
Malam harinya.
Jennie tampak sedikit gundah, teringat akan sikapnya yang dinilai keterlaluan terhadap Aneeq. Namun, sungguh dia tidak bermaksud seperti itu, dia terlalu pusing, karena rasanya ke mana pun dia melangkah, dia tetaplah salah.
Jennie jelas tahu resiko yang akan dia dapat kalau dia tetap bertahan di rumah kontrakan ini. Akan tetapi kalau dia pindah, dan ikut dengan Aneeq, dia tidak tahu, bagaimana kelanjutan hidupnya. Sudah benarkah? Atau malah akan lebih salah.
Dia belum lama mengenal Aneeq, dia takut sewaktu-waktu Aneeq justru memiliki niat jahat pada dirinya dan juga Ziel. Kalau sudah seperti itu, bukankah hanya akan ada penyesalan?
Lama berpikir, nyatanya Jennie tak mendapat jawaban apapun. Dia malah semakin resah dan gelisah. Hingga wajah itu tertangkap jelas oleh kedua mata biru milik Ziel.
"Mommy, kenapa Mommy belum tidur?" tanya Ziel, saat melihat sang ibu malah melamun. Jennie tersadar saat mendengar suara Ziel, dia sedikit menundukkan kepala, dan melihat Ziel yang terus menguap.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mommy belum mengantuk, Ziel tidur lagi yah," jawab wanita itu, sambil menepuk-nepuk pantat Ziel, agar bocah tampan itu segera memejamkan mata.
Patuh, Ziel pun mengeratkan pelukannya pada tubuh Jennie, lalu berusaha untuk terlelap. Namun, belum ada beberapa menit, sepasang mata itu kembali terbuka, saat Ziel tiba-tiba mendengar suara jendela yang diketuk dengan begitu keras.
Jennie ikut terbelalak lebar. Dia langsung melihat ke arah jendela, dan dia melihat bayangan seseorang melintas.
"Mommy, itu siapa?" tanya Ziel dengan wajah ketakutan, Jennie langsung memeluk tubuh mungil Ziel, dan menatap lurus, semoga saja dia salah lihat, dia berharap itu semua hanya bayangan pohon yang ada di samping rumah.
Namun, Jennie malah semakin dibuat kalang kabut, saat mendengar teriakan Elly. Jennie menelan ludahnya kasar, sebenarnya ada apa ini? Kenapa tiba-tiba rumahnya banyak kejanggalan.
Tok Tok Tok
"Nyonya, tolong buka pintunya!" pekik Elly, sambil terus menggedor-gedor pintu kamar Jennie. Wajah wanita itu pias, dan suara jendela yang dipecahkan membuatnya menjerit.
"Aaaa!!!" Jennie langsung menggendong Ziel, dan membuka pintu kamarnya. Di sana wajah Elly juga tak kalah pucatnya.
"Nyonya, ada yang berusaha masuk lewat jendela kamar saya, saya melihat sekilas orangnya memakai topeng," jelas Elly dengan tubuh yang gemetar.
"Memakai topeng? Siapa mereka? Kenapa mereka mau menyakiti kita?" tanya Jennie, dia semakin memeluk Ziel dengan erat, karena pria kecil itu sudah menangis dalam dekapannya.
"Mommy, Ziel takut."
"Sabar, Sayang. Elly, kita harus ke mana?"
Elly yang bingung pun tak dapat menjawab. Mereka malah semakin dikejutkan dengan suara gedoran pintu dari arah depan. Jennie dan Elly sontak saling pandang.
Jennie menggigit bibirnya kuat, benarkah ini ulah Michael? Tapi apa maksud pria itu melakukan ini semua?
Suara gedoran itu semakin keras, akhirnya Jennie menarik lengan Elly. Dan mengajak wanita itu untuk kabur lewat pintu belakang. "Elly, kita harus cepat mencari bantuan." Ujarnya.
"Maksudmu? Elly kita tidak punya banyak waktu, mereka sudah semakin dekat, dan aku tidak mau kalau sampai mereka menemukan Ziel."
"Tapi, Nyonya_"
Brak!
Pintu depan berhasil dibuka oleh dua orang yang memakai topeng. Jennie semakin ketakutan, tak peduli dengan ucapan Elly, Jennie menarik kembali tangan wanita itu agar mengikutinya.
"Hei, jangan lari!" teriak salah satu orang yang mengejar tiga orang itu, saat melihat bayangan tubuh Jennie yang berlari menjauh.
Jennie semakin membelalakkan matanya, dan tak peduli pada teriakan orang itu, yang ada di pikirannya sekarang adalah keluar dari rumah ini, membawa Ziel dan juga Elly.
Namun, kesempatan untuk kabur sepertinya tidak ada. Karena pintu belakang sudah dijaga oleh satu orang. Mereka dikepung. Hingga akhirnya Jennie memberanikan diri, untuk menatap orang-orang bertopeng itu.
"Mau apa kalian?" teriak Jennie dengan mata yang terus menatap sekeliling. Memindahi tubuh ketiga orang itu.
"Serahkan anakmu, maka kami tidak akan menyakiti kalian."
Mendengar itu, sontak saja Jennie semakin memeluk erat tubuh Ziel. Begitu pun dengan bocah tampan itu. Wajahnya bersembunyi di ceruk leher Jennie.
"Tidak akan, aku tidak akan pernah menyerahkan anakku pada kalian!" jerit Jennie, bibirnya gemetar menahan takut yang luar biasa, takut Ziel kenapa-kenapa.
"Kalau begitu jangan salahkan kami!" ucap pria itu seraya mendekat, dia memberi kode pada rekannya untuk merebut Ziel dengan paksa. Sementara Elly sudah jatuh pingsan.
Jennie memutar tubuhnya, mencari celah agar dia bisa kabur. Namun, namanya sudah dikepung dia kesulitan untuk mencari celah itu, hingga kedua tangan orang itu terulur.
Jennie sontak menjerit. "Tidak!"
BUGH!
Tiba-tiba orang yang hendak merebut Ziel dari gendongan Jennie, tersungkur ke lantai.
*
*
*