My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Anaconda #11


"Sayang, jangan cemberut terus dong, aku minta maaf," ucap Aneeq saat mereka sudah berada di dalam mobil, sambil fokus ke jalanan pria itu meraih tangan Jennie untuk dikecupnya.


Jennie terlihat mendengus dan semakin mengerucutkan bibirnya. "Itu karena kamu! Kalau aku minta apa-apa itu langsung dituruti jangan mengomel apalagi terlihat malas-malasan seperti tadi!"


Wanita hamil itu masih merasa kesal, sebab setiap dia menginginkan sesuatu Aneeq pasti lebih dulu berbicara panjang lebar. Ditambah suasana hatinya yang mudah sekali berubah-ubah, bahkan saking jengkelnya Jennie akhirnya hanya bisa menangis.


Dia juga tidak mengerti kenapa dirinya berubah drastis seperti ini, tetapi setiap kontrol ke dokter kandungan, mereka bilang semua itu normal.


"Iy—"


"Ini kan juga anak kamu, kita buatnya berdua, kamu jangan mau enaknya saja!"


Aneeq sudah mangap ingin bicara, tetapi Jennie lagi-lagi menyambar. "Aku bukannya tidak senang dengan keadaan ini, tapi kalau tidak dituruti rasanya itu sedih. Aku tidak tahu, kenapa aku jadi secengeng ini."


Jennie terlihat mengelap pinggiran matanya yang sudah basah. Dan hal itu membuat Aneeq panik. Dia segera menepikan mobil, lalu menghadap ke arah Jennie yang sudah terisak-isak.


"Sudah dong, Sayang. Kenapa malah menangis?" Aneeq berusaha untuk menghapus air mata istrinya. Dia jadi merasa bersalah karena nyatanya dia belum bisa jadi suami siaga.


"Aku kesel, tiap hari kayak gini, kamu juga capek 'kan ngadepin sikap aku yang kekanakan? Kamu harus bolak-balik perusahaan beberapa kali, setiap malam tidurnya aku ganggu. Kamu capek 'kan? Aku juga capek, tapi kalau tidak dituruti rasanya aku ingin menangis," keluh Jennie dengan sesenggukan.


Aneeq menghela nafas panjang, dia memejamkan mata sejenak dan memegang kedua bahu Jennie. "Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku reflek karena di perusahaan juga sedang banyak pekerjaan."


"Ya, aku tahu, aku memang menyusahkan."


"Tidak seperti itu, Sayang."


"Tapi kenyataannya memang seperti itu, kamu mengeluh karena aku menyusahkan, kamu pasti kesal setiap aku menelpon, iya 'kan? Iya 'kan, An?"


Pria itu tidak dapat berpikir lagi, otaknya seolah buntu untuk menghadapi kemarahan seorang wanita. Hingga yang bisa dia lakukan adalah menarik tubuh Jennie dan memeluknya erat.


"Memang kamu pikir ini yang ke berapa untukku? Aku juga baru pernah merasakannya, An."


"Iya-iya, Sayang. Maka dari itu, kita belajar sama-sama yah mengendalikan diri supaya tidak marah-marah. Aku sangat menyayangi kamu dan bayi kita, jadi tidak mungkin aku lelah untuk menuruti kemauan kalian," ujar Aneeq bicara dengan nada serendah-rendahnya. Agar Jennie merasa dia benar-benar tulus melakukan ini semua.


Bukankah mengeluh adalah hal yang wajar? Yang tidak wajar itu istri hamil malah selingkuh. Bukankah begitu ibu-ibu?


Mendengar ucapan Aneeq, Jennie berangsur tenang. Dia menarik diri dan menatap Aneeq dengan bola matanya yang memerah.


"Mau cium."


Aneeq langsung melongo mendengar rengekan Jennie. Dia sedikit melebarkan kelopak mata sambil berkata. "Kamu mau apa?"


"Mau cium, ihhh!"


Bibir pria tampan itu langsung melengkung sempurna. Tanpa menunggu Jennie kembali menagihnya, Aneeq langsung mencium bahkan melumaat bibir seksi istrinya. Dia juga sedikit memberi remassan di dada hingga membuat Jennie mendesaah.


Cukup lama berpagut hingga Jennie memisahkan bibir mereka lebih dulu. Suara decap nikmat itu terdengar nyaring, Aneeq mengelap sisa-sisa ciumannya di bibir Jennie menggunakan ibu jari. "Bagaimana? Apa masih ingin es krim."


"Tentu saja."


"Haih, aku kira sudah lupa."


****


Ya kali lupa, udah sampe nangis-nangis 🤣🤣🤣