My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Cacing Alaska #1


Malam hari, Caka baru saja sampai di mansion setelah menemui klien di luar kota. Di depan pintu dia sudah disambut oleh senyum sang istri yang mengembang dengan sempurna.


"Kakak!" panggil El dengan berjingkrak kegirangan. Melihat itu rasa lelah di tubuh Caka seolah menghilang, sebab sudah tergantikan dengan melihat wajah cantik istrinya.


Caka melangkah dengan satu tas di tangannya. Begitu sampai di ambang pintu, El langsung meraih tas itu. "Mana ciuman selamat datang untukku?" Tagih El dengan memajukan bibirnya.


Caka melihat sekeliling ada beberapa penjaga di sana.


"Aku akan memberinya di dalam, sekarang kita masuk."


Namun, bukannya menurut El malah menggeleng keras lengkap dengan bibir mencebik. "Tidak mau! Mau cium dulu."


"Ada banyak orang, El." Caka mengusap surai keemasan istrinya berharap El mau mengerti, bahwa dia bukanlah Aneeq yang tidak tahu malu.


"Biarkan saja, mereka tidak akan lihat. Pokoknya aku tidak mau masuk sebelum Kakak menciumku, aku kan sudah menyambutmu, bahkan aku berdiri di sini tiga puluh menit sebelum kakak datang, masa Kakak tidak mau menghargai usaha—"


Cup!


"Sudah. Hentikan protesmu. Sekarang kita masuk, okey?"


Pipi El langsung berubah merona, tidak apa-apa meskipun hanya di kening. Yang penting Caka sudah menciumnya, dan membuktikan pada semua orang, bahwa Caka pun mencintainya.


"Baiklah, ayo kita ke dalam." El langsung melingkarkan tangan di lengan Caka, dia bergelayut manja seperti kebiasaannya saat menyambut kedatangan Ken sepulang bekerja.


Sekarang semuanya telah berubah, karena semua kebiasaan itu berganti pada Caka. Bibir El senantiasa tersenyum lebar, karena merasa bahagia dapat menikah dengan pria yang mencintainya.


Tak berbeda jauh dengan Caka, karena terlanjur gemas pada istrinya, dia kembali melabuhkan ciuman di puncak kepala El. "Kamu sudah makan?"


"Belum, karena Kakak bilang ingin makan malam di rumah."


"Kamu menungguku? Apa tidak lapar?"


Mendengar itu, Caka tersenyum semakin lebar hingga mereka masuk ke dalam kamar. Caka langsung membuka jas karena dia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


"Aku siapkan air hangat," ucap El setelah menaruh tas kerja suaminya. Dia hendak melangkah ke arah kamar mandi, tetapi tepat pada saat itu Caka menarik lengannya.


El yang terkejut tak dapat mengelak, hingga sebuah sapuan lembut di bibir membuat kedua netranya melunak.


Pria ini memang tidak terlalu menunjukkan cintanya di depan orang lain, tetapi sungguh apa yang Caka lakukan untuknya sudah cukup membuktikan bahwa pria itu pun sangat mencintainya.


Caka menahan tengkuk El dengan kuat dan menyesap semakin dalam. Bohong kalau dia tidak merasa rindu dengan bibir ranum ini, karena selama di luar kota dia pun kerap memikirkan istrinya yang berada di rumah.


Rasanya ingin cepat-cepat pulang dan menghabiskan waktu bersama, tanpa ada yang mengganggu mereka.


"Aku memberikan apa yang kamu mau." Caka menjeda sebelum lumaatan dalam nan memabukkan kembali dia lepaskan.


Dia sedikit mengangkat tubuh El hingga wanita itu duduk di meja rias, tak peduli dengan beberapa barang yang berjatuhan mereka lebih dulu menuntaskan hasrat yang sudah menggebu di dada masing-masing.


"Kakak bersihkan tubuhmu dulu," ucap El mengingatkan Caka, dia menekan dada bidang pria itu berusaha untuk menahan. Dia bukan tidak mau, dia malah sangat ingin menghabiskan malam dengan suaminya. Bercinta dan berbagi peluh ke puncak nirwana.


"Setelah ini, Sayang. Aku menginginkanmu," jawab Caka, sudah menurunkan baju tidur istrinya hingga bertengger di lengan. Bagaimana El tidak luluh, jika pria dengan julukan kulkas berjalan ini selalu memanggilnya sayang saat ingin bercinta.


El meneguk ludah, saat Caka sudah membuang kemejanya ke sembarang arah.


"Tapi kita belum makan."


Caka malah semakin menyeringai, dia membuka penutup tubuh istrinya dengan melepas pengait di depan dada. Dia menghimpit El, hingga punggung wanita itu bersandar di cermin.


"Aku ingin memakanmu lebih dulu."


Ugh!