
Pagi di mansion keluarga Tan.
Semua orang sedang sarapan, kecuali sepasang pengantin yang baru saja pertama kali menuai puncak nirwana. Berlandaskan naluri masing-masing, keduanya berusaha menjadi si handal untuk mendapatkan kenikmatan.
Di meja makan.
Sebelum Ken mencari perhatian, si kecil Ziel sudah lebih dulu mencuri start. Dia duduk di samping tubuh Zoya, dan memulai sarapannya dengan senyum ceria.
Dengan senang hati Zoya menyuapi bocah tampan itu, sementara si bayi besar pagi-pagi sudah memasang wajah masam. Aneeq hanya bisa terkekeh pelan, merasa puas karena semalam tidak ada yang mengganggu kegiatan panas antara dia dan istrinya.
Namun, ketenangan keluarga besar itu tak berlangsung lama. Saat seorang satpam masuk ke dalam rumah. Menginformasikan bahwa ada sepasang suami istri yang mencari keberadaan Jennie.
Wanita yang dipanggil namanya langsung mengangkat kepala. Menatap pria paruh baya yang berseragam khas satpam rumah. "Sepasang suami istri? Apakah mereka sudah tua?" Tanyanya.
Sebelum pertanyaan itu dijawab, Aneeq menyentuh bahu Jennie, hingga mereka beradu pandang. "Mungkin Mama dan Papa. Ayo kita temui mereka." Ujar Aneeq, mengajak Jennie untuk keluar dan menemui orang yang mungkin adalah orang tua Jennie.
Namun, ada apa mereka pagi-pagi ke mari? Dan kenapa mereka tidak lebih dulu menghubungi Jennie?
Wanita itu terus menebak-nebak, Zoya bisa melihat banyak tanda tanya di kepala menantunya, hingga dia ikut buka suara. "Benar, Jen. Temui saja dulu, mungkin penting."
Jennie menghela nafas dan berusaha tersenyum, dia menganggukan kepala dan meraih tangan Aneeq yang terulur di depan tubuhnya. Kedua orang itu keluar dengan saling bergandengan, sementara Ziel tetap tenang di tempat duduknya dan menerima suapan dari Zoya.
"Ayo, habiskan. Sebentar lagi Ziel kan sekolah," ucap Zoya membuat pria kecil itu mengangguk sambil mengunyah makanannya.
Di luar sana, dua orang menunggu dengan harap-harap cemas. Raut wajah mereka terlihat penuh harap. Dan semakin berbinar kala Jennie dan Aneeq keluar, mereka saling mengulum senyum. Sementara Jennie menatap kedua orang itu dengan lekat, Jennie mencoba mengingat-ingat di mana kiranya mereka bertemu.
Jennie mencoba untuk berpikir positif, sementara Aneeq beralih merangkul bahu istrinya. Dia berdiri dengan penuh wibawa sama seperti saat menghadapi kliennya.
"Ada yang bisa kami bantu? Satpam rumah bilang, kalian mencari istri saya? Ada apa?" tanya Aneeq begitu sopan, sementara sentuhannya terus meyakinkan Jennie bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
Kedua orang itu maju selangkah dan menatap Jennie dengan tatapan sedikit sendu. Pria yang berusia tak jauh dari Aneeq itu berdehem kecil. "Maaf, Tuan. Perkenalkan saya Malvin, dan ini istri saya Selena. Kami ke mari karena ada urusan dengan istri anda. Nyonya Jennie—"
Wanita itu mengangkat kepala, sorot mata Jennie berubah was-was, dan perasaannya mulai tak enak. Dia menatap Malvin, dan menunggu pria itu kembali bicara.
"Ini mengenai anak yang anda asuh, Nyonya."
Deg!
Jennie langsung berpegangan kuat pada ujung jas suaminya. Sementara bola matanya menatap nanar. Dia mulai kesulitan untuk menelan salivanya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf, Tuan. Bisa anda jelaskan dengan sejelas-jelasnya? Kalau anda bicara setengah-setengah, kami tidak akan bisa mengerti," ujar Aneeq, sudah merasakan kekhawatiran Jennie yang semakin menggunung.
Selena dan Malvin saling pandang. Tiba-tiba wanita itu bersimpuh di depan kaki Jennie, sontak saja hal itu membuat Jennie terkejut dan mundur beberapa langkah.
"Dia anakku, Nyonya," ucap Selena dengan tangis yang sudah pecah. Sementara dunia Jennie seolah berhenti begitu saja. Lelehan air mata turun, dengan gelengan kepala. Menolak takdir, bahwa Ziel memang bukan anaknya.
"Tidak!"