
Sepertinya kesialan akan terus menimpa ketiga saudara kembar itu, karena begitu sampai mansion, mereka langsung dihadang oleh sang ibu yang sudah memegang sapu.
Mereka kompak meneguk ludah, dengan wajah pucat pasi, belum hilang rasa sakit yang mereka terima, kini ketiga pria tampan itu harus berhadapan dengan Zoya.
Urusannya bisa panjang kalau wanita beranak lima itu sudah marah. Mereka akan dilibas habis, atau mungkin tidak dapat istirahat di kamar masing-masing.
Bee, Choco dan De saling dorong mendorong, siapa kiranya yang melangkah lebih dulu. Wajah Zoya nampak seram, membuat ketiganya takut setengah mati, ini semua gara-gara Aneeq. Akan tetapi si pembuat ulah malah belum pulang, dan masih mengurusi wanitanya.
Benar-benar merepotkan!
"Bee, kamu dulu! Kamu kan Kakak kami!" ucap Choco sambil mendorong Bee agar lebih maju. Lalu dia meminta dukungan dari De.
Bee mendengus, kalau sudah seperti ini ribut siapa yang keluar duluan. "Ck, sialan! Kenapa kalian mengambinghitamkan aku?" Cetus pria berkacamata itu.
"Bukan seperti itu, Bee. Tapi dari urutannya, memang harus kamu duluan! Aku yang terakhir," timpal De, dan langsung mendapat anggukan dari Choco.
Bee mengeratkan gigi gerahamnya, membuat gerakan ingin memukul, tetapi urung begitu mereka mendengar dengan jelas teriakan sang ibunda ratu.
"Bizard, Chow Branson, Derrick, kemari!!!"
Zoya yang sudah mengurus si kembar selama 25 tahun pun sudah sangat mengenali anak-anaknya. Dia bahkan tahu, tidak ada Aneeq di sana. Pokoknya hanya dia yang tahu, letak perbedaannya di mana.
Padahal author yang mengarang saja bingung minta ampun.
Dengan langkah pendek-pendek mereka akhirnya berjalan mendekat ke arah Zoya. Sang ibu memang tidak begitu garang dari sang ayah, tetapi walaupun seperti itu mereka semua tidak ada yang berani melawan ucapan Zoya.
"Masuk! Seperti biasa, berdiri dan tarik telinga kalian!" pekik Zoya saat ketiga pria dewasa itu sudah berada di ambang pintu.
Namun, hukuman yang mereka dapat masih termasuk ringan, jangan sampai mereka disuruh mencuci piring seperti Aneeq, yang ada piring kesayangan Zoya akan habis mereka pecahkan, kalau sudah seperti itu, hukuman malah akan semakin bertambah besar.
"Habis ke mana kalian?" tanya Zoya, sambil menepuk-nepuk pelan gagang sapu di telapak tangan. Mereka semua sudah seperti anak sekolah yang dipanggil ke ruang BK, suasananya biasa saja, tetapi terasa mencekam karena bingung harus menjawab apa.
"Ayo jawab! Jangan beraninya hanya kabur, tapi kalian tidak mau bertanggung jawab atas apa yang kalian lakukan!" sambung wanita itu sambil menungkik tajam.
"Bee!"
"Nggak, Mom. Eh iya maksudnya," jawab Bee terbata.
"Habis dibawa ke mana dua adik nakalmu ini?" Zoya sudah bersedikep, menatap ketiga putranya dengan sengit. Membuat Bee susah sekali mengeluarkan suara.
"Anu, Mom_"
"Anu-anu, jangan anu-anu. Jawab yang jelas!"
"Kita keluar sebentar cari angin, Mom." Bee mulai bicara asal-asalan. Karena tiba-tiba konsep jawaban untuk melawan Zoya hilang. Padahal dia sudah mengantisipasinya, bahkan dihafal.
Zoya menarik sudut bibirnya ke atas. Melihat wajah anak-anaknya yang sedikit babak belur, mana mungkin dia percaya begitu saja. "Cari angin yah? AC di kamar kalian rusak?"
Glek!
Choco menyenggol lengan Bee, karena merasa alasan yang dipakai tidak masuk akal. Pria itu mendelik, sudah pasti ibunya tahu kalau mereka telah berbohong. Masalah akan semakin runyam.
"Lho, Mom. Kenapa mesti buka baju?" tanya De, sedikit memberikan protes, tetapi mulutnya langsung kicep, begitu melihat pelototan maut dari ibunya.
"Katanya kalian keluar cari angin. Biar anginnya masuk dengan sempurna, kalian buka baju saja!" cetusnya dengan wajah tanpa dosa.
"Tapi, Mom_"
"Mommy hitung sampai lima, kalau belum buka baju juga, Mommy suruh kalian berenang di kolam ikan!"
Deg! Deg! Deg!
Secepat kilat ketiga orang itu langsung membuka baju dan melemparkannya begitu saja, menampilkan otot-otot perut mereka yang terlihat sempurna. Namun, Zoya tidak akan mungkin terpesona, karena dia sudah kenyang melihat itu semua.
Zoya menepuk-nepuk pelan perut Bee, Choco dan De. Sementara mereka hanya diam saja.
"Daddy!" panggil Zoya.
"Iya, Sayang," jawab Ken yang sedari tadi memang sudah mengintip dari celah kamar, dia hanya menunggu saatnya untuk berperan.
Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu turun menapaki anak tangga, tetapi dia tidak mendekat ke arah Zoya dan ketiga anaknya.
Ken malah duduk di sofa sambil mensejajarkan kakinya.
"Sekarang tugas kalian adalah memijat Daddy!" ucap Zoya, membuat ketiga pria tampan itu langsung mengangkat kepala.
"Hanya satu jam!"
"HANYA?" kompak mereka.
Dan Zoya langsung mengangguk. "Kenapa? Mau membantah?"
"Tapi bagaimana dengan An, Mom? Dia juga ikut pergi bersama kami," protes Bee, merengek seperti bocah yang meminta keadilan.
"Kalian tenang saja. Mommy sudah punya hukuman yang bagus untuknya," jawab Zoya, yang membuat tiga saudara itu langsung tersenyum sumringah. Balas dendam mereka akan terealisasikan lewat Zoya.
"Sudah sana, pijat Daddy. Mommy akan mengawasi kalian."
"Iya, Mom," jawab Bee, Choco dan De serentak.
"Ayo anak-anak, Daddy butuh relaksasi sebelum membuat adik kecil untuk kalian," ucap Ken, yang langsung membuat ketiga putranya saling pandang.
Adik kecil apaan?
*
*
*
Yang belum tahu nama lengkap si kembar, alias Baby ABCDE nya Daddy Python, kalian bisa baca "GAIRAH SANG CASANOVA" 🍉🐍