
Aneeq sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor, sementara sang anak sudah lebih dulu terlihat rapih. Ziel sudah memakai seragam sekolah dan siap turun ke bawah bersama dengan kedua orang tuanya.
Ziel duduk di atas ranjang, sementara ibunya sedang memasangkan dasi sang ayah. Pria kecil itu senantiasa memperhatikan gerak-gerik Aneeq dan Jennie dengan senyum ceria, apalagi setelah ia mendengar kabar kehamilan ibunya.
Ziel begitu bangga, sebab sebentar lagi dia akan menjadi seorang kakak.
"Mom, apakah adik bayi masih lama keluarnya?" tanya Ziel tiba-tiba, Jennie mengangkat kepala dan tersenyum ke arah putranya.
"Kita perlu menunggu beberapa bulan, Boy. Sampai perut Mommy besar," jawab Jennie, dia sedikit mengusap kemeja Aneeq tanda bahwa dia telah selesai melakukan pekerjaannya. Aneeq menghadiahkan kecupan kecil di bibir Jennie, kebiasaan setiap kali wanita itu selesai memasangkan dia dasi.
Kemudian setelah itu, Aneeq melangkah ke arah ranjang dan berjongkok di depan tubuh Ziel. "Kita harus sabar, Boy. Adik bayi juga perlu menyesuaikan diri, supaya nanti dia menjadi bayi yang sehat dan kuat seperti Kakaknya."
Pipi Ziel yang menggelembung tampak memerah dan mengembang. "Baiklah, Ziel akan sabar menunggu adik bayi. Ziel akan mendapatkannya dua. Dari Mommy dan juga Grandma."
Aneeq terkekeh sambil mengusap puncak kepala anaknya, merasa gemas dengan tingkah Ziel. "Tentu saja, tapi nanti Ziel panggil anak Grandma dengan sebutan Aunty atau Uncle kecil, oke?" Ujar Aneeq, mulai mengajari sang anak sedini mungkin.
Mendengar itu, Ziel tampak kebingungan. Dia kan lebih tua, kenapa dia harus memanggil bayi yang baru lahir dengan sebutan Aunty ataupun Uncle? Bukankah itu aneh?
"Kenapa harus seperti itu, Dad? Bukankah mereka lebih kecil dari Ziel?"
Jennie hanya terdiam dan senyum-senyum mendengar obrolan ayah dan anak itu. Dia tidak ingin ikut-ikutan menjawab, sebab ia tahu Ziel tidak akan berhenti sebelum ia menemukan jawaban yang pas menurut hatinya.
"Karena dia adiknya Daddy, Uncle Bee, Uncle Choco, Uncle De, dan Aunty Barbie. Jadi panggilan mereka pun sama, Ziel harus memanggil anak Grandma dengan sebutan itu. Apa Ziel mengerti?" tanya Aneeq dengan alis yang naik turun, berharap penjelasannya dapat dicerna oleh bocah tampan itu.
"Daddy harus belajar lebih keras lagi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Kakak Ziel," ujar Jennie masih dengan kekehan. Dia merasa lucu dengan wajah Aneeq yang sedikit masam sebab gagal memberikan pemahaman terhadap putra mereka.
Melihat Jennie yang tertawa, Ziel pun jadi ikut-ikutan, tangan mungil itu mengusap bahu Aneeq beberapa kali, berusaha menenangkan ayahnya itu. "Tidak apa-apa, Dad. Ziel akan tetap mengikuti apa kata Daddy. Ziel akan memanggil adik bayi Grandma dengan sebutan Uncle ataupun Aunty kecil."
Aneeq tersenyum lega, dia melirik Jennie yang belum juga berhenti menertawakannya.
"Baguslah, Boy. Sekarang kita ke bawah," ucap Aneeq seraya bangkit dan meraih tangan kecil Ziel.
"Tapi, Dad—"
Ziel menghentikan Aneeq yang sudah ingin melangkah, begitu juga dengan Jennie. Wanita yang tengah hamil muda itu mengangkat kedua alisnya, seolah mengatakan ada apa?
"What's up, Boy?"
"Kalau Ziel jadi menikah dengan Grandma, apa nanti Aunty dan Uncle kecil akan jadi anak Ziel?"
Mendengar itu, Aneeq dan Jennie langsung menganga. Namun, detik selanjutnya Jennie tidak dapat lagi menahan tawanya. Suara itu kembali pecah, Jennie sampai memegangi perutnya gara-gara mendengar pertanyaan Ziel.
Dia dan Aneeq benar-benar tak habis pikir.