
Aneeq mengucapkan janji suci itu dengan lantang. Suasana hening itu terasa khidmat dan penuh haru, Jennie menitihkan air mata bahagia. Kini, Aneeq telah sah menjadi suaminya. Begitu pun dengan Zoya, wanita itu terisak dalam pelukan Ken menyaksikan sang anak yang telah berhasil menikahi wanita pujaannya.
"Anak Mommy," lirihnya dengan air mata yang menderas, begitu lancang menyambangi pipi mulusnya.
Ken hanya mampu mengusap-usap bahu Zoya. Dia pun ikut merasa bahagia, karena salah satu anaknya telah melepas masa lajang. Tidak berlama-lama untuk bermain dengan banyak wanita seperti dirinya.
Aneeq mencium kening Jennie begitu dalam menghasilkan riuh tepuk tangan yang memenuhi ballroom hotel tersebut. Sebuah takdir yang tidak pernah terduga, karena sebelumnya dia hanya mengincar sesuatu dalam diri Jennie. Namun, lambat laun dia malah terjerat oleh pesona janda muda itu.
"I love you, Jen," bisik Aneeq merdu, dia menangkup kedua sisi wajah Jennie, hingga tatapan mereka bertemu, binar bahagia di mata keduanya bicara. Mengungkapkan bahwa mereka beruntung saling memiliki, dan saling mencinta.
"I love you more, An," jawab Jennie dengan tersenyum lebar. Dia mengalungkan tangan di leher Aneeq, dan akhirnya mereka berciuman.
Melihat itu, Caka langsung menutup mata El. Membuat El sedikit tersentak. "Kak, kenapa mataku ditutup?" Tanya wanita cantik itu sambil mencoba melepaskan tangan Caka dari wajahnya.
Ingin melihat adegan yang sedang berlangsung, lumayankan buat contoh kalau dia sudah menikah dengan sang pujaan.
"Kita langsung praktek saja," balas Caka dengan nada datar. El melebarkan kelopak matanya, apa dia tidak salah dengar? Caka tengah bicara mesumm dengannya?
Tiba-tiba senyum dibibir wanita bak barbie itu terbit. "Kapan? Apa sekarang?" Caka malah ditantang, sepertinya dia salah orang. El bukanlah kebanyakan gadis yang biasanya malu-malu kalau diajak bicara perihal erotismee.
Caka menarik tangannya saat Aneeq dan Jennie selesai berciuman. Dia membuang wajah, karena El pasti akan menggodanya.
Benar saja, seperti pikiran Caka, El langsung memeluk lengan pria itu dengan berkedip-kedip genit. "Kak Caca sudah tidak sabar menikahiku yah? Atau Kakak sudah tidak sabar untuk ...." El menjeda ucapannya, pikiran wanita cantik itu berkelana ke mana-mana.
"Buk_"
"Sudah mengaku saja. Kemarin bilangnya cinta," tukas El dengan terkekeh, lalu dia semakin memeluk tubuh Caka, tak peduli meski pria itu merasa tak nyaman. Dia yakin, Caka hanya belum terbiasa dengan hubungan mereka yang sebentar lagi akan diresmikan.
Seluruh rangkaian acara berjalan dengan lancar, dan semua tamu undangan juga mengikuti prosesi itu dengan bahagia lengkap dengan senyum mengembang.
Jangan tanya Ziel, sedari tadi pria kecil itu sudah diamankan.
Para tamu terus silih berganti mengucapkan selamat pada Aneeq dan Jennie. Banyak doa baik yang terucap hari ini, bahkan tak sedikit yang mendoakan keduanya cepat mendapat momongan, begitu pun dengan reader uler-uleran. Mereka berebut meminta dulu-duluan, takut tidak kebagian rendang, padahal stok masih banyak di belakang.
"Jen, aku sudah tidak sabar untuk kabur dari sini," bisik Aneeq, kini kepala pria itu bersandar pada bahu istrinya.
Jennie mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Aku sudah tidak sabar ingin memakanmu," ucap Aneeq tepat di telinga Jennie, bahkan pria itu sengaja menempelkan bibirnya di sana.
Jennie langsung merinding mendengar itu, sebagai seorang janda yang sudah kenyang bercinta, pikirannya tidak bisa polos seperti para gadis muda. Ia langsung membayangkan bagaimana buasnya Aneeq nanti malam. Hih sepertinya akan sangat mengerikan.
"Kenapa? Kamu takut?" tebak Aneeq melihat reaksi wajah Jennie.
Jennie langsung gelagapan dan menggeleng dengan gerakan terputus. "Ah, tidak. Untuk apa takut denganmu. Memangnya kamu sudah yakin bisa membuatku tidak berdaya?"
"Kamu meremehkanku? Asal kamu tahu, Jen, aku sudah menyiapkan semuanya. Aku bahkan membeli obat kuat dan benda yang bisa membuat milikku berdiri semalaman."
Glek!
Wajah Jennie langsung pucat pasi. Aneeq memang benar-benar gila! Dia tidak bisa meremehkan suaminya.
**
Zoya mengajak Ken untuk bicara dengan ketiga putranya.
"Ehem!" Zoya berdehem dengan keras, hingga kekehan ketiga pria itu berhenti, mereka kompak menoleh ke sumber suara.
Mereka langsung tersentak begitu melihat Ken dan Zoya berdiri dengan tangan yang melipat di depan dada dan sorot tak ramah.
"Ada apa, Mom?" tanya Bee dengan sedikit terbata.
"Ada apa? Harusnya Mommy yang tanya ada apa dengan kalian?" sentak Zoya dengan tegas.
Ketiganya tampak saling pandang.
"Jangan kalian pikir Daddy dan Mommy tidak tahu, kalian mengunci Aneeq di dalam kamar?" Ken ikut angkat bicara, menatap ketiga putranya yang mulai gelisah.
"Perlu kalian tahu, itu tidak lucu! Bagaimana kalau sampai Aneeq kenapa-kenapa?"
"Itu semua ide Bee, Mom," celetuk De yang langsung membuat si empunya nama mendelik.
"Tidak pakai salah-salahan! Kalian bertiga sekongkol melakukannya, maka dari itu semuanya salah kalian juga!" ketus Zoya.
Tidak ada yang berani bicara, semua diam dengan menundukkan kepala saat sang ratu ular tengah memberi penegasan untuk semua anak-anaknya.
"Kalian harus menerima pelajaran, Daddy tidak akan mengizinkan kalian tidur, karena kalian harus membersihkan sisa pesta ini!"
"Tapi, Dad!"
"Kalau kalian membantah, kubuat kalian jadi gembel malam ini juga."
Hah! Ketiga saudara kembar itu langsung melongo mendengarnya. Tidak ada pilihan lain, selain menurut apa kata kedua orang tua mereka.
Setelah itu, Ken dan Zoya pergi begitu saja. Dan untuk melihat ketiga pria itu patuh atau tidak, Ken menyuruh dua bodyguard untuk mengawasi mereka.
"Sial! Kita malah dihukum oleh Daddy," keluh Choco dengan wajah masam. Sementara tangannya menerima uluran plastik sampah.
"Cih, kalau begitu. Aku tidak akan tanggung-tanggung mengerjainya, biar sekalian dihukum saja," timpal Bee.
"Hei, apa yang kamu pikirkan lagi?" tanya De melihat Bee yang menggebu-gebu. Seketika pria yang ditanya itu menyeringai tipis dengan otak yang memikirkan sesuatu.
***
Karena tenggorokannya terasa kering, Aneeq meminum minuman yang ditawarkan oleh pelayan hingga tandas. Pria itu tersenyum sumringah, begitu menyadari pesta telah usai, itu artinya dia bisa merealisasikan apa yang sedari tadi mengitari otak mesumnya. Yakni memakan semangka.
Jennie dan Aneeq sudah berada di dalam kamar pengantin. Jennie pamit untuk membersihkan make up terlebih dahulu. Sementara pria itu bergegas untuk mandi, agar tubuhnya terasa segar bugar.
Namun, tiba-tiba Aneeq merasakan bahwa matanya sangat berat. Dia beberapa kali menggeleng, tetapi rasa kantuk malah semakin menyerang.
Aneeq mencoba untuk duduk sejenak. Akan tetapi entah bagaimana ceritanya ia malah tertidur. Membuat Jennie yang baru saja menyelesaikan ritualnya mengernyit bingung.
"An, kamu tidur?"