My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Hari Persalinan


Waktu berlalu begitu cepat, dan hari persalinan Zoya semakin bertambah dekat. Tepat pada hari ini, ibu hamil itu akan menjalani rangkaian operasi cesar untuk mengeluarkan bayi kembarnya.


Sudah sejak pagi Zoya berada di rumah sakit, ruangan VVIP yang sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Bahkan kini Zoya tidak memakan apapun lagi, sementara Ken senantiasa menemaninya.


Untuk yang kedua kalinya Zoya akan mengeluarkan bayi-bayi mungilnya untuk melihat keindahan dunia, tidak ada kegugupan di wajah wanita berkepala empat itu. Berbeda dengan sang suami yang terus menerus merengek sambil memegangi tangannya.


"Janji ya, Baby, kamu akan baik-baik saja. Aku sungguh takut," ujar Ken, menelungkupkan wajah di samping pembaringan Zoya.


Bayangan puluhan tahun lalu terlintas jelas di pelupuk matanya, saat sang istri berjuang untuk melahirkan buah cinta mereka yang berjumlah lima orang.


Bersyukur semuanya selamat, istri dan anak-anaknya dinyatakan sehat. Tanpa kekurangan apapun. Namun, sungguh dia akan menjadi orang yang paling tidak tega, setiap kali Zoya meringis kesakitan, tetapi wanita itu selalu berkata tidak apa-apa.


"Iya, Sayang. Kan aku sudah pernah melakukan operasi seperti ini. Percaya lah, tidak akan terjadi apa-apa," balas Zoya sambil mengelus punggung kekar Ken. "Kamu adalah sumber kekuatanku."


"Tapi kalau sakit bilang sakit yah. Jangan sembunyikan apapun dariku."


"Keluhkan semuanya padaku!"


"Jangan sungkan!"


"Iya, Daddy. Kenapa kamu semakin cerewet sih."


"Bukannya aku cerewet, aku hanya mengkhawatirkanmu."


"Iya, Dad, tapi dari pagi kamu sudah bicara seperti itu lebih dari 50 kali. Aku sampai bosan menghitungnya!" sambar Bee, saat ini semua orang pun ada di sana, sebelum dokter membawa Zoya ke ruang operasi.


Mendengar itu, Zoya pun terkekeh, berbeda dengan Ken yang langsung mendelik dan melemparkan buah apel yang ada di atas nakas.


"Keluar sana! Kamu tidak akan tahu kalau belum merasakannya," ketus Ken, dia merasa kesal karena kekhawatirannya malah dianggap main-main.


"Sudahlah, Bee, makanya kamu diam saja. Mau sebanyak apapun Pak Tua itu bicara jangan berani menimpalinya," bisik Choco untuk memperingati saudara kembarnya. Bahkan seharusnya mereka sudah hafal bagaimana sifat Ken, kalau sudah berhubungan dengan Zoya.


"Cih, iya-iya."


Bee akhirnya mengalah, dia bungkam dan kembali duduk tenang di sofa.


"Grandma!" panggil Ziel saat baru saja masuk ke ruangan Zoya, saat itu dia baru pulang sekolah. Dan tentu saja dia datang dengan ayah dan ibunya.


"Halo, Sayang."


"Grandma, apa anak Ziel sudah lahir?"


Mendengar itu, sontak saja semua orang tertawa. Kecuali Ken yang langsung melayangkan tatapan tajam ke arah bocah tampan itu. "Hei, hei, ini anak Grandpa."


"Tapi Grandma kan mau menikah dengan Ziel, itu artinya anak Ziel juga."


"Astaga, An!" Ken memutar bola matanya, kemudian menatap sang anak yang masih tertawa.


Aneeq kicep.


"Jangan dianggap serius, Dad. Dia memang sedikit terobsesi pada Mommy."


"Iya, Sayang. Kamu seperti tidak tahu anak kecil saja," timpal Zoya.


"Iya, tapi—"


"Hei, dia memang istriku!"


"Tapi kenapa tidak ada pesta pernikahannya?"


Astaga, pertanyaan Ziel kenapa membuat Ken sakit kepala. Pria paruh baya itu ingin buka suara, tetapi ternyata Zoya sudah dipanggil untuk masuk ke dalam ruang operasi oleh seorang perawat.


De datang dengan dokter Alana, kemudian membawa ibu hamil itu dengan menggunakan kursi roda.


Awalnya Ziel merengek ingin ikut, tetapi Aneeq dan Jennie langsung menahannya, hingga akhirnya Ziel menurut.


"Rileks ya, Mom. Semoga Mommy dan adik-adikku sehat semua," ucap De, membuat Zoya mengulum senyum.


"Iya, Sayang."


Cup!


Sebuah kecupan melandas, tetapi bukan De yang memberikannya, melainkan Ken yang kini mendorong sang istri untuk masuk ke dalam ruang operasi.


Hingga beberapa saat kemudian, ruangan itu berubah ramai dengan tangis yang bersahut-sahutan, saat kedua bayi Zoya berhasil dikeluarkan. Satu laki-laki dan satu perempuan.


Ken langsung menitikkan air matanya, kemudian menciumi wajah Zoya, sambil mengucapkan kata terima kasih sebanyak-banyaknya. Meskipun ia tahu, semua itu tak ada apa-apanya dengan perjuangan sang istri, untuk melahirkan buah cinta mereka.


"I love you, Zoya. I love you so much, My Baby."


Setelah dibersihkan akhirnya Zoya kembali ke ruang perawatan dengan membawa kedua bayi mungilnya.


"Wah, lihat adik kita lucu sekali, siapa namanya, Dad?" ujar El dengan wajah yang begitu sumringah.


"Kali ini Mommy yang akan memberi mereka nama," balas Ken sambil terus menghujani Zoya dengan ciuman.


"Siapa namanya, Mom? Soalnya aku juga sedang memikirkan nama untuk bayi kami," timpal Jennie.


Zoya pun mengulum senyum, dia menatap satu persatu anak dan menantunya.


Kemudian tatapan wanita itu jatuh pada kedua bayi mungil yang ada dalam gendongan Ken.


"Karena sebelumnya kalian adalah Baby ABCDE, jadi Mommy melanjutkan abjad dengan menamai mereka dengan Baby FG, Fierce De Lance Tanson untuk yang laki-laki, dan Gloria Rusell Tanetta untuk yang perempuan," jelas Zoya, membuat semua orang menatap takjub.


*


*


*


"Wah, nama uler-uleran juga ternyata," kompak mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wkwk cari dah tuh apa nama Ulernya 🤣🤣🤣


Hola Baby FG 🍓🐍