
Akhirnya El mengikuti saran Lily. Dia membeli beberapa tespek, untuk mengecek apakah dia hamil atau tidak. Dalam hati El terus berdoa, dia sangat berharap bahwa sudah ada janin kecil yang mengisi rahimnya.
"Ayo sekarang Nona coba," ucap Lily, El pun bersemangat dia membawa tiga alat tes kehamilan sekaligus. Lalu mulai mencobanya.
Dia menunggu beberapa saat, jantungnya berdebar dengan kencang begitu waktu yang telah ditentukan terasa cukup.
El keluar dari dalam kamar mandi, Lily langsung menghampirinya dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Bagaimana hasilnya, Nona?"
"Belum aku lihat, Li. Doakan yah, semoga sesuai harapanku," balas El seraya membuang nafas.
Lily pun mengangguk, dia tersenyum tipis sambil memperhatikan El yang mengintip ketiga tespek itu. Tangan El terasa gemetar, dia mulai gelisah. Hingga dua bola matanya dapat melihat dengan jelas ...
Dua garis merah.
El langsung menutup mulutnya yang menganga, lalu menatap ke arah Lily dengan bola mata berkaca-kaca.
"Nona—" Lily melirik benda yang ada di tangan El, dia pun mulai mengulas senyum, Lily langsung menghambur memeluk El, hingga membuat wanita bak barbie hidup itu menangis.
"Selamat, Nona."
"Aku tidak percaya ini, Lily. Rasanya seperti mimpi."
"Anda pasti sangat bahagia yah?"
"Sangat, Li. Akhirnya aku dan Kak Caca akan memiliki seorang bayi, aku akan punya anak," ujar El dengan sesenggukan. Sumpah demi apapun dia sangat senang, "aku harus memberitahu Kak Caca tentang ini, aku akan membuat kejutan untuknya."
"Betul, Nona. Sekali lagi selamat yah. Semoga anda dan calon baby selalu sehat."
El mengangguk antusias. Kemudian dia mengambil ponsel untuk mengirim pesan pada suaminya. Dia akan mengajak Caka makan malam di luar, karena dia ingin memberi kejutan pada pria itu.
[Nanti malam aku tunggu di cafe Moonlight. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan.]
Di ujung sana, Caka hanya bisa mengernyitkan keningnya. Mulai menerka-nerka, apa yang akan ditunjukkan oleh istrinya.
***
Malam datang, El tidak lagi pulang, dia mengambil salah satu dress yang dia tinggalkan di butik dan sedikit berdandan.
Sebab dia akan langsung berangkat menuju cafe, tempat dia dan Caka janjian. Dia datang menggunakan taksi, sesampainya di sana El langsung menempati meja yang sudah dia reservasi.
Menunggu Caka yang kala itu datang sedikit terlambat.
"Tidak, Kak. Aku belum terlalu lama di sini," jawab El, seraya menerima kecupan singkat dari suaminya.
Kini mereka berada di tempat terbuka, tetapi memiliki privasi tersendiri, sebab meja tersebut tergolong VVIP.
"Tetap saja aku harus minta maaf, harusnya aku yang menunggumu."
"Tidak peduli siapa yang harus menunggu, bagiku sama saja."
Caka pun mengulum senyum. Dia mengusap pipi El kemudian duduk. Hanya ada dua kursi yang tersedia, hingga membuat mereka berhadapan.
Untuk beberapa saat, pertemuan mereka diisi dengan makan malam yang begitu romantis. Tak jarang Caka menyuapi El dengan begitu telaten, membuat wanita itu merasa begitu dicintai.
Hingga beberapa hidangan telah tandas, Caka akhirnya tersadar. "Apa yang ingin kamu tunjukkan, Sayang?"
El langsung mengangkat wajah dan tersenyum sumringah, ah entahlah rasanya dia ingin menjerit dan memeluk suaminya dengan erat. Dia sangat bersyukur karena Tuhan benar-benar mendengar doa mereka.
El merogoh tasnya, kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil.
"Bukalah!" titah El seraya melebarkan senyumnya.
Caka bertambah penasaran.
"Wah apa ini? Sepertinya begitu mengagumkan." Tangan kanan Caka mulai bergerak, membuka kotak itu dengan perlahan. Hingga detik selanjutnya, Caka dapat melihat isi di dalamnya.
Caka terpaku, mulutnya sedikit terbuka dengan bola mata yang berair seketika. Dia mengangkat kepala, lalu menatap El dengan tatapan tak percaya.
"El, kamu hamil?" tanyanya sedikit terbata.
Wanita itu tersenyum di dalam tangisnya.
"Aku hamil, Kak."
***
Ekspresi si cacing pas tahu mau jadi bapak 🥺