
Aneeq terus melangkah, menggendong Jennie untuk masuk ke dalam rumah. Dia sengaja menendang pintu dengan kencang, membuat Michael berjengit karena kaget.
Aneeq benar-benar menginjak harga diri pria itu, hingga membuat Michael mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia harus menuntut balas perbuatan Aneeq. Lihat saja! Selamanya, Jennie tidak akan pernah dia lepaskan.
Michael meninggalkan rumah Jennie dengan kemarahan yang memuncak, sementara di dalam sana, Aneeq masih menggunakan kesempatan dengan sangat baik untuk mendekati Jennie. Dia merasa besar kepala, karena pastinya wanita itu menganggap dirinya sebagai seorang pahlawan.
Hingga saat melewati ruang tamu, di mana sofa berjejer dengan rapih. Jennie mulai tersadar apa yang sedang Aneeq lakukan. Dia mendelik, dan secara reflek memukul dada pria tampan itu.
Bugh!
"Sedang apa kamu? Cepat turunkan aku!" pekik Jennie seraya meronta agar Aneeq mau melepaskan dirinya.
Aneeq merasa terkejut, karena ternyata Jennie masih saja bersikap ketus padanya. Dia kira wanita satu ini akan terpesona, tetapi malah sebaliknya. Namun, Aneeq tidak akan menyerah begitu saja.
"Aku bilang turunkan aku, Tuan Anaconda!!!"
"Jen, kenapa kamu ketus begitu? Padahal tadi kamu diam saja saat aku memelukmu," ucap Aneeq, masih belum mau menurunkan Jennie. Membuat wanita itu mencebik, apalagi Aneeq mengingatkan kejadian memalukan tadi, dia bukan sengaja, itu semua dia lakukan karena ada Michael.
Jennie kembali meronta-ronta.
"Aku tidak peduli, cepat turunkan aku, sebelum aku_"
"Sebelum apa? Aku sudah membantumu lho, Jen. Setidaknya kamu harus berbuat baik padaku."
Mendengar itu, mata Jennie menyipit. "Jadi kamu mencari imbalan?"
"Tidak! Aku hanya ingin kamu bisa bersikap lebih baik padaku," ucap Aneeq, lalu menurunkan Jennie di sofa. Setelah itu, dia tidak lagi bicara, dia meninggalkan wanita itu untuk mencari Ziel, berniat untuk memandikan bocah tampan itu.
Meninggalkan Jennie sendiri, dengan rasa bersalah yang tiba-tiba menyusup. Cih, Aneeq memang paling bisa membuat dia merasa tak berdaya. Yah, tak dipungkiri dia memang sedikit keterlaluan, selalu saja ketus padahal Aneeq sudah banyak membantunya.
Haish, ada apa dengan pria ini? Apa aku salah bersikap seperti itu padanya?
Jennie mengeratkan gigi depannya. "Tuan." Panggil wanita itu, mencoba menurunkan sedikit egonya untuk meminta maaf.
Aneeq berhenti melangkah, karena mendengar Jennie yang memanggilnya. Tidak sia-sia dia berpura-pura marah. Aneeq sedikit menoleh dengan wajah dingin. "Aku akan memandikan Ziel. Setelah ini kita perlu bicara." Ucap pria tampan itu, lalu kembali melanjutkan niatnya.
Kening Jennie mengeryit, apa maksud Aneeq? Perlu bicara? Membicarakan apa?
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Aneeq kembali ke ruang tamu. Sedari tadi Jennie tidak bisa duduk dengan tenang, pikirannya terus melayang, memikirkan apa yang akan Aneeq bicarakan.
"Jen," panggil Aneeq, dan Jennie langsung mengangkat kepala, seolah inilah yang dia tunggu, yakni mendengarkan Aneeq bicara.
"Maaf kalau aku terlalu lancang, untuk masuk ke dalam kehidupan pribadimu. Tapi kamu bisa bayangkan segila apa Michael untuk mendapatkan kamu kembali, dia sudah tahu alamat rumah ini, jadi aku ingin menyarankan padamu, untuk pindah," jelas Aneeq, tanpa menunggu Jennie menanggapi panggilannya.
Jennie semakin mengangkat kepalanya, menatap Aneeq dengan tatapan penuh tanya. "Pindah? Aku baru saja pindah ke sini, lalu kamu menyuruh aku pindah lagi? Kalau iya pun aku harus ke mana? Aku bukan seekor siput yang dapat berpindah-pindah rumah dengan mudah."
"Pindahlah ke apartemenku."
Jennie langsung memicing, tak dipungkiri rasa waspada dan curiga itu masih ada. Dengan dia menerima tawaran Aneeq, sudah dipastikan pria ini akan semakin menjeratnya.
"Aku tidak mau!"
"Jen, jangan hanya pikirkan dirimu! Tapi pikirkan Ziel juga! Setidaknya di sana lebih aman."
"Tapi apakah kamu juga menjamin keselamatanku dari ancamanmu?"
"Apa maksudmu?"
"Maksudku jangan selalu gunakan anakku untuk membuatku lemah dan seolah tak dapat membantah!"
Mendengar itu, kening Aneeq mengernyit, dan dia mendesaah kecil. "Baiklah, terserah kamu saja. Tapi aku akan memberimu beberapa bodyguard untuk berjaga."
"Tidak perlu!"
"Jen!"
"Aku bilang tidak perlu!"
Setelah mengatakan itu, Jennie langsung melenggang ke arah kamarnya. Rasa egoisme dalam dirinya tiba-tiba memuncak, membuat dia tidak dapat berpikir jernih, dan asal ambil keputusan begitu saja.
*
*
*
Mommy jangan malah-malah, nanti Mommy cepat tua🤪🤪🤪 Bial Mommy ga malah, yuk dipencet-pencet semangkanya 🍉🐍