan bibir. Pria itu terus mengecup bibir Jennie sampai dia merasa puas, tak peduli dengan dokter Alana dan Zoya yang berada di sana.
Kedua wanita itu terlihat saling pandang, dokter Alana tersenyum kikuk, sementara Zoya sudah geleng-geleng kepala melihat kelakuan putranya. Benar-benar tidak ada bedanya dengan sang ayah.
"Kita akan memiliki dua bayi sekaligus, Jen. Aku senang sekali mendengarnya."
"Iya, An. Aku juga tidak menyangka, kalau aku bisa merasakan hal luar biasa ini. Terima kasih ya, terima kasih sudah memilihku menjadi ibu dari anak-anakmu."
Tangis Jennie pecah, tetapi sungguh ini adalah tangis bahagia.
"Jangan berterima kasih, aku bukan pria sesempurna itu. Aku hanya bagian dari bongkahan yang menutupi kekuranganmu. Tidak ada yang paling unggul di antara kita. Untuk itulah kita bersama," ungkap Aneeq, dia menggenggam tangan istrinya dengan erat.
Yakin bahwasanya tidak ada yang kesempurnaan yang paling berharga, saat mereka saling menerima.
"Iya, Sayang. Aku sangat bahagia memiliki kamu."
Aneeq sudah memajukan wajahnya, hendak mencium bibir Jennie lagi, tetapi sebuah deheman keras menyadarkannya. Bahwa di ruangan tersebut masih ada orang lain, termasuk ibunya.
Wanita yang disebut namanya hanya terkekeh sambil menganggukkan kepala. Sementara Jennie sudah blushing, karena pipinya mengeluarkan semburat merah.
"Ish, Mommy, merusak suasana saja!" cetus Aneeq dengan mencebikkan bibirnya.
"Ini masih di rumah sakit, An. Kalau mau mesra-mesraan nanti di rumah."
"Tapi habis ini aku langsung ke perusahaan, Mom. Jadi tidak ada waktu untuk bermesraan lagi."
Zoya memutar bola matanya jengah. Kenapa sih, Aneeq ini mirip sekali dengan Ken yang suka mengobral alasan.
"Bisa nanti malam. Sudah deh jangan banyak alasan. Ayo, Dok. Lanjutkan pemeriksaannya. Kalau tidak bocah tengil ini pasti akan berulah."
Zoya menunjuk Aneeq yang sudah terkekeh dan melangkah ke arahnya.
Aneeq memeluk pinggang Zoya dan membuat gerakan mengusak dada. "Kalau bisa aku ingin pesan kamar sekarang juga."
Pletak!
"Bocah gendeng!" sungut Zoya, tetapi yang mendapat sentilan itu malah terkekeh semakin keras.
"Mommy ...," rengek Aneeq. Mungkin jika puluhan tahun lalu Zoya akan merasa gemas dengan tingkah putranya, tetapi tidak untuk sekarang.
Dia malah semakin mendelik, dan memberikan sorot ancaman.
"Ish, Mommy berubah!"
*
*
*
Jadi karena menghindari kelupaan nama, gue kagak jadi kasih sepuluh dah. Cukup dua aja😌😌😌