
Akhirnya setelah dibujuk Jennie mau mendengarkan ucapan Aneeq. Mereka menyelesaikan masalah tersebut dengan cara kekeluargaan. Malvin dan Selena diundang masuk. Akan tetapi untuk sementara waktu Ziel tidak turut dihadirkan.
Di ruang keluarga, ada Ken dan Bee yang menemani Jennie dan Aneeq. Aneeq mempersilahkan kedua orang itu menceritakan kronologi lengkap, yang menyebabkan Ziel tiba-tiba berada di panti asuhan.
Dengan senang hati Selena dan Malvin menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tidak ada yang ditutup-tutupi sedikitpun, semuanya terlihat sangat transparan. Sampai di penghujung cerita, di mana mereka menganggap bahwa Ziel benar-benar sudah tiada.
"Maka dari itu, kami siap untuk melakukan test DNA jika kalian memang memintanya. Tapi sebelumnya, aku minta maaf, Nyonya, bukan maksudku datang lalu tiba-tiba ingin meminta putraku kembali, aku dan suamiku sadar, bahwa kalian yang membesarkannya, karena ibu panti telah menceritakan semuanya ...."
"Tapi sebagai ibu." Ucapan Selena terpotong karena dia terus menangis dengan ludah yang tercekak di tenggorokan. Wanita itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan isaknya yang terdengar semakin kencang.
"Aku tidak bisa bohong, Nyonya, sebab aku yang mengandungnya, menjaganya hingga bertaruh nyawa untuk melahirkannya. Aku merindukannya, sungguh aku sangat merindukannya. Dan satu lagi, aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya saat aku dipanggil Mama oleh darah dagingku sendiri."
Selena tak bisa menahan sesak di dadanya. Tangis wanita itu kembali pecah saat sebuah harapan kecil itu terucap. Malvin memeluk istrinya dan memberikan kekuatan, dia juga ikut menangis. Sebab dia tahu bagaimana perjuangan istrinya. Bahkan untuk pulih dari stres, Selena membutuhkan waktu yang cukup lama.
Sementara di tempatnya, Jennie seperti tidak bisa bernafas, dia menutup mulutnya dengan satu tangan. Jennie tak kalah sedihnya, tak pernah menyangka bahwa akan ada cerita seperti ini. Sesaat dia merasa menjadi seseorang yang paling merana. Namun, setelah mendengar ungkapan Selena, entah kenapa dia malah merasa cukup egois.
Semua orang terdiam, Aneeq memeluk tubuh Jennie dengan sangat erat. Hingga wanita itu akhirnya sesenggukan, dengan air mata yang terus mengalir lancang. Dada Jennie terasa sesak, dia mencengkeram pakaian suaminya. "An ...." Lirih Jennie, mencoba mencari ruang keikhlasan dalam hatinya.
"Kita tidak tahu kenapa masalah ini datang tiba-tiba. Tapi ingat satu hal, dibalik semua ini pasti ada keajaiban," ucap Aneeq lalu mengecup puncak kepala istrinya dengan begitu dalam. Jennie memejamkan matanya kuat-kuat, rasa sakit akan kehilangan Ziel semakin mendera. Dia seperti buah simalakama.
Jennie tak dapat bicara, dia hanya bisa menangis dalam pelukan Aneeq dengan otak yang terasa sangat kusut. Aneeq menghela nafas panjang, dia menatap ayah dan saudara kembarnya. Mereka kompak mengangguk, memberi dukungan apapun keputusan yang akan disepakati, karena semua itu pasti akan menjadi yang terbaik.
"Tuan Malvin dan Nyonya Selena. Kita sudah sepakat untuk mengambil jalur kekeluargaan. Tapi sebelumnya, untuk meyakinkan bahwa Ziel adalah anak kalian, saya meminta kalian tes DNA. Dan seperti yang Nyonya Selena ucapkan. Anda tidak bisa mengambil Ziel dengan cara paksa, karena memang ada beberapa alasan yang kuat. Pertama, Ziel tidak akan menerima ini dengan mudah. Kedua, karena istri saya yang merawat dia ...."
"Saya tahu bagaimana istri saya merawat anak kalian. Anda mungkin bertaruh nyawa untuk melahirkannya. Tapi, saya bersumpah bahwa istri saya juga menjaga Ziel dengan seluruh jiwa dan raganya. Jadi, saya tidak akan membiarkan kalian mengambil Ziel dengan seenaknya. Kita ambil jalan tengah saja. Jika memang hasil tes DNA itu positif ...."
Aneeq merasa sebuah remasaan kuat di dadanya. Dia menjeda sejenak, walaupun terasa berat, tetapi dia tidak bisa dalam kubu sebelah pihak.
"Saya dan istri saya akan pelan-pelan memberikan pengertian pada Ziel, bahwa kalian adalah kedua orang tua kandungnya. Kalian boleh membawanya, kalian juga boleh mengajaknya tinggal bersama. Tapi ingat, kalian tidak berhak untuk melarang kami menemuinya. Apalagi sampai membuat Ziel tertekan dan merasa terpaksa. Karena saya, akan memastikan sendiri bahwa anak dan istri saya selalu bahagia."
Mau tidak mau Malvin dan Selena pun setuju. Mereka malah bersyukur, sebab kedua orang tua asuh Ziel bisa menerima mereka dengan tangan terbuka.
Sementara tubuh Jennie terasa lunglai, mau bagaimana dia tidak berhak atas Ziel sepenuhnya. Hingga perlahan dia berusaha untuk membuka pikirannya. Ya, dia tidak boleh memikirkan dirinya sendiri. Dia juga harus merasakan perasaan Selena. Ibu kandung dari anaknya.
Sebagai sesama wanita, dia bisa merasakan bagaimana sakitnya kehilangan seorang anak. Maka dari itu, keputusan ini harus dia terima dengan lapang dada. Apalagi setelah ia mendengar ucapan suaminya. Dia yakin, Aneeq telah memikirkan yang terbaik untuk mereka.