My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 85


Jennie dibuat gamang oleh permintaan Christian, entah kenapa hatinya seolah menolak untuk pulang. Dia ingin tinggal bersama Ziel, dan menjalani hari-hari seperti biasanya. Mengantar putranya sekolah lalu bekerja.


Wanita itu terus berpikir keras, bagaimana caranya memberi pengertian pada ayahnya. Bahwa dia ingin mandiri, dan mencari kebebasannya. Hingga akhirnya, Jennie menghela nafas panjang, dia memberanikan diri mengangkat kepala, untuk menatap Christian.


"Pa, aku sudah bekerja di salah satu perusahaan setelah bercerai dengan Michael. Aku tidak mau merepotkan Papa lagi, jadi aku ingin menata hidupku sendiri bersama dengan Ziel. Dan Papa tenang saja, aku bisa jaga diri, aku juga akan sering pulang ke rumah untuk menjenguk kalian," Jennie menatap kedua orang tuanya dengan mimik wajah sungguh-sungguh. "Aku ingin tetap tinggal berdua dengan anakku, Pa, Ma." Pungkasnya lalu menunduk.


Entah keputusan yang dia buat sudah benar atau belum. Namun, dengan menerima permintaan Christian, Jennie malah merasa tak tenang, seperti ada sesuatu yang akan hilang.


"Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Christian memastikan.


Jennie mengangguk cepat, tidak ingin membuat ayahnya melihat bahwa dia ragu. "Aku yakin, Pa."


Christian pun akhirnya mengangguk-anggukan kepala, Jennie sudah besar, dan dia tidak mau bersikap keras kepala dengan mengekang kebebasan putrinya.


"Baiklah, jaga dirimu, Jen. Di sini Mama dan Papa akan terus mendoakanmu, semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya," ucap Christian, mendengar itu Jennie langsung mengulum senyum tipis.


Dia kembali memeluk tubuh ayahnya. Sebuah pelukan yang menjadi penutup pertemuan mereka hari ini. Karena setelah itu, Jennie pamit untuk pulang. Christian dan Marino mengantar Jennie hingga di ambang pintu, dan mereka bisa melihat Jennie masuk ke dalam mobil mewah, entah milik siapa.


Mata Christian menyipit, dari mobil yang dibawa saja, pria paruh baya itu sudah tahu, bahwa seseorang yang bersama Jennie bukanlah orang biasa.


"Cih, putriku pintar juga cari gantinya."


*


*


*


Malam pun tiba.


Tadi siang Aneeq sudah menjanjikan sebuah makan malam pada Jennie dan Ziel. Pria tampan itu akan menjemput, tepat pukul tujuh. Dan seperti ucapannya, kini Aneeq sudah berada di basemen apartemen tempat di mana Jennie dan Ziel tinggal.


Tanpa menunggu lama, dia langsung naik. Menyusuri lorong, hingga ia berdiri tepat di depan apartemen wanita itu. Aneeq menekan password, begitu pintu terbuka ia langsung tersenyum sumringah.


Sebagai pemilik apartemen, Aneeq melangkah sesuka hati. Bahkan tanpa mengetuk pintu dia langsung membuka pintu kamar Jennie.


"Boy, Mommy sudah bilang tunggu di luar, Mommy sedang pakai baju!" ucap Jennie dengan sedikit meninggikan pita suaranya.


Mendengar itu, Aneeq menyeringai tipis. Dia melangkah mendekati Jennie yang belum sadar akan kehadirannya. Begitu Jennie ingin menoleh, Aneeq langsung memeluknya dari arah belakang.


"Priamu datang ingin membantumu pakai baju," ucap Aneeq tepat ditelinga Jennie, membuat jantung wanita itu seperti terjun ke bawah.


Jennie menatap pantulan tubuh mereka di depan cermin. Dia hanya memakai pakaian dalaam, sementara Aneeq memeluk tubuhnya erat. Tiba-tiba tubuh Jennie terasa panas dengan bulu kuduk yang meremang.


"An," panggil wanita itu sedikit melenguh. Dia seperti tersengat, saat lidah Aneeq sudah mengulumm gemas daun telinganya.


Kedua mata Jennie terpejam dengan sendirinya, menikmati sensasi yang menjalar menyisakan rasa lemas dan lutut yang lunglai.


Aneeq menyatukan kening mereka, dengan nafas memburu, Jennie bisa merasakan angin hangat itu menyapu wajahnya. Kedua netra itu saling menatap, tatapan dalam yang mereka akhirnya hanyut dalam ciuman.


Pelan, mata Jennie kembali terpejam. Kedua tangannya mengalung pada leher Aneeq. Sementara pria itu terus memperdalam sesapannya. Lidah Aneeq melesak, meminta akses pada Jennie agar wanita itu memberinya ruang.


Tak tinggal diam, tangan kekar itu meremass benda kenyal di bawah sana. Aneeq mengangkat tubuh Jennie, membuat kaki wanita itu melingkar sempurna di pinggangnya.


"Jen, i want you, i really want you," ucap Aneeq dengan nafas mendera. Jennie hanya membalas ucapan Aneeq dengan desaah kecil. Aneeq menyerang lehernya. Sedangkan kaki pria tampan itu melangkah ke arah ranjang.


Membawa tubuh mereka berbaring dengan Aneeq yang berada di atas tubuh Jennie. Tidak adanya penolakan, membuat Aneeq merasa menang. Pria tampan itu menyusuri wajah Jennie dengan lidahnya, turun hingga ke leher.


"An, ah!" Jennie mengangkat pinggulnya, Aneeq menyesap leher itu hingga menyisakan bekas kemerahan yang begitu kentara.


Kedua tangan Jennie sudah berada di atas kepala Aneeq. Pria itu semakin turun ke bawah dan bermuara di dadanya. Aneeq siap membuka penutup itu, tetapi keduanya malah dikagetkan sebuah suara dari arah pintu.


"Mommy, Daddy, kalian?"


Krik


Krik


Krik


Aneeq dan Jennie nyengir kuda.


"Hehe, Daddy sedang mengambil semut di tubuh Mommy. Ziel jangan yang berpikir yang tidak-tidak."


Ziel terkekeh kecil, membuat Aneeq dan Jennie saling pandang.


"Kalau begitu lanjutkan saja ambil semutnya. Tapi lain kali jangan lupa tutup pintu yah."


Blush!


*


*


*


Daddy jangan lupa tutup pintu yah, nanti aku masuk lagi 🤣🤣🤣


Onty-onty juga jangan lupa yah, ini hari Senin, waktunya vote Ziel🤩