
Jennie terbangun lebih dulu sebab ia merasa sangat mual. Dia tidak bisa menahan gejolak yang memenuhi perutnya, hingga ia sedikit berlari menuju wastafel, di sana Jennie langsung memuntahkan isi perutnya.
"Huwek!"
Hamil muda mengharuskan ia merasakan ini semua. Namun, sungguh Jennie tak pernah mengeluh, ia sangat bersyukur sebab ternyata bukan dia yang mandul. Dia bisa hamil setelah menikah dengan Aneeq, itu artinya dia baik-baik saja.
Lagi pula, Aneeq juga selalu meyakinkan dirinya. Bahwa mereka bisa memiliki seorang anak. Andai kata tidak, Aneeq tidak pernah menyerah memberikan keluasan untuk Jennie, melakukan tindakan yang lain, tidak peduli biaya yang akan mereka keluarkan.
Aneeq menyipitkan matanya, saat mendengar samar-samar suara Jennie dari arah kamar mandi, pria yang masih bertelanjang dada itu bangkit, dan langsung menyusul istrinya.
"Sayang," panggil Aneeq, melihat Jennie yang sedang berusaha mengeluarkan semua yang ada dalam perutnya. Pria itu membantu Jennie dengan mengusap tengkuk wanita itu.
"Aku siapkan air hangat yah," ucap Aneeq, dan Jennie tak peduli, dia hanya fokus pada rasa yang bergejolak. Perutnya seperti diaduk-aduk hingga cairan kekuningan keluar, menyisakan rasa pahit.
"Jen, apa sebaiknya kita ke dokter?"
Wanita itu menggelengkan kepala, dia mencuci mulutnya dengan air mengalir, lalu meraih beberapa lembar tisu. "Tidak perlu, An. Aku tidak apa-apa, lagi pula kata dokter pun wajar, aku sedang masuk tri semester pertama."
"Tapi kok aneh sih, Jen. Kenapa Mommy tidak sepertimu, malah Daddy yang mual-mual," jawab Aneeq merasa heran, sebab setiap pagi pun kamar sebelah ribut dengan muntah-muntah, tetapi aneh yang terdengar malah suara sang ayah.
Jennie menegakan tubuhnya, menatap Aneeq dengan tatapan sedikit sayu.
"Mommy bilang, setiap dia hamil memang Daddy yang selalu muntah-muntah, katanya dulu juga begitu, bahkan dulu lebih parah, Daddy sampai tak mau masuk kantor sampai kalian lahir," jelas Jennie, dia sempat bertukar cerita dengan Zoya mengenai kehamilan simpatik yang dialami oleh Ken.
Aneeq melongo mendengar cerita istrinya. "Apa separah itu, Jen? Bagaimana denganmu? Kamu tidak menyesal kan, mengandung anakku?" Tanya Aneeq dengan tatapan mata bersalah.
Jennie berganti meraih tangan Aneeq, lalu mengarahkan ke perutnya yang masih rata. "Aku bahagia dia berada di sini, anak kita. Aku akan selalu mencintainya, sama seperti aku mencintaimu."
Aneeq ikut tersenyum pula, dia meraih tengkuk Jennie dan melandaskan sebuah ciuman di bibir seksi itu. "Aku berjanji akan menjaga kalian dengan seluruh nyawaku. Aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti kalian."
"I trust you," jawab Jennie tak berhenti menatap Aneeq dengan binar mata bahagia. Entah dengan apa ia harus memberitahu semua orang, bahwa dia begitu beruntung memiliki suami seperti Aneeq.
Pria yang sanggup mencintainya, dengan semua kekurangan yang dia punya. Bukan hanya tentang status, tetapi juga isu yang beredar di kalangan mereka, bahwa Jennie adalah wanita mandul yang tak dapat hamil untuk selamanya.
Namun, dengan Aneeq, semua itu dipecahkan begitu saja. Sebab setelah terlepas dari Michael, ia malah mendapatkan seseorang yang lebih baik, bahkan sebentar lagi mereka akan memiliki seorang anak.
"Kalau begitu sekarang kita mandi bersama, sebelum Ziel bangun," ajak Aneeq, dan Jennie hanya tersenyum, dia membiarkan tubuhnya diangkat oleh Aneeq untuk masuk ke dalam kamar mandi dengan ciuman di tiap langkahnya.
Berbeda dengan kamar sebelah, sebab seseorang yang sebentar lagi menjadi kakek, malah sedang muntah-muntah dengan Zoya yang terus mengelus punggungnya.
"Haish, Baby, kenapa setiap kamu hamil aku harus seperti ini?" keluh Ken, lalu kembali menepuk-nepuk tengkuknya.
"Sabar, Dad. Lagi pula kamu kan sudah merasakan enaknya, sekarang tinggal eneknya."
Hah!
Ken hanya bisa mendesah pasrah.