My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 108


Aneeq melangkah mendekati bocah tampan yang terlihat sedang merasa kesal itu. Langkah pria itu diiringi senyum tipis, hingga ia sampai di depan tubuh kecil Ziel. Aneeq berjongkok untuk menatap Ziel dari jarak dekat.


"Hei, Boy. Ada apa denganmu? Apa kamu tidak merindukan Daddy?" tanya Aneeq sambil mengelus puncak kepala Ziel.


Ziel sedikit mengangkat wajah, menatap Aneeq dengan seksama. Ingin memastikan bahwa pria di depannya ini adalah sang ayah.


"Ziel rindu Daddy, tapi Ziel tidak tahu Daddy yang mana," ucap Ziel mengadu. Lalu tatapannya beralih pada ketiga pria yang sangat mirip dengan Aneeq. "Lihat, mereka semua juga mirip dengan Daddy Baru nya Ziel."


Mendengar itu, Aneeq terkekeh keras, bahkan kekehannya itu berubah menjadi tawa. Tak bisa dia bayangkan bagaimana bingungnya Ziel dan Jennie saat mereka berempat berkumpul dalam satu ruangan yang sama.


Aneeq meraih tubuh Ziel, hingga keduanya berhadapan. "Memangnya Ziel benar-benar tidak bisa mengenali Daddy? Ziel ingat siapa yang mengajari Ziel bermain ular-ularan?"


"Daddy An!" jawabannya cepat bahkan tanpa rasa ragu, dia ingat betul setiap ke kantor Aneeq, pria itu pasti mengajarinya main ular-ularan. Ular yang naik tangga, lalu makan semangka.


"Yang sering mengajakmu main kuda-kudaan?"


"Daddy An. Dan kudanya Uncle Ca!"


Aneeq terkekeh lagi, bahkan semua orang ikut melirik Caka. Hingga pria itu pun tersenyum seperti kuda.


"Yang sering menjemput Ziel sekolah dan mengajak Ziel makan siang?"


"Daddy An."


"Oke, pertanyaan terakhir, yang sering membuat Mommy kesal?" tanya Aneeq, berharap Ziel akan segera mengingatnya, melalui kebiasaan-kebiasaan yang mereka lalui bersama.


Mendengar itu, tiba-tiba senyum Ziel mengembang. Dia melepaskan tangan Aneeq dari tubuhnya dan menghambur memeluk tubuh kekar pria tampan itu. "Yes, yang ini benar-benar Daddy." Ucapnya kegirangan karena berhasil menemukan sang ayah.


Membuat semua orang terkekeh kecil, apalagi Jennie, wanita itu geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan terakhir yang Aneeq ajukan. Dasar pria menyebalkan!


"Tapi Ziel tidak usah khawatir, kalau Daddy An benar-benar tidak pulang, Uncle Bee pasti siap menggantikan," goda Bee pada bocah tampan itu. Namun, bukannya Ziel yang marah, Bee malah mendapat pelototan tajam dari Aneeq, seolah memperingatinya.


"Jangan bicara sembarangan, Bocah Tengil!" cetus Aneeq merasa tak terima.


"Dad," rengek Bee mencari pembelaan pada sang ayah yang tengah memeluk ibunya.


"Selagi itu bukan Mommy, Daddy tidak akan ikut campur," jawab Ken, yang membuat tawa semua orang semakin pecah. Zoya sampai mencubit perut pria paruh baya itu, hingga Ken mengaduh.


"Tapi kemarin anakmu sendiri yang menawari aku lho, An," timpal Choco ikut memanas-manasi Aneeq yang baru saja merasa bahagia karena bertemu dengan Ziel dan Jennie.


Aneeq melepaskan pelukan Ziel, ia bangkit dan senantiasa menggenggam tangan bocah tampan itu. Aneeq menatap saudaranya dengan sengit. "Berani kalian mendekati calon istriku, kulibas habis kalian!" Ancam Aneeq, tetapi bukannya takut Choco malah terkekeh. Bahkan Bee merasa memiliki sekutu sekarang.


"Apa kamu tidak ingat jasa kami dalam hubunganmu. Kami sampai babak belur, hanya karena berpura-pura menjadi penjahat. Cih, andai waktu bisa diputar aku tidak sudi disuap olehmu!" papar Bee dengan bertolak pinggang, karena dia yang paling tersiksa saat itu.


Mendengar itu, tak hanya Aneeq yang melebarkan kelopak matanya. Akan tetapi Jennie juga merasa terperangah. Apa katanya? Jadi penjahat yang datang ke kontrakannya itu bukanlah suruhan Michael? Melainkan orang-orang Aneeq yang tengah mengelabuhinnya.


"Bee, jaga mulutmu!" ketus Aneeq semakin melotot. Sementara semua orang hanya bisa menonton dengan gelengan kepala dan kekehan kecil.


Para pelayan mulai hulu hilir menyiapkan hidangan makan siang. Karena pesta di mansion keluarga Tan akan segera dimulai. Sebentar lagi anggota keluarga tersebut akan bertambah tiga orang. Yakni, Caka, Jennie dan juga Ziel.


"An!" panggil Jennie, merasa tak percaya kalau semua itu hanya rekayasa.


"Sayang, bukan seperti itu. Aku bisa jelaskan alasannya," jawab Aneeq cepat-cepat, tidak ingin kesalahpahaman terjadi kembali di antara mereka.


Sebelum Jennie kembali bicara, tiba-tiba Ziel memeluk kaki Aneeq, membuat Jennie terdiam dengan dahi yang mengernyit heran.


"Jangan salahkan Daddy, Mom. Daddy hanya ingin melindungi Mommy. Ziel dan Elly juga ikut-ikutan kok, Daddy menyuruh Elly pura-pura pingsan dan menyuruh Ziel menangis, ya 'kan, Dad?"


Aneeq langsung menepuk jidatnya. Kalau sudah berurusan dengan Ziel, pasti rahasianya bocor semua. Melihat itu, Zoya tergelak kencang, Ziel memang pria kecil yang menggemaskan.


Sementara Bee dan Choco sudah memegangi perut masing-masing, karena tak bisa menahan tawa melihat ekspresi wajah Aneeq yang terlihat kikuk, menghadapi calon anaknya.


"Sudah aku bilang, kamu pasti kena karmanya!" ucap Bee tanpa perasaan, ia terus tertawa sambil menabok sebelah bahu De yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kejahilan saudara kembarnya.


Aneeq mendengus kasar dengan bola mata menajam, melihat semua orang malah meledeknya. Namun, tatapan pria itu berubah saat melihat Jennie yang mengerucutkan bibir. "Sayang, pokoknya semua itu demi dirimu dan Ziel. Sumpah deh, aku tidak bermaksud apa-apa. Besok kita menikah yah?"


Bukannya merasa senang karena diajak menikah, Jennie malah menyedikepkan tangan di dada, seolah tak terima alasan Aneeq. "Cih bukannya waktu itu kamu cuma ngincer semangka?"


Deg!


Eh, iya itu juga maksudnya.


*


*


*