
Sinar matahari membias dari celah jendela yang berhasil Jennie buka. Membuat mata Aneeq menyipit karena indera penglihatannya terasa tergganggu oleh cahaya itu.
Ia bergumam dengan suara parau, mencari kesadaran. Hingga tiba-tiba dia tersentak, menyadari bahwa hari sudah pagi bahkan menuju siang.
Aneeq langsung terduduk seperti orang linglung. Dia menatap sekeliling dan tidak ada Jennie di sana. Apa semua itu hanya mimpi? Aneeq menepuk-nepuk pipinya, berharap apa yang terjadi adalah kenyataan, tentang lamaran, pernikahan, ciuman.
"Jen!" teriak Aneeq dengan wajah gelisah, dia memang melihat kelopak bunga mawar yang bertebaran di mana-mana, tetapi di mana wanitanya? Kenapa tidak ada?
"Jen, kamu di mana, Sayang? This is not dream," pekik Aneeq dengan suara yang begitu menggema. Pria itu baru saja berhenti bergerak, begitu mendengar suara pintu yang baru saja terbuka.
Ceklek!
Jennie yang terburu-buru karena Aneeq memanggil sebegitu kerasnya, hanya memakai handuk dengan asal. Kening wanita itu berlipat-lipat, dan melihat Aneeq yang seperti orang bingung.
"An, ada apa? Kenapa memanggilku sekeras itu?" tanya Jennie.
"Jen, kenapa tiba-tiba sudah pagi?"
"Lho kok kenapa? Ya karena semalam kamu tidur, dan sekarang sudah pagi," jelas Jennie semakin tidak mengerti dengan pertanyaan Aneeq yang terdengar sangat aneh.
Aneeq melebarkan kelopak matanya. "Tidur?" Ulang pria itu.
Jennie mengangguk cepat.
Aneeq langsung berdecak keras dan memukul udara dengan sebegitu kesalnya. Pasti ada yang mengerjainya lagi, kenapa bisa dia malah tertidur di malam pertama. Padahal waktu itu adalah hal yang paling ditunggu-tunggu dalam hidupnya.
Nafas Aneeq terengah-engah, ia mengangkat kepala dan melihat Jennie yang masih mematung. Seketika ia tersadar, bahwa ada pemandangan indah di depannya. Aneeq meneguk salivanya saat melihat lekukan tubuh Jennie yang begitu sempurna.
Pria itu terus memindai pahatan indah itu, dari mulai ujung rambut hingga ujung kaki, semuanya tampak sangat mempesona. Apalagi saat matanya berpusat pada buah semangka favoritnya, dua gundukan itu menyembul tanpa tahu malu, karena handuk yang Jennie pakai terlihat lebih kecil dari ukuran dadanya.
Pria itu membuang jas dengan sembarang, sementara tatapannya tak putus pada tubuh Jennie yang sangat indah dan menggiurkan. Tanpa membuang kesempatan, Aneeq dengan langkahnya sudah sampai di hadapan tubuh Jennie. Secara reflek wanita itu memegang handuknya, dan menatap mata Aneeq yang sudah bergairah.
"An," panggil Jennie dengan lembut, Aneeq tak menyahut dia malah menempelkan jari jemarinya di wajah Jennie, dan menelusuri pahatan wajah wanita itu. Hingga telunjuknya bermuara di bibir ranum yang terlihat merah merekah.
"Baiklah, tidak ada malam pertama. Tapi aku akan meminta pagi pertamaku," ucap Aneeq dengan suaranya yang memberat, membuat ketenangan bulu-bulu roma milik Jennie terusik, karena dengan mudahnya mereka meremang lengkap dengan geleyar.
Jennie sedikit mendorong dada Aneeq, memberikan jarak di antara mereka. "An, tapi kamu belum mandi, tubuhmu lengket semua."
Aneeq menyeringai penuh. "Kalau begitu mandikan aku!" Titah pria tampan itu, dia memangkas jarak dan tiba-tiba menyerang dengan membabi-buta, dia mendorong Jennie untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan bantuan bibirnya.
Pria itu terlihat sangat bersemangat, tak hanya meraup bibir Jennie, dia juga menguluum, menyesap dan mencium dengan sangat rakus, seperti seseorang yang tengah kelaparan.
Jennie yang terlalu terkejut dengan serangan dadakan suaminya hanya mampu untuk bergeming, dia belum bisa menyesuaikan gerakan Aneeq yang terasa begitu kasar tetapi memabukkan.
Dengan tangan lihainya Aneeq menarik handuk Jennie dan membuangnya ke sembarang arah. Tanpa berlama-lama bibir pria tampan itu menyusuri leher jenjang Jennie, dan membuat tanda kepemilikan di sana.
Jennie mengerang kecil dan meremass dada Aneeq, membuat pria itu semakin bersemangat mencumbunya. Kini Jennie tak bisa diam, sebagai seseorang yang sudah berpengalaman Jennie membantu Aneeq untuk membuka pakaiannya, tangan langsing itu dengan cepat mempreteli kancing kemeja Aneeq, hingga dada bidang pria tampan itu terekspos bebas.
Lidah Aneeq berlarian dan semakin turun, menuju pucuk buah semangka yang dia idam-idamkan. Aneeq menggenggam dua bongkahan itu dan melumaat bulatan kecil yang ada di tengahnya dengan penuh penghayatan.
"Ah," Jennie mendesaah mengekspresikan buncahan gairah di dadanya. Dia semakin membusung meminta Aneeq agar melahap dua gundukan miliknya.
Dari bawah sana Aneeq memperhatikan wajah sensual Jennie yang memerah. Nafas pria itu memburu, dia mendongak dan mendorong Jennie untuk merapat ke dinding, lalu menyalakan shower, hingga air mulai berjatuhan membasahi tubuh mereka.
"Aku beri waktu padamu untuk memandikanku, setelah itu aku tidak menerima alasan lagi, aku akan melakukannya sesuka hati."
Glek!