
"Maaf, Tuan. Kamu ini sedang apa? Ini di kantor, lagi pula siapa yang kamu sebut Priamu?" tanya Jennie berusaha melepaskan tangan Aneeq yang melingkar sempurna di perutnya.
Akan tetapi tidak semudah itu Jennie bisa lepas. Aneeq tidak peduli mereka berada di mana, yang jelas dia sedang bahagia karena Jennie mengakuinya. "Jen, tidak perlu memanggilku seperti itu. Lagi pula masa kamu lupa siapa yang kamu panggil sebagai Priamu, baru kemarin lho kamu mengatakannya."
Aneeq terkekeh mengejek, tak lupa tangannya yang sangat ramah mulai bergerilya, membuat Jennie tak segan untuk menaboknya. "Apa yang kamu bicarakan, An? Aku tidak mengerti, tanganmu juga kondisikan, ada asisten Caka di sini."
Mereka berdua sontak melihat ke sudut ruangan. Namun, ternyata dugaan Jennie salah, Caka sudah mengambil langkah seribu lebih dulu, sebelum Aneeq menyuruhnya.
Pria tampan itu kembali terkekeh, sementara Jennie sudah mencebik. "Lihat, tidak ada siapa-siapa di sini selain kita berdua. Apa kamu ingin lihat sesuatu yang besar, Jen?" Tanya Aneeq lagi, kening Jennie semakin mengerut.
Lama semakin lama, pria ini semakin terasa aneh. Dan Jennie sama sekali belum mengerti ke mana arah pembicaraan Aneeq.
"Yang besar apanya? Kamu jangan mengada-ada, An. Lepaskan aku, aku mau bekerja."
Aneeq melepaskan pelukannya, membalik tubuh Jennie dan menyudutkannya di sisi meja. Aneeq mengunci pergerakan wanita cantik itu, dalam kedipan matanya Aneeq menatap sekilas buah dada Jennie lalu kembali menatap wajah wanita itu.
"Bagaimana kalau hari ini kita bekerja sama?" tanya Aneeq yang terdengar sangat ambigu. Bukankah selama ini dia juga bekerja sama dengan Aneeq? Dia kan sekretaris pria itu, lalu kenapa Aneeq masih meminta mereka bekerja sama.
"Aku tidak mengerti maksudmu, An. Cepat lepaskan aku, atau aku akan menghajarmu," cetus Jennie, mulai merasa kesal dengan tingkah Aneeq. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, lengkap dengan wajah tak ramah.
"Ish, tega yah kamu. Ingin menghajar Priamu sendiri. Padahal kemarin kamu mengakui milikku itu besar, dan tidak ada apa-apanya dengan milik si Mike Mouse."
Mendengar itu, seketika otak Jennie langsung berputar, ingatannya tertuju pada ucapannya yang asal-asalan untuk menanggapi Lora. Tidak mungkin, apa Aneeq mendengar semuanya? Jangan bilang iya, please jangan!
Jennie mendelik, sementara Aneeq sedang menaik turunkan alisnya. Jennie berusaha untuk kabur, tetapi Aneeq kembali merengkuh pinggang ramping itu. "Bagaimana? Sudah ingat, siapa yang kamu sebut sebagai Priamu?" Tanya Aneeq tepat di telinga Jennie.
Wanita cantik itu langsung menggigit bibir bawahnya, wajahnya merah padam, karena merasa malu. Padahal dia hanya ingin terlihat keren di mata Lora. Ah, tidak! Kenapa bisa Aneeq tahu semuanya? Padahal pria itu bilang ingin menemui seorang klien.
"An, bukan begitu maksudku_"
"Tidak apa-apa, Jen. Aku suka kok."
"Sekarang, ayo lihat Anacondaku lagi, perhatikan baik-baik, betul tidak lebih besar dari milik si Mike Mouse," ucap Aneeq seraya menuntun satu tangan Jennie ke bawah sana.
Sial! Jennie berhasil memegang sesuatu yang sudah mengeras. Wanita itu langsung menarik tangannya, lalu berusaha menatap Aneeq, meski sebenarnya dia tidak sanggup karena terlalu malu. "An, dengarkan aku. Aku tidak bicara serius tentang itu, aku hanya_"
Cup!
"Aku tidak peduli." Lagi-lagi Aneeq memotong ucapan Jennie, tetapi kali ini dengan kecupan yang benar-benar membuat Jennie bungkam. "Karena perlu kamu tahu, setelah hari itu, kamu sudah aku cap menjadi milikku."
Tak ada jawaban.
"Hilangkan perasaan bersalahmu pada Michael dan coba terima aku. Karena aku akan selalu ada untukmu dan Ziel," sambung Aneeq, lalu mengangkat dagu Jennie untuk mencium bibir seksi itu.
Jennie hanya bisa membatu, dirinya mendadak bimbang, dia tidak menolak, juga tidak membalas ciuman Aneeq. Namun, pria satu ini selalu saja bisa membuatnya terbuai, Aneeq mengangkat tubuh Jennie ke atas meja kebesarannya.
Sementara satu jarinya berputar di pucuk dada Jennie, hingga mulut wanita itu reflek menganga lebar, merasakan sensasi yang menggeleyar.
Tubuh Jennie terasa lemas, dia akhirnya menjatuhkan tangan di kedua bahu Aneeq. Sementara pria itu memposisikan dirinya di antara kedua kaki wanita itu. Aneeq menyeringai tipis di sela-sela ciumannya, lalu melepas sejenak. "Jadi bagaimana? Mau bertemu Anacondaku tidak?"
BUGH!
*
*
*
Kena apanya tuh🤣🤣🤣