My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Anaconda #1


Para keluarga sudah sepakat untuk membagi waktu Ziel bersama-sama. Dua Minggu di rumah keluarga Tan, dan dua Minggu berikutnya Ziel akan ikut dengan kedua orang tua kandungnya.


Pelan-pelan Aneeq memberitahu Ziel tentang kenyataan yang sebenarnya. Jennie hanya bisa mengangguk kecil, tiap kali Aneeq bicara. Sebab ia takkan sanggup untuk mengenalkan Ziel pada orang lain. Meski orang yang dimaksud adalah keluarga kandung bocah tampan itu.


Awalnya Ziel tampak sangat terkejut, bahkan ia terus memeluk Jennie dan tak mau ikut dengan siapapun. Namun, setelah dibujuk dengan susah payah. Akhirnya pelan-pelan Ziel mau mendengarkan ucapan Zoya.


Lalu setelah itu, barulah ia mau bertemu dengan semua orang. Termasuk Selena dan Malvin. Wanita itu bahkan tak berhenti menangis, saat pertama kalinya ia bisa memeluk Ziel.


Putra yang ia lahirkan, dan ia kira sudah meninggal. Selena hanya bisa sesenggukan, air mata yang turun seolah takkan pernah habis, selalu mengalir deras dan semakin deras kala Ziel memanggilnya dengan sebutan "Mama"


Malam ini, Ziel masih berada di mansion keluarga Tan. Pria kecil itu sudah tertidur selepas makan malam di kamar Jennie dan Aneeq. Sebab seharian ini mereka telah menghabiskan waktu dengan jalan-jalan.


Masuk tengah malam, Jennie belum juga mampu untuk terpejam. Dia melirik Aneeq yang baru saja terlelap dengan posisi tengkurap. Jennie merasa gelisah, ia mengusap perutnya yang masih datar, sebab menginginkan sesuatu.


"An!" panggil Jennie sambil menggoyangkan bahu suaminya. Namun, Aneeq yang baru saja tidur, tak ingin diganggu sedikitpun.


"An, bangunlah. Anakmu menginginkan sesuatu," ucap Jennie, dia sudah terduduk dan bersandar di kepala ranjang. Menatap Aneeq yang menganga dengan bola mata yang tertutup rapat.


Dan hal itu membuat Jennie merasa sedikit kesal. Dia mencubit lengan Aneeq, hingga mata pria tampan itu menyipit. "An, bangun! Aku lapar."


Aneeq menggaruk pipinya yang sedikit gatal, lalu menengadah dengan mata yang menyipit. "Apa, Sayang? Aku ngantuk."


"Aku ingin makan sesuatu."


"Hem."


"An!" pekik Jennie, semakin merasa kesal, karena Aneeq tak kunjung bangun dan meladeni dirinya yang sedang gelisah.


"Hem, iya Sayang. Kamu mau apa? Bicara dulu, nanti baru kita turun ke bawah."


"Tidak tahu, aku bingung."


"Haih, kamu saja bingung, bagaimana aku?"


"Makanya bangun dulu," rengek Jennie, mulai menunjukkan sisi manjanya di depan Aneeq. Dia menarik kaos rumahan pria itu hingga Aneeq akhirnya mengalah.


Dengan mata sayu, pria tampan itu bangun dan menatap istrinya. Sudah beberapa malam, Jennie terus seperti itu. Namun, De bilang hal itu masih wajar. Karena beberapa ibu hamil memang merasakan hal yang serupa.


Ziel sudah pindahkan ke samping, agar tidur bocah tampan itu tidak terganggu.


"Apa? Kamu mau apa sebenarnya?" tanya Aneeq sambil menggenggam kedua tangan Jennie. Wajah wanita itu terlihat cemberut, sudah merasa sangat kesal.


"Ish, An!" pekik Jennie, dan Aneeq langsung menahannya dengan satu tangan.


"Jangan berisik, Ziel sedang tidur, Sayang."


"Habisnya, kamu nyebelin!"


"Iya-iya maaf, sekarang katakan, kamu mau apa?" tanya Aneeq, sekarang tangan pria itu sudah menyisir rambut Jennie, semakin turun hingga ke dagu runcing wanita itu.


"Mau pisang."


Mendengar kata pisang, Aneeq langsung berbinar. "Wah, kamu mau pisangku, Jen?"


Plak! Aneeq langsung mendapat tabokan dari istrinya. Sebab bukan pisang alot yang diinginkan oleh Jennie, tetapi pisang sungguhan.


"Bukan pisangmu! Aku ingin pisang buah."


"Lho, apa bedanya, Sayang? Enak juga pisangku."


Jennie mengerucutkan bibirnya dan terus menggelengkan kepala. "Tidak mau, sudah bosan! Bahkan bibit pisangnya sudah ada dalam perutku."


Aneeq terkekeh kecil, merasa lucu dengan ucapan Jennie. Karena terlalu gemas Aneeq menggigit dagu Jennie, dan beralih mengecup bibir wanita berdada besar itu. Ya, besar! Apalagi di masa kehamilan seperti sekarang, Aneeq semakin kekenyangan.


"Ya sudah, aku akan cari pisang di bawah."


Jennie mengangguk patuh, lalu melepas kepergian Aneeq untuk mengambil pisang yang ia inginkan. Tak butuh waktu lama, Aneeq sudah kembali dengan beberapa buah pisang di tangannya.


Aneeq duduk di sisi ranjang, dan langsung mengupas buah berwarna kuning panjang itu, lalu menyerahkannya pada Jennie.


"Rasakan perbedaannya, aku berani jamin lebih enak pisang milikku. Sudah panjang, besar, berkualitas tinggi lagi."


"Ish, An!"


Aneeq hanya terkekeh sambil menatap Jennie yang mulai memakan pisang tersebut. Wanita itu cemberut, tetapi tetap mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. Hingga tiga pisang habis, Aneeq langsung menyeret Jennie ke arah sofa.


"An, kamu mau apa?"


"Pisang keempatmu!" ucapnya sambil memamerkan kegagahan si anaconda.