
Cukup lama El dan Caka berada dalam satu bathtub, air hangat itu senantiasa menemani ciuman panas keduanya, hingga mereka benar-benar menyelesaikan ritual membersihkan diri tersebut.
Tubuh mereka terasa lebih segar, Caka sedikit mengibaskan rambutnya, lalu mengecup bahu El saat wanita itu sedang melilitkan handuk untuk menutup tubuhnya.
"Kak, apa kamu lapar?" tanya El. Caka tak langsung menjawab, pria itu lebih dulu membungkukkan badan, meraih tubuh El untuk digendongnya. El langsung melingkarkan tangan di leher Caka, hingga pria itu menurunkannya di sisi ranjang.
"Cacing Alaskaku sudah kekenyangan, tapi kalau cacing yang di dalam perut belum, dia masih keroncongan," jawab Caka sambil berbisik tepat di telinga istrinya. Membuat wanita itu merasa geli, El beringsut sambil terkekeh dia mencubit hidung mancung Caka, tetapi lagi-lagi dia mendapat balasan sebuah kecupan.
"Aku lapar, Kak, aku ingin makan mie instan. Apa kamu juga menginginkannya?"
"Boleh, kalau begitu cepat pakai pakaianmu, kita turun ke bawah, aku akan memasakkan mie instan spesial untuk istriku." Caka mengusak puncak kepala istrinya, membuat El mengulum senyum.
Bersama Caka dia berubah menjadi seorang ratu, sebab apa yang dia mau, akan selalu Caka kabulkan. Bahkan hingga urusan pakaian, pria itu sendiri yang mengambilnya di dalam lemari.
Caka kembali melangkah ke arah El dengan satu set pakaian tidur beserta perlengkapan lainnya. "Apa perlu aku yang memakainya?"
Mendengar itu, seketika bola mata El langsung memicing. "Ish, tidak perlu, balikan badanmu dan jangan berani melihat apapun!" cetus El, andai dia menerima, pasti lebih panjang lagi ceritanya.
Caka menarik sudut bibirnya ke atas, dia membalikkan badan dan memakai pakaiannya sendiri. Tidak ada yang ditutup-tutupi lagi, Caka dengan santai memperlihatkan semuanya, toh mereka juga baru selesai mandi bersama.
Setelah berpakaian lengkap, El dan Caka melangkah menuju dapur. Sudah tidak ada siapapun di sana, bahkan lampu utama telah dimatikan, menandakan semua orang sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.
"El, kamu mau yang mana? Rebus atau goreng?" tanya Caka sambil membuka lemari tempat penyimpanan bahan-bahan makanan yang serba instan.
"Aku ingin mie rebus, pakai telur dua yang setengah matang, jangan lupa pakai sayuran, dan jangan lupa kasih cabai," jelas El dengan serentetan keinginannya.
Caka sampai mendesaah mendengarnya. Pria itu mengambil dua bungkus mie, 3 telur dan juga sayuran dari dalam kulkas. Kemudian mengambil pancil kecil dan mulai berkutat untuk memasak air.
Ada Aneeq dan Jennie yang menuruni anak tangga. Aneeq beberapa kali mengibaskan wajah untuk mengusir kantuk, sementara di sampingnya Jennie terus mencebikkan bibir.
"Kalau tidak ikhlas ya sudahlah, aku naik lagi aja!" ketus Jennie, melihat Aneeq yang terlihat malas-malasan.
Mendengar itu, Aneeq langsung menahan Jennie yang sudah ingin kembali ke atas kamar. Satu yang harus dia miliki sekarang, yaitu stok rasa sabar.
"Ikhlas, Sayang, ikhlas. Ini buktinya aku rela keluar untuk menemanimu membeli es krim, tapi kalau tidak ada toko yang buka jangan marah-marah yah."
Aneeq berbicara selembut mungkin, agar Jennie mau mendengarkannya. Namun, posisi pria itu sepertinya memang serba salah, karena Jennie malah mendengus kasar dan melayangkan tatapan tajam.
"Kalau tidak ada ya cari lah, An. Masa kamu mau menyerah begitu saja."
"Iya-iya My Jennie Oh Jennie, sekarang kita berangkat! Sudah jangan mengomel terus, kasihan Baby-nya. Pasti dia juga ikut lelah." Aneeq merangkul bahu Jennie dan mencoba untuk mengelus perut wanita itu.
"Ya aku mengomel kan gara-gara kamu!"
"Aku pria, aku salah," jawab Aneeq pasrah, Jennie melirik sekilas suaminya, dia melepaskan tangan Aneeq lalu melangkah lebih dulu untuk masuk ke dalam mobil.
Saatnya penyiksaan untuk sang calon ayah.
***
Sabar ya, Bang, sabarπππ