My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 74


Sore hari setelah pulang dari perusahaan, Aneeq tak langsung pulang ke mansion. Dia juga tidak mengantarkan Jennie, karena wanita itu berniat untuk bertemu dengan Lora. Membahas tentang rencana mereka, Jennie tidak mau berlama-lama lagi dengan masalah satu ini, rasanya dia sudah sangat jengah.


Sementara Aneeq pergi untuk menemui salah satu rekan bisnisnya, yakni dari perusahaan Antarakna Group, perusahaan yang kini dipegang oleh Arshaka Dastan Antarakna. Ada acara kecil-kecilan untuk merayakan kehamilan istrinya. Dan beberapa rekan bisnis pria itu diundang untuk memeriahkan acara tersebut.


Acara itu dimulai jam 4, itu artinya Aneeq akan terlambat kurang lebih satu jam. Ya, tidak apa-apa, yang penting dia datang untuk mengucapkan selamat, juga memenuhi undangan.


"Di mana lokasi acara itu, Ca?" tanya Aneeq sambil menyandarkan kepala di punggung kursi, merilekskan otot-otot dalam tubuhnya.


"Di salah satu hotel milik Antarakna Group, Tuan. Tepatnya di jalan Manggal A," jawab Caka apa adanya, Aneeq tampak manggut-manggut.


Dia melirik spion, sekilas dia melihat ada mobil hitam yang terlihat mencurigakan. Mata Aneeq menyipit, dia kembali menegakkan tubuhnya, lalu menoleh ke belakang.


Aneeq menyeringai tipis. "Ca, sepertinya kita akan main-main dulu sebentar. Coba cari jalanan yang sepi." Titah Aneeq, Caka merasa ada yang tidak beres dengan perintah Aneeq. Dia ikut melirik ke arah spion sebelah kanan. Dan dia mulai paham.


"Baik, Tuan," ucap Caka, lalu memutar kemudi ke arah kiri, mencari jalan yang cukup sepi, memastikan bahwa mobil hitam itu memang mengikuti mereka.


Dan ternyata benar, mobil itu mengikuti ke mana pun mereka pergi. Aneeq kembali menyeringai tipis, ada yang ingin bermain-main dengannya. Kita lihat saja. "Cih, aku tahu siapa yang mengirim mereka, sudah sangat jelas siapa orangnya. Dasar tidak tahu diri, bukannya berpikir malah mencari masalah dengan lawan yang bukan sepadan dengannya." Cibir pria tampan itu.


Dia mulai mengeluarkan senjata api yang tersimpan di saku jasnya. Memutar dan pura-pura membidik. "Kalau aku melubangi kepala mereka, seru tidak yah, Ca?"


Caka menarik sudut bibirnya ke atas, ini dia yang dia suka dari Aneeq, percaya diri yang tinggi, juga tipe pekerja keras, sebelum mendapatkan apapun yang dia inginkan, maka jangan harap Aneeq akan berhenti.


"Itu tidak seru, Tuan. Kamu bilang ingin bermain-main dulu?" jawab Caka, membuat Aneeq terkekeh, lalu memukul bahu Caka dengan ujung pistolnya.


"Betul juga kamu, Ca. Kita berhenti di depan sana, aku ingin lihat seberapa hebat tikus-tikus itu menangkap ular licin sepertiku," titah Aneeq seraya menunjuk bangunan tua yang ada di depan sana, Caka langsung melandas ke tempat tersebut, sesuai dengan keinginan sang tuan.


Caka memakai kecepatan tinggi, hingga membuat mobil hitam itu tertinggal di belakang.


"Hei, ayo cepat kejar! Jangan sampai kita ketinggalan jejak!" cetus salah satu dari mereka yang hanya berjumlah dua orang saja.


Seseorang yang ada dibalik kemudi pun menurut, dia menambah kecepatan. Hingga sampailah mereka di depan bangunan tua yang dimaksud oleh Aneeq tadi. Mereka melihat mobil pria itu terparkir di sana. Lalu ke mana orangnya? Apakah mereka sadar, kalau sedang dibuntuti?


"Bos, bagaimana ini? Apa kita keluar?" tanya bawahan pria itu.


"Tentu saja, kita harus memeriksa mobil itu. Lagi pula, kalau mereka macam-macam kita tinggal hajar habis-habisan," cetusnya percaya diri, lalu melangkah keluar lebih dulu, mereka mengendap-endap, begitu waspada dengan situasi sekitar.


Namun, semuanya terasa sunyi, hanya ada beberapa pengendara yang melintas dan memilih tidak peduli dengan aksi mereka. Saat mereka sampai didekat mobil Aneeq, salah satu dari mereka memeriksa mobil tersebut.


"Tidak ada, Bos."


Mereka merasa aneh, lalu mencoba membuka mobil tersebut.


Ceklek!


DOR!


Bersamaan dengan itu, suara tembakan yang diarahkan ke mobil mereka mengagetkan kedua orang itu. Mereka langsung tiarap, sementara kaca mobil sudah berhamburan di tanah.


"Sial, pasti mereka bersembunyi!" Umpat si Bos, lalu dia mengajak bawahannya untuk menyusuri gedung tua itu. Tak masalah kalau lawan mereka membawa senjata, toh mereka datang pun bukan dengan tangan kosong.


Mereka kembali mengendap-endap, melangkah dengan penuh kehati-hatian, mereka sudah sering melakukan kejahatan, jadi hal seperti ini sudah tidak terlalu membuat mereka gentar.


"Cih, berani juga yah mereka. Ca, kamu ke sebelah sana," titah Aneeq di tempat persembunyiannya, dia meminta Caka untuk berpencar, karena musuh yang menyerang mereka pun kebetulan ada dua orang.


Aneeq menyeringai tipis saat pria botak itu terus melangkah mendekat ke arahnya, dia mulai memasang kuda-kuda, siap untuk menyerang.


Pria tampan itu mulai merasa tak sabar, rasanya lama sekali pria botak itu melangkah, ingin rasanya Aneeq menariknya. Aneeq merapatkan tubuhnya ke dinding, dan pada saat pria itu datang, Aneeq langsung melayangkan kakinya.


BUGH!


Dia melangkah dengan kaki seribu, dan langsung memegangi kepala pria itu, membekapnya dengan kaos kaki. "Hah, rasakan! Ini adalah racun tikus mematikan, karena aku belum mencucinya selama seminggu!"


*


*


*


Yang mau kenalan sama Abang Shaka pemilik Tyrex yang doyan makan apem kukus, yuk tengok ke novel di bawah 😗😗😗