
Siang itu.
Aneeq langsung mengayunkan kakinya dengan tergesa, setelah mendapat telepon dari De bahwa Zoya jatuh sakit. Rasa cemas mulai memenuhi dadanya, sementara dalam hati dia terus berharap sang ibu baik-baik saja.
Di belakang sana Caka tak kalah tergesanya, dia melangkah cepat untuk mengejar Aneeq. Hingga mereka sampai di mobil, Caka langsung menyalakan mesin.
"Ca, cepat!" cetus Aneeq dengan sorot matanya yang terlihat gusar. Dia benar-benar merasa cemas sekarang.
Patuh, Caka melandaskan mobil berwarna putih itu keluar dari gedung perusahaan menuju mansion. Baru saja merayap di jalan raya, Aneeq menjatuhkan kepalanya di punggung kursi, karena merasakan pusing yang begitu hebat.
Semalaman dia tidak tidur, karena perasaannya tidak tenang. Aneeq terus memikirkan Jennie dan juga Ziel. Di manakah gerangan dua orang itu, dan bagaimana keadaan mereka? Apa keduanya baik-baik saja?
Dan sekarang dia malah mendapat kabar bahwa sang ibu jatuh sakit. Makin bertambah saja beban di kepala Aneeq. Dia tidak peduli jika nanti Ken akan menghadangnya, hari ini dia harus bertemu dengan Zoya.
Kalaupun dia kembali dipukuli oleh sang ayah, dia tidak akan menyerah. Karena maaf dari Zoya adalah segalanya.
"Tuan, anda kenapa?" tanya Caka seraya melirik Aneeq. Akan tetapi pria itu sama sekali tak mengurangi kecepatan mobilnya.
Aneeq memijat pelipisnya, urat di kepala pria itu terasa tegang semua. "Tidak apa-apa, Ca. Aku hanya sedikit pusing, mungkin karena semalaman aku tidak bisa tidur."
Caka terlihat manggut-manggut dan tersenyum tipis. "Setelah sampai di sana, anda pasti tidak akan pusing lagi, Tuan."
Aneeq mengernyitkan kening. Apa maksud Caka bicara seperti itu? Aneeq menatap Caka yang terlihat mencurigakan, tetapi dia tidak bisa menebak apa yang sebenarnya pria itu pikirkan.
"Apa maksudmu, Ca?"
"Maksudku? Maksud yang mana, Tuan?"
"Ucapanmu!"
"Oh, maksudku sebentar lagi Tuan akan bertemu Nyonya Besar, pasti anda akan sangat senang," jawab Caka santai, tetapi entah kenapa Aneeq tidak percaya begitu saja. Caka seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Obrolan itu terputus karena Aneeq kembali menyandarkan kepalanya dan mencoba untuk terlelap sebentar. Hingga tak berapa lama kemudian, mobil itu berhasil menepi di halaman luas mansion milik keluarga Tan.
Tanpa bicara Aneeq melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Pintu utama sama sekali tidak ditutup, membuat semua yang ada di dalam sana dapat Aneeq pindahi dengan mudah.
Aneeq mematung saat melihat mansion milik keluarganya berubah seperti dekoran pesta. Namun, anehnya tidak ada satu pun anggota keluarga di sana. Bahkan saat ia menoleh ke belakang, Caka hilang dari pandangan matanya.
"Hei, apa-apaan ini? Ke mana Caka pergi? Dan ke mana semua orang?" gumam Aneeq dengan dahi yang dipenuhi lipatan.
Sejenak Aneeq lupa tujuannya datang, kaki pria itu melangkah pelan-pelan, lantai demi lantai dia pijak dengan rasa penasaran. Pandangan mata pria tampan itu menyusuri setiap sudut, tetapi sumpah demi apapun yang dia lihat hanyalah sebuah hiasan pesta yang tak bertuan.
"Ini apa sih?" gumam Aneeq frustasi, dia menjambak rambut depannya dan kembali menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, sampai beberapa saat ia berpikir, tak kunjung jua mendapat jawaban yang paling masuk akal.
Aneeq bertolak pinggang, ia menatap tangga dan semakin naik hingga tatapan mata pria itu sampai pada pintu kamar kedua orang tuanya yang tertutup rapat. Ya, sepertinya dia harus masuk ke sana.
Tanpa pikir panjang Aneeq kembali mengayunkan kakinya. Namun, belum ada beberapa langkah, kaki itu kembali berhenti bergerak saat ia mendengar sebuah langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya.
Tubuh Aneeq mendadak meremang, suasana di sana benar-benar sepi dan terasa mencekam, padahal di luar sana matahari bersinar terang.
Aneeq menelan ludahnya dengan kasar, dia ingin menoleh ke belakang, tetapi entah kenapa rasanya sulit, seperti ada sihir yang membuatnya tetap diam.
Sementara di belakang sana, Jennie tersenyum dengan bibir yang bergetar, ia sedang mati-matian menahan tangisnya agar tidak pecah. Pria yang selama ini dia rindukan kini sudah ada di depan mata, dan ini bukanlah sebuah mimpi. Ini nyata.
Aneeq sudah berada di hadapannya.
Air mata Jennie jatuh, saat ia sudah berdiri tepat di belakang Aneeq. Ludahnya tercekat dengan tangan yang terulur untuk menyentuh pemilik raga kekar itu.
Di tempatnya berdiri, Aneeq langsung merasa tersengat, saat tangan langsing tiba-tiba memeluknya dari belakang. Tubuh pria itu sedikit bergetar, apalagi saat suara lirih memenuhi indera pendengarannya, terasa sangat syahdu dan menggetarkan jiwa.
"Akhirnya kamu datang, An."