
BUGH!
"Ashhh!" Aneeq langsung memekik tatkala senjatanya terkena tendangan maut si wanita pemilik semangka.
Rasa ngilu bercampur mulas seketika memenuhi ruang sekitar area pangkal paha. Jennie sungguh tak main-main. Sekali hajar, telur si Anaconda seperti mau pecah.
Aneeq memegangi senjatanya sambil menggelengkan kepala.
"An!" panggil Jennie, tetapi pria tampan itu tak peduli.
"An, maafkan aku. Aku tidak sengaja, aku reflek tadi, apa rasanya sangat sakit?" tanya Jennie dengan gurat cemas, hampir saja Jennie memegang kepunyaan Aneeq tetapi pria itu langsung menghindar.
Dan hal itu membuat Jennie semakin merasa bersalah. Rasa kesal memang membuat Jennie ingin menghajar Aneeq. Akan tetapi bukan pada bagian itu, Aneeq terlihat meringis, tetapi mencoba untuk tersenyum.
"Tenanglah, Jen. Tendanganmu tidak sampai membuatnya pecah. Oh my God, aku tidak apa-apa. Jangan khawatirkan apapun," jawab Aneeq, dia membuang wajah agar Jennie tidak perlu melihat dia yang kesakitan.
Kali ini dia akan memakluminya. Yah, dilihat dari reaksi Jennie, wanita itu memang tidak sengaja melakukannya.
"An, bicara yang jujur." Jennie turun dari meja lalu menangkup kedua sisi wajah Aneeq, ingin mencari kesungguhan pada manik mata pria tampan itu. Namun, yang dia temukan hanya ringisan, tanda Aneeq tidak baik-baik saja.
"An, kamu bohong. Maafkan aku, aku tidak sengaja. Sumpah, An," ucap Jennie merasa bersalah. Bahkan tanpa segan, dia langsung memeluk tubuh Aneeq, membuat semangkanya berhimpitan dengan dada pria itu.
Sial! Jennie malah memancing Anaconda untuk bereaksi, padahal rasa mulasnya masih terus menggerogoti.
"Aku bilang aku tidak apa-apa, Jen. Aku tahu kamu tidak mungkin sejahat itu ingin merusak masa depanku," ucap Aneeq menenangkan Jennie, dia mengelus lembut punggung wanita itu, tetapi Jennie malah semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Aneeq.
"Maaf, aku sudah banyak salah. Harusnya aku sadar, walaupun kamu mesum, tapi kamu masih menghargai keputusanku, kamu juga sudah banyak membantu aku dan Ziel, nanti saja kita lihat Anacondanya yah, aku belum siap."
Eh!
Apa ini? Kenapa Jennie malah berbicara seperti itu? Apa artinya ini rejeki untuk sang casanova? Padahal awalnya dia hanya ingin menggoda Jennie agar berbicara jujur tentang video yang sedang beredar.
Akan tetapi yang dia dapatkan malah lebih dari itu. Ah, dia akan mendapatkan semangka, bahkan Jennie akan memberikannya dengan suka rela.
Kini dia harus bergerak cepat, membuat Michael dan Jennie bercerai, dan dia sudah memikirkan tentang itu semua. Dia punya rencana.
"Sudah, aku tidak apa-apa. Ini sudah tidak sakit lagi kok."
Yaiyalah, sudah dijanjikan seperti itu oleh Jennie, ya langsung sembuh. Coba kalau tidak! Aneeq sepertinya akan terus uring-uringan.
"Benar? Tidak bohong?" tanya Jennie sambil mendongak, bagai bocah balita yang merengek meminta maaf pada ibunya.
"Ish, An!"
Aneeq terkekeh. "Iya-iya, aku hanya bercanda. Kemari, kita duduk. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Pria itu menuntun Jennie untuk duduk bersama. Di kursi kebesarannya, Aneeq akan memangku wanita itu. Namun, Jennie terlihat ragu, dia berhenti dan tak mau maju.
"Ada apa? Hanya duduk," ujar Aneeq meyakinkan.
"Nanti itumu sakit tidak?" tanya Jennie ragu, dia menggigit bibir bawah sekilas, lalu menatap Aneeq yang mengulum senyum.
"Belum dicoba mana tahu. Kemari!"
Akhirnya Jennie menurut, dia duduk di atas paha Aneeq, dan tidak terjadi apapun pada pria tampan itu. Hah, tidak disangka, dari hari ke hari Jennie malah semakin nyaman dengan pria mesumm ini, meskipun kadang menjengkelkan, tetapi sekarang hanya pria ini yang paling bisa dia andalkan.
Aneeq melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang ramping Jennie. Manik matanya memindai lekuk tubuh wanita itu dari bawah, lalu naik ke atas dada. Tiba-tiba tangan Aneeq terangkat, dan Jennie reflek menangkisnya.
Aneeq tersenyum. "Aku tidak ingin main-main. Tapi tutuplah dadamu dengan rapat, ada banyak tikus-tikus di luar sana yang menginginkannya."
"Termasuk kamu!" cetus Jennie, lalu membenahi kemejanya yang kesempitan di area dada.
Pria tampan itu terkekeh, dan Jennie hanya mengernyit heran. Kini dia menyelamatkan semangkanya dari tatapan lapar Aneeq.
"Tapi ini memang akan menjadi milikku, 'kan?"
Jennie melengos, tak mampu untuk menjawab. Aneeq semakin menarik tubuh Jennie, hingga posisi mereka semakin terasa intim. Pria itu terus menatap pergerakan Jennie yang terasa sangat gusar.
"Jen," panggil Aneeq. Jennie bergeming, dan hanya melirik pria itu sekilas, "Jen, ayo menjalin hubungan denganku. Aku akan menjadi ayah Ziel dengan sungguh-sungguh."
Deg!
*
*
*
Awas kalo bohong, gue bareng emak-emak bakal tendang Anaconda lu!!! 😤😤😤
Yok, sekarang mah pencet-pencet aja dulu😌😌😌 Mumpung Senin, Senin oy Senin!!! inget nggak sih ini hari Senin 🙄