My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 43


**Disarankan habis buka**


Setelah berpakaian lengkap, Aneeq membawa Ziel ke dapur, untuk sarapan bersama. Dia tak mengajak Jennie sama sekali, hanya ada lirikan manis lengkap dengan senyum menggoda yang ditangkap oleh kedua netra wanita itu saat Aneeq melintas di hadapannya.


Setelah kepergian Aneeq, Jennie langsung memegangi dadanya, bisa jantungan dia lama-lama kalau Aneeq terus berada di sini, tetapi mengusirnya pun tidak bisa.


"Tenang, Jen, tenang. Kalau kamu terus seperti ini, dia malah semakin suka menggodamu," gumamnya menenangkan diri sendiri, agar tidak terlalu gugup saat bertemu dengan Aneeq.


Wanita itu menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Tak ingin membuang waktu semakin banyak, setelah itu Jennie melangkah, menyusul Ziel dan Aneeq.


Baru saja meyakinkan diri agar tidak terlalu menganggap kehadiran pria itu ternyata kenyataan berkata lain, saat melihat Aneeq mengambil makanan sementara sorot mata pria itu beralih menatapnya, Jennie langsung kelabakan.


Dia segera membuang muka, dan melangkah cepat menuju kursi meja makan. Seperti biasa, Elly tidak akan bergabung di sana, takut merusak suasana, atau lebih tepatnya kena semprot sang tuan, si tukang marah-marah.


"Nona Jennie, ini makananmu," ucap Aneeq sambil menyerahkan satu piring nasi lengkap dengan lauk pauk. Jennie ingin menolak, tetapi melihat senyum Ziel yang sangat ceria, cukup mengalahkan egonya.


"Terima kasih, Tuan," jawab wanita itu, masih berusaha bersikap seperti biasanya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.


Mereka makan dengan tenang, sampai akhirnya makanan tersebut tandas dari piring masing-masing. Setelah itu, Jennie langsung membereskan dan mencuci piring, sementara Ziel bersama dengan Aneeq.


Namun, tiba-tiba Jennie tersentak kaget, saat sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Dia hafal betul siapa pemilik tangan ini, tapi kenapa? Kenapa bisa dia di sini? Lalu Ziel di mana?


Jennie hendak meronta, tetapi pelukan Aneeq terasa semakin erat membuat Jennie tak bisa lepas, satu yang Jennie tahu, dia kalah tenaga.


"Jen," panggil Aneeq untuk pertama kalinya hanya memanggil dengan sebutan nama, tidak ada embel-embel 'Nona'


Jennie tak membalas, dia hanya mampu bergeming merasakan perasaan aneh saat Aneeq memanggilnya seperti itu, apalagi dalam posisi mereka saat ini, suara gemericik air menjadi satu-satunya pengisi di antara mereka yang masih bungkam.


"Tuan, tolong lepaskan aku!" cetus Jennie, berusaha memberontak lagi, tetapi Aneeq tetap mempertahankan pelukannya. Sebisa mungkin, dia harus memiliki waktu berdua dengan Jennie, tanpa Ziel di antara mereka.


"Jen, dengarkan aku dulu. Kita perlu bicara serius sekarang," ucap Aneeq, membujuk wanita cantik ini agar tenang.


"Apa yang akan kita bicarakan? Jangan membuang waktuku, apalagi ada Ziel di sini," jawab Jennie, meronta sekuat tenaga tetapi tetap tak bisa lepas, hingga akhirnya dia menyerah, ya dia tahu, Aneeq tidak akan mungkin melepaskannya begitu saja.


"Tentang perceraianmu."


Deg!


"Aku tahu kamu belum resmi bercerai dengan suamimu, aku akan membantumu lepas darinya," sambung Aneeq, semakin membuat Jennie merasa tak percaya, kenapa bisa pria ini tahu segalanya?


Tapi apa alasan Aneeq ingin membantunya? Sungguh Jennie tidak mengerti akan hal itu.


"Apa maksudmu, Tuan?" tanya Jennie, suaranya terdengar lemah, tetapi menuntut jawaban secara detail.


Aneeq melesakkan wajahnya di ceruk leher Jennie. "Aku tahu kamu sedang kesulitan, maka dari itu izinkan aku membantumu."


"Tapi apa alasanmu?"


Aneeq nampak berpikir sejenak, dia pun tidak tahu apa alasannya ingin membantu Jennie, sehingga dia menggeleng. "Tidak tahu, aku hanya ingin saja. Memangnya salah kalau aku membantumu?"


"Tidak, tapi_"


"Jen, aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku saat berdekatan denganmu, kamu selalu membuatku penasaran dan mencuri semua perhatianku. Tapi satu yang harus kamu tahu, aku tulus menyayangi Ziel ...."


"Jen, aku tidak tahu ini apa, tapi kita sama-sama merasakannya, kamu tidak menolak ciumanku." Aneeq melonggarkan pelukannya, sementara Jennie mematung dengan gemuruh yang tak biasa.


Pelan, Aneeq membalik tubuh Jennie, membuat manik mata itu bertemu, dan sekejap dua benda kenyal itu pun menyatu. Aneeq memulai lebih dulu, dan beruntungnya Jennie tidak memberontak.


Wanita itu hanya diam, hingga semakin lama pertautan itu, akhirnya Jennie mulai membalas ciuman Aneeq, pria itu tersenyum tipis, lalu dengan kedua tangannya, Aneeq mengangkat tubuh Jennie hingga wanita itu duduk di samping tempat cuci piring.


Membuat ciuman itu lebih dalam dan semakin mendebarkan.


*


*


*


Eak eak :v


Yang belum tahu keluarga uler, silahkan baca "Gairah Sang Casanova"


Disarankan membacanya habis buka puasa!