
Jennie menceritakan asal-usul Ziel, bahkan dimulai saat pertengkaran antara dirinya dan Michael. Di mana setiap hari mereka meributkan tentang Jennie yang ingin kembali bekerja, karena merasa bosan di rumah tanpa mengerjakan apa-apa.
Jennie terus mendesak Michael, hingga akhirnya pria itu mengizinkan Jennie untuk mengadopsi Ziel. Namun, sungguh nahas mantan suaminya itu tidak pernah menyayangi Ziel, hingga pria kecil itu terlihat menyedihkan.
Jennie benar-benar menceritakan semuanya. Tidak ada yang ditutupi, sebab dia tidak mau ada rahasia lagi di antara dirinya dan juga Aneeq.
Mereka sudah menjadi sepasang suami istri, sudah seharusnya Aneeq tahu aibnya, dan dia tahu aib tentang Aneeq. Mereka ibarat pakaian yang saling menutupi kekurangan masing-masing.
"Aku hanya tidak mau Ziel merasa sedih, An. Terlebih saat itu Michael terus menolak dia. Aku takut Ziel akan berpikir bahwa dia hanya anak yang tidak diinginkan," terang Jennie dengan sesenggukan untuk menutup ceritanya.
Dia melesakkan wajah di dada Aneeq dan tersedu-sedu di sana. Di samping itu, dia juga takut. Takut kalau dirinya terbukti mandul dan tak bisa memberikan keturunan pada Aneeq.
Setelah mendengar kejujuran Jennie, sumpah demi apapun Aneeq terkejut bukan kepalang. Sebab ia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu.
Seketika otak pria tampan itu langsung berlarian ke masa yang telah mereka lewati bersama. Tepat di menit mereka menyatu.
Jadi itu alasan Jennie tidak mudah untuk dimasuki? Ternyata wanita itu belum pernah melahirkan, dan satu fakta mengejutkannya lagi adalah Ziel—anak hasil adopsi. Oh my God, Aneeq benar-benar terkejut mengetahui fakta ini.
Aneeq menelan ludahnya dengan kasar. Apa dia harus bersyukur? Sepertinya ya, karena dengan begitu tidak akan ada lagi yang mengingatkan Jennie tentang Michael. Ziel bukan darah daging pria badjingan itu.
Ziel hanya anaknya dan Jennie. Camkan itu!
Aneeq tersenyum tipis lalu mengangakat wajah Jennie dari dada bidangnya. Pipi wanita itu basah berurai air mata. Ibu jari Aneeq bergerak mengusap pipi istrinya dan mengecup kening Jennie dengan kecupan yang terasa begitu dalam.
Jennie sampai terheran-heran, kenapa Aneeq malah bersikap manis seperti ini? Bukankah Aneeq seharusnya marah karena sudah terlanjur dia bohongi? Namun, fakta berkata lain, Aneeq justru tersenyum dan menatap wajah Jennie dengan tatapan teduhnya.
"Maafkan aku, An," lirih Jennie mengenggam tangan Aneeq yang menangkup satu sisi wajahnya. Mereka saling tatap, dan tidak ada kekecewaan apapun di mata Aneeq karena telah memilih Jennie. Mau seperti apapun wanita itu, Aneeq akan tetap mencintai Jennie dengan rasa cinta yang begitu besar.
Dia yakin, soal keturunan itu sudah digariskan oleh tangan Tuhan. Bila waktunya sudah tepat pasti mereka akan memilikinya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, kamu tidak salah, Sayang," jawab Aneeq ingin membuat Jennie percaya, bahwa ia menerima wanita itu apa adanya. Kalau ada apanya, ya itu hanya tentang semangka.
"Kamu tidak marah?" tanya Jennie dengan bibir yang masih bergetar.
"Tapi aku sudah membohongimu, An. Bagaimana kalau aku benar-benar tidak bisa memberimu keturunan?"
"Kita bisa konsultasikan hal itu, Jen."
Jennie terdiam. Jawaban Aneeq sudah menjadi bukti, bahwa pria itu 180 derajat berbeda dengan Michael.
"Tapi bagaimana kalau masih tidak bisa?"
"Kita bisa cari cara lain, bayi tabung misalnya."
"Kalau tetap gagal?"
Aneeq menghela nafas panjang. "Kita coba saja dulu. Baru boleh berkomentar."
Mendengar itu, Jennie tersenyum dalam tangisnya. Sedikit demi sedikit keraguan itu hancur, bersama dengan Aneeq yang terus meyakinkan dirinya. Setelah ini, dia harus lebih percaya bahwa Aneeq memang akan selalu berada di sampingnya, sampai maut memisahkan mereka.
"Terima kasih, An," ucap Jennie tulus, dia semakin menggenggam tangan Aneeq dan mengecupnya perlahan.
"Aku tidak butuh terima kasih, tapi aku butuh bukti kalau kamu juga menginginkan anak dariku," ujar Aneeq menyeringai.
"Maksudmu?"
Sejurus dengan itu, Aneeq langsung mengungkung tubuh Jennie. Siap membawa sang wanita kembali terbang ke nirwana, hingga dalam hitungan detik Aneeq sudah dapat melepaskan semuanya.
Jennie sedikit menjerit saat Aneeq menyerang lehernya. Hingga jeritan itu tak sengaja membangunkan bocah tampan di samping mereka.
"HUAAA ... Daddy, jangan gigit Mommy!!!" Ziel berteriak histeris, sebab dia melihat leher Jennie yang sudah dipenuhi bercak kemerahan, yang ia tahu itu adalah darah.
**