
Tubuh keduanya basah, bermandikan air dan gelora hasrat yang membara. Setelah berhasil memandikan Aneeq, yang padahal tidak benar-benar mandi, Jennie langsung mendapatkan sesuatu yang membuat sekujur tubuhnya seolah terbakar.
Mulut Jennie menganga saat Aneeq berhasil membuatnya bungkam. Pria tampan itu terus menyesap dua gundukan kesukaannya dengan cukup kuat, menciptakan lenguhan merdu yang melolong panjang memenuhi kesunyian ruangan.
Aneeq sudah melepas seluruh pakaiannya, hingga semua yang ada pada tubuh pria itu dapat Jennie lihat dengan cuma-cuma. Pahatan itu terlihat sangat kekar dan begitu menggairahkan. Belum lagi saat pandangan wanita itu turun ke bawah, di mana pusaka yang Aneeq banggakan tengah berdiri tegak menantang.
Kedua pasang mata itu saling pandang, Aneeq memperhatikan Jennie yang tiba-tiba menurunkan tangannya. Jemari lentik itu terasa menggelitik dada Aneeq, semakin turun membuat Aneeq mendesis penuh kenikmatan.
"Lakukan, Jen. Lakukan sesukamu," ucap pria itu memberat, hingga terdengar sangat sexxy di telinga Jennie. Jennie menggigit bibir bawahnya, dia terus memperhatikan reaksi wajah Aneeq saat tangannya sudah berhasil memegang sesuatu yang begitu keras.
"Shhhh," Aneeq kembali mendesis dengan mata yang terpejam. Jennie semakin memanjakan adik kecil suaminya dengan gerakan lembut, membuat Aneeq membuka mulutnya lebar-lebar. Menikmati tikaman hasrat yang mengikat dirinya.
Aneeq menatap Jennie dengan nafasnya yang menderu, merasa tak tahan Aneeq menyerang leher Jennie. Menggigit dan menyesap hingga menyisakan bekas kemerahan.
Bibir itu kembali berlarian.
Dada Jennie membusung, sementara lidah milik Aneeq terus memberikan sentuhan lembut di pucuk merah jambu itu. Jennie mencengkram kuat bahu Aneeq, tetapi pria itu tak merasa sakit sedikitpun, baginya melumpuhkan Jennie adalah sesuatu yang bisa dia banggakan.
"Ah, An," rintih Jennie merasa tak tahan dengan permainan Aneeq yang begitu gila. Belum juga masuk pada permainan inti, dia malah hampir meledak dengan bibir bawahnya yang sudah basah.
"Yeah, Dear. Calling my name, i like it," jawab Aneeq seraya mengadu pucuk hidung mereka, kaki Jennie terangkat dan melingkar di seluruh pinggang Aneeq. Pria itu kembali meraup bibir Jennie dengan rakus, lidahnya menerobos masuk, meminta akses untuk membelit.
Kali ini Jennie tak bisa dia diam, dia menjambak rambut Aneeq dengan lidah mereka yang terus bertautan. Aneeq meremass bokongg Jennie dengan manja, hingga wanita itu bergerak sendiri semakin merapatkan dirinya dengan Aneeq.
Tanpa peduli dengan tubuh mereka yang basah. Aneeq membawa tubuh Jennie untuk keluar. Seolah sudah hafal jalan, tanpa melepas ciuman Aneeq melangkah ke arah ranjang dan membanting tubuh Jennie di sana.
Bukannya tak suka karena diperlakukan sedikit kasar, Jennie malah tersenyum menggoda. Membuat Aneeq semakin berkabut, pria itu mendekat dan menarik kedua kaki Jennie.
Aneeq menyeringai penuh, sementara tanpa malu-malu Jennie membuka kedua kakinya lebar-lebar, membiarkan Aneeq melihat keindahan sarang Anacondanya.
Aneeq menjilati bibirnya sendiri, dengan melihatnya saja membuat senjata milik Aneeq semakin tegak dan berurat. Jennie bergerak manja, seolah menantang pria yang ada di hadapannya.
Jennie menggigit jari telunjuk, dan berkedipkan sebelah mata.
Sumpah demi apapun, ini gila! Sentuhan Aneeq benar-benar hebat, Jennie mendesaah dengan kuku jari yang mencengangkan sprei, dia tidak bisa mendefinisikan lagi kenikmatan yang dia terima dari Aneeq.
"Oh my God, An. Come on!"
Aneeq menarik lidahnya, dia mengangkat kepala dan kembali menyeringai saat melihat wajah Jennie begitu merah. Pria itu merangkak di atas tubuh Jennie, siap membawa si anaconda melandas ke medan pertempuran.
Aneeq menautkan satu tangannya dengan milik Jennie. Sementara tangan yang lain berusaha mendorong miliknya agar melesat ke dalam sarang yang sesungguhnya.
Jennie meringis sambil menggigit bibir bawahnya, menunggu Aneeq yang sedang berusaha menembus batas nirwana miliknya. Akan tetapi sampai beberapa saat mencoba Aneeq belum juga berhasil, hingga membuat dia terus merasakan sakit.
"An, sakit!"
"Aku tidak tahu bagaimana perbedaannya. Tapi ini sempit, Jen. Kenapa susah?"
"An, kurasa ini tidak akan bisa masuk semua," timpal Jennie yang membuat Aneeq langsung mengangkat kepala. Antara peluh dan sisa air di tubuh Aneeq telah menjadi satu, menderas dari pelipis pria itu dan menetes di dada Jennie.
"Sabar, Jen, baru kepalanya." Aneeq kembali berusaha, Jennie semakin memperkuat pertautan tangan mereka, karena semua itu benar-benar menyakitkan.
"Ini menyakitkan, An!" pekik wanita itu, tetapi Aneeq tidak menyerah, dia terus berusaha dengan keyakinan penuh bahwa dia bisa membobol gawang pertahanan milik istrinya saat itu juga.
"An!" teriak Jennie saat Aneeq berhasil merasuki dirinya dengan penuh perjuangan.
"Akhirnya," ucap Aneeq merasa lega sekaligus aneh, bukankah Jennie adalah seorang janda dan pernah melakukan hubungan dengan suaminya, bahkan melahirkan Ziel juga. Akan tetapi kenapa rasanya sempit sekali? Apa dijahitnya sampai rapat dan tak berbekas?
Aneeq menatap Jennie dari atas sana, dia mengecupi wajah Jennie dan menautkan kembali jemari tangannya. "Rileks, oke? Keluarkan saja semuanya. Karena aku akan sangat menyukainya. Aku mencintaimu, Jen. Sangat, sangat mencintaimu."
Setelah mengucapkan beberapa kalimat itu, Aneeq baru bergerak di atas tubuh Jennie. Wanita itu semakin menganga dan tidak bisa kalau untuk tidak mendesaah. Kenikmatan yang Aneeq berikan mulai menjalar, dia terus mengekspresikan dirinya dengan menyebut nama Aneeq dan mencakar bahu pria itu.
"Jen, aku mencintaimu, Sayang," ucap Aneeq seraya memacu tubuhnya lebih cepat, dia menyentak Jennie dengan kuat, hingga gelombang pelepasan itu hampir saja datang. Aneeq mengerang, tanda bahwa dia sangat menyukai kegiatan panas ini, Aneeq meraup kembali buah semangkanya, sementara di bawah sana dia menghujam semakin dalam.
Hah!