My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Cacing Alaska #5


Caka memeluk El dengan posesif setelah satu permainan baru saja mereka selesaikan. Pria itu masih bisa merasakan nafas sang istri yang tersengal-sengal. Sementara kedua inti mereka masih menyatu.


"Kamu tahu apa yang aku rasakan, Kak?" tanya El, kini Caka berada di belakang tubuhnya, memeluk pinggang tetapi jemarinya berlarian ke mana-mana.


"Apa?"


"Aku merasa beruntung dicintai olehmu. Kamu selalu tahu apa yang aku rasakan, bahkan tanpa perlu aku bicara. Apa kamu seorang cenayang?"


Caka terkekeh, dia mengangkat kepala dan sedikit menggigit daun telinga El hingga wanita itu menggeliat lengkap dengan lenguhan.


"Aku dan kamu telah menjadi satu, El. Apa yang kamu rasakan, aku juga merasakannya. Kamu tahu apa yang membuatku sakit?"


Wanita bak barbie hidup itu menggeleng. "Tidak tahu."


"Melihatmu sedih. Aku selalu merasa gagal menjadi seorang suami jika tidak ada senyum di bibirmu. Karena sejak dulu, kamu tidak pernah menunjukkan kesedihan di hadapanku. Kamu selalu menggunakan alasan malu, jika ketahuan sedang menangis. Maka dari itu, aku selalu merasa sakit, jika tidak melihatmu tersenyum," jelas Caka, tangan besar pria itu merabaa, lalu mengelus lembut pipi istrinya.


"Aku sudah sering bilang, aku menerimamu apa adanya. Aku memiliki kekurangan, begitu pun juga kamu. Kita hanya perlu saling menutupinya. Dan ingat, untuk urusan yang lain, kamu tidak perlu iri pada siapapun. Syukuri apa yang ada, sebab Tuhan tidak tuli, Dia akan mendengar doa-doa kita. Termasuk tentang anak ... aku tidak akan pernah memaksamu untuk segera memilikinya, Sayang. Kita nikmati dulu saja masa-masa ini, dengan berusaha dan tidak menunda. Mungkin sekarang baru jadi telinganya, nanti besok kita buat mata."


Caka sengaja menggoda El di ujung kalimatnya, hingga wanita itu akhirnya berbalik dan tersenyum tipis sambil mencubit dadanya. "Mana ada yang seperti itu!"


"Ada, Sayang. Itu namanya mencicil. Jadi kita harus sabar membuatnya satu persatu."


Senyum El semakin lebar, entah dengan kata apa dia mengungkapkan rasa cintanya pada Caka. Sumpah demi apapun, dia tidak memiliki kalimat indah yang dapat dilontarkan kepada suaminya, selain hanya, "aku mencintaimu, Kak. Bagiku kamu suami terbaik, aku tidak bisa menggambarkan bagaimana beruntungnya aku memiliki kamu. Aku tidak bisa."


Caka mengangkat tangan, merapihkan rambut El yang menutupi wajah, menyelipkannya helai demi helai ke belakang telinga. "Lagi pula aku tidak butuh kata-kata, Sayang. Yang aku mau kamu tetap di sampingku, apapun yang akan terjadi. Aku juga mencintaimu, Eliana."


El memejamkan matanya, saat sebuah kecupan melandas di keningnya, terasa amat lembut dan dalam. Membuatnya merasakan ketenangan. Dia memeluk pinggang Caka, pria itu menarik diri hingga tatapan mereka kembali bertemu.


"Jangan khawatirkan apapun lagi, dan ingat jika ada apa-apa kamu harus bilang padaku, jangan dipendam sendiri. Sekarang, aku adalah tempatmu berbagi, jika dulu Daddy yang selalu berusaha membuatmu bahagia, kini ada aku yang selalu siap berbagi suka dan duka. Aku sudah berhasil membuatku mengungkapkan semuanya, jadi tidak ada lagi kata sungkan," tegas Caka, tak ingin lagi membuat sang istri merasa sedih sendirian.


Senyum di bibir El semakin lebar, dia memajukan wajah untuk mengadu pucuk hidung mereka. Dan memberikan kecupan di bibir suaminya.


"Aku akan mengikuti semua ucapanmu, Kak."


"Itu bagus."


Dan secepat kilat, Caka merubah posisi dengan mengungkung tubuh El. Tatapan mata pria itu sudah mulai berbeda, bak singa yang tengah mengintai mangsanya.


"Apa?"


"Buat matanya sekarang saja yah."


AH! Untuk yang kesekian kalinya, El mendesaah karena ulah suaminya.