
Jennie dan Aneeq berpisah di rumah sakit. Pria itu berangkat ke perusahaan sementara Jennie pulang ke mansion bersama dengan Zoya.
Dua wanita itu dijemput oleh supir, dan langsung meluncur ke mansion. Namun, di pertengahan jalan, Jennie teringat akan sesuatu yang harus dia ambil di apartemen milik suaminya.
Tempat tinggal semasa dia belum menikah dengan Aneeq.
"Mom, sepertinya kita harus mampir dulu ke apartemen Aneeq. Ada sesuatu yang harus aku ambil," ujar Jennie kala itu. Zoya menoleh dan langsung mengangguk untuk memberi jawaban.
"Oh ya sudah, kita ke apartemen sekarang. Pak, apartemen Aneeq dulu yah," ucap Zoya meminta pada sang supir.
Pria yang ada di balik kemudi langsung patuh. Dia membawa kendaraan roda empat itu sesuai dengan petunjuk Zoya.
Hingga tak berapa lama kemudian, akhirnya mobil itu sampai di depan gedung tinggi, Jennie langsung izin untuk keluar. Awalnya Zoya menawarkan diri untuk menemani, tetapi Jennie menolak, sebab dia tidak akan lama.
Wanita hamil itu melangkah dengan santai, memasuki lift menuju unit apartemen suaminya.
Begitu masuk Jennie sedikit merasa ada yang aneh. Padahal apartemen itu jarang disinggahi, tetapi rasanya seperti ada yang tinggal di dalamnya.
Jennie mencoba untuk menghilangkan pikiran buruk itu. Dia terus melangkah hingga tangan langsing itu akhirnya membuka pintu kamar.
Ruangan itu tampak masih temaram, hingga Jennie memutuskan untuk menyalakan lampu. Namun, tiba-tiba jantungnya dibuat berhenti berdetak, saat dia melihat ke arah ranjang, ada gadis cantik yang tengah tertidur pulas dibawah selimut tebal.
"Siapa dia? Kenapa dia tidur di apartemen Aneeq?"
Jennie terus memegangi mulutnya yang menganga. Sementara matanya menelisik gadis cantik itu. Pikiran Jennie berkelana, dia sangat yakin bahwa Aneeq tidak akan mengkhianatinya, tetapi kenapa ada gadis ini di sini? Sebenarnya dia siapa?
Perasaan ibu hamil itu mulai tak enak, dan dadanya terasa sesak. Dia yang akhir-akhir ini mudah tersentuh akhirnya tak kuasa menahan genangan air yang memenuhi kelopak matanya.
"Aneeq tidak mungkin mengkhianatiku," ucap Jennie sambil menggelengkan kepala. Dia menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan, mencoba bersikap tenang, dia tidak boleh gegabah, sebab semuanya belum jelas.
Pelan, dia menghapus air matanya, meskipun rasanya sangat berat. Jennie memutuskan untuk membangunkan gadis cantik yang bernama Cyara—wanita yang diam-diam adik iparnya sembunyikan.
Dia tidak tahu kalau De, ternyata meminjam apartemen ini dari Aneeq.
Saat Jennie mendekat, jantungnya malah seperti diremat, melihat Cyara memakai pakaiannya. Ludah wanita itu tercekat di tengah tenggorokan. Namun, Jennie tak goyah dia menggoyangkan bahu Cyara dengan cukup keras.
"Bangun!" ucap Jennie sedikit bergetar. Dia berusaha menyembunyikan kesedihannya agar ia tidak terlihat lemah, andai memang benar kalau gadis ini adalah simpanan suaminya.
"Aku bilang bangun!" Kali ini Jennie mengeluarkan suara cukup keras. Tak bisa bohong, wajah Cyara terlihat sangat manis dan sangat muda. Jauh dengan dirinya yang sudah dewasa.
Apakah itu semua bisa menjadi alasan untuk membuat Aneeq berpaling darinya? Padahal baru beberapa saat lalu mereka merasakan bahagia, sebab mereka akan memiliki anak kembar.
Namun, saat ini dunia Jennie benar-benar terasa hancur.
Kelopak mata Cyara melebar seketika. Dia terduduk karena merasa terperangah. Melihat Jennie yang tiba-tiba ada di kamarnya.
Cyara mencoba mengingat-ingat, hingga memori itu kembali, Cyara pernah melihat wanita ini menggendong anak kecil dalam sebuah figura foto yang disimpan di lemari pakaian.
Apakah dia ada hubungannya dengan De? Sebab Cyara bisa melihat bola mata wanita itu memerah nyaris menangis.
"Siapa kamu?" tanya Jennie langsung, bibirnya bergetar hebat sementara dadanya benar-benar terasa sesak. Dia meremat kepalan tangannya di bawah sana.
Dia harap apa yang dikhawatirkan tidak pernah terjadi, Aneeq adalah miliknya—selamanya.
Cyara membalas tatapan mata Jennie. Dia terlihat kebingungan, takut salah bicara yang membuat urusan bertambah runyam, Cyara akhirnya berkata dengan terbata. "Aku teman pemilik apartemen ini."
"Teman?" ulang Jennie, benarkah Aneeq memiliki teman seorang gadis kecil? "Sudah berapa lama kamu di sini?"
Ditanya seperti itu, tangan Cyara malah gemetar. "Seminggu lebih."
Rasa sakit di dada Jennie kian meningkat, tetapi dia terus mencoba untuk sabar. "Lalu?" Jennie menjeda ucapannya, bola mata wanita itu sudah memanas siap meluncurkan bulir-bulir bening. "Kenapa kamu memakai bajuku? Apa kamu sudah meminta izin?"
Cyara semakin merasa terperangah. Memandang tubuh kecilnya. Jadi, baju yang ia pakai masih ada pemiliknya. Dia jadi serba salah sekarang. Cyara menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepala.
"Maaf, Nyonya. Tapi pemiliknya yang mengizinkan aku memakai baju ini, sejak aku datang pertama kali, dia membiarkan aku bebas melakukan apapun, termasuk memakai pakaian yang ada di lemari," jelas Cyara, sebab ia benar-benar tidak tahu, kalau sebenarnya apartemen ini adalah milik saudara kembar De.
Jawaban Cyara membuat kesalahpahaman itu semakin nyata.
Jennie semakin menutup mulutnya, bahu wanita berdada besar itu naik turun dengan air mata yang sudah menetes. Akhirnya dia terisak-isak, saat itu Cyara yang merasa bersalah segera turun dari ranjang.
"Nyonya, ada apa? Kenapa anda menangis?"
"Cukup! Jangan mendekat!" ketus Jennie, amarah di dadanya akhirnya meletup. Dia segera menghapus air matanya dan memicing tajam ke arah Cyara.
Andai bukan gadis kecil yang terlihat polos, mungkin Jennie sudah menjambak atau menampar wajah Cyara dengan keras.
"Asal kamu tahu, aku adalah istrinya, aku sedang mengandung anaknya. Andai dia bersikap baik padamu, aku pastikan dia hanya menganggapmu sebuah mainan!" ucap Jennie dengan nada geram.
Lantas setelah itu dia pergi dari apartemen. Membawa luka pedih di hatinya dan meninggalkan Cyara yang tampak kebingungan.
***
Ini ada di part Abang De juga yah🤗🤗🤗 Biar kalian tak bingung 🐍🐍🐍