
Selama ada Jennie di dalam mansion, ketiga pria yang sangat mirip dengan Aneeq pun tidak pulang ke rumah, dan itu semua adalah perintah langsung dari Baginda ratu ular, sehingga tidak ada satu pun orang yang membantah.
Setelah kepergian Aneeq, semua orang sarapan bersama. Di meja makan hanya ada Ken, Zoya, El, Jennie dan juga Ziel. Mereka makan dengan tenang, tetapi lain dengan Jennie yang malah terlihat melamun.
Wanita itu memikirkan Aneeq, bagaimana keadaan pria itu setelah ditinggalkan olehnya. Benarkah Aneeq akan baik-baik saja? Entah kenapa dia malah merasa cemas, takut terjadi sesuatu pada pria yang dicintainya itu.
"Jen, kenapa melamun?" tanya Zoya yang sedari tadi memperhatikan sang calon menantu.
Jennie sontak mengangkat kepala, ia menatap Zoya lalu mengulum senyum paksa. "Tidak apa, Nyonya. Aku hanya teringat kedua orang tuaku." Jawab Jennie beralibi.
Zoya menghela nafas panjang, dia tahu kalau Jennie tengah menyembunyikan perasaannya. Jennie pasti tengah memikirkan Aneeq. "Kalau mau telepon mereka telepon saja pakai telepon rumah. Dan ingat satu hal, jangan panggil aku Nyonya. Panggil Mommy mertua."
Jennie masih merasa begitu canggung dengan keluarga Aneeq, meskipun mereka semua memperlakukannya begitu baik. Lidah Jennie terasa kelu untuk memanggil Zoya seperti itu, sementara ia dan Aneeq belum bertemu.
Akhirnya Jennie mengalah, ia mengangguk dan kembali memakan makanannya. Namun, belum ada beberapa detik Jennie kembali mengangkat kepala, begitu seorang pria tiba-tiba masuk dan menghampiri Zoya.
Deg!
Jantung Jennie seolah berhenti berdetak, dengan sorot penuh kerinduan dia memperhatikan pria yang berjalan santai dan mencium pipi Zoya dengan sayang. "Mom, maaf aku pulang dulu. Ada berkas yang harus aku ambil, anak buah Daddy tidak mungkin tahu berkas mana yang aku butuhkan, jadi aku terpaksa mengambilnya sendiri."
Zoya hendak menjawab ucapan Choco, tetapi Ziel lebih dulu turun dari tempat duduknya dan berlari untuk memeluk kaki pria itu.
"Daddy, Ziel merindukanmu. Apa Daddy mau menjemput aku dan Mommy?" tanya bocah tampan itu sambil menengadah, menatap pria yang ia pikir adalah Aneeq.
Choco mengernyit heran, siapa anak kecil ini? Kenapa tiba-tiba memanggilnya Daddy? Choco memperhatikan Ziel yang merengek di kakinya, lalu menatap Jennie yang sudah berkaca-kaca.
Dari sanalah Choco mulai paham, siapa dua orang yang baru bergabung di keluarga Tan.
Jadi dia wanita milik Aneeq. Batin Choco, lalu melepas pandangannya dari Jennie, beralih menatap Ziel yang terus memeluknya erat.
"Boy, dia bukan Daddy An," ucap Zoya sambil meraih tubuh Ziel agar melepaskan pelukannya. Namun, Ziel tak percaya begitu saja, ia terus menatap Choco dari bawah hingga pria kecil itu menyadari bahwa orang yang sedang ia peluk ini bukanlah sang ayah.
"Tapi kok mukanya mirip Daddy, Grandma?" tanya Ziel polos.
Zoya terkekeh sambil mengusap puncak kepala Ziel. Sementara Choco berjongkok untuk mensejajarkan diri dengan tubuh bocah tampan itu.
"Hai, Ziel aku adalah Uncle-mu, aku Choco," ucap Choco memperkenalkan diri, ia mengulurkan tangan, tetapi Ziel yang masih tak paham dengan situasi yang sedang ia hadapi hanya mampu untuk bergeming.
Sementara Jennie terbelalak, merasa terkejut dengan nama pria itu. Bukankah kembaran Aneeq biasa dipanggil Bee? Tapi kenapa yang ini malah Choco?
"Boy, ayo kenalan. Itu Kakaknya Aunty Barbie," timpal El dengan mengulum senyum. Ziel tampak kikuk, ia ragu-ragu maju ke depan dan menjabat tangan Choco.
"Aku Ziel, dan itu Mommy-ku. Kenapa Uncle sangat mirip dengan Daddy?"
Choco terkekeh. "Karena kami kembar."
"Kembar? Apa itu kembar?"
"Kembar artinya sama."
"Lalu apa Uncle juga mau jadi Daddy-nya Ziel? Sama seperti Daddy An?"
"Eh, bukan seperti itu," jawab Choco cepat-cepat, ia melirik sekilas ke arah Jennie yang sudah membuang muka, sepertinya wanita itu kecewa, karena yang datang bukanlah Aneeq, melainkan saudara kembarnya.
Sebenarnya ada berapa mereka, kenapa banyak sekali? Batin Jennie.
"Terus seperti apa? Kalau Uncle mau sama Mommy juga tidak apa-apa, kan sama saja. Mommy-ku cantik, bisa masak, dan bisa bekerja. Kenapa Uncle tidak suka?"
Mendengar itu, tawa semua orang pecah. Sementara Jennie menganga dengan wajah yang memerah. Bisa-bisanya bocah tampan itu malah mempromosikan dirinya.
Hiks, Ziel, Mommy mau tenggelam saja.