
Setelah Ken keluar dari ruangan El, Zoya pun langsung menghela nafas panjang. Dia tahu dia salah karena telah membentak suaminya, tetapi sungguh itu semua karena dia reflek, merasa kasihan pada Caka yang tiba-tiba disalahkan begitu saja.
"Li, An, lebih baik kita ikut keluar, berikan waktu pada Caka dan El untuk bicara," ucap Zoya seraya menatap Lily dan juga Aneeq yang masih setia di ruangan itu.
Keduanya pun mengangguk patuh.
"Baik, Mom," ucap Aneeq, dia menepuk bahu Caka beberapa kali, kemudian menyusul sang ayah yang sudah keluar lebih dulu.
Zoya melepaskan pelukannya pada El, dia mengecup kening putrinya itu lalu mengelap air mata El dengan pelan-pelan. "Bicarakan semua ini dengan kepala dingin, untuk urusan Daddy, biar Mommy yang bicara dengannya."
Wanita hamil itu pun mengangguk.
"Terima kasih, Mom, tolong bujuk Daddy agar tidak marah pada Kak Caca."
"Iya, Sayang. Mommy yakin Daddy hanya emosi, sekarang lebih baik kamu bicara dengan suamimu." Zoya mengulum senyum tipis, lalu mengalihkan pandangan pada Caka yang memasang wajah sendu. "Ca, titip El yah, dan Mommy harap kamu bisa mengerti posisi Daddy."
Mendengar itu, seperti ada angin segar yang menyusup dada Caka, hingga menyisakan kelegaan yang begitu nyata.
"Iya, Mom," jawab Caka, kemudian duduk di samping istrinya. Dia meraih tangan langsing El, kemudian mengecupinya.
Keduanya saling tatap dengan rasa bersalah di hati masing-masing. Sementara Zoya keluar untuk menyusul Ken, yang kini duduk di kursi tunggu dengan menundukkan kepalanya dalam.
Zoya tahu Ken begitu khawatir terhadap putri kesayangannya, tetapi sungguh bukan begitu cara untuk menghadapi semuanya, terlebih kini El sudah menikah. Wanita dengan perut buncit itu menutup pintu dengan pelan, kemudian duduk di samping Ken.
Awalnya Ken bergeming, tetapi begitu tahu siapa seseorang yang duduk di sisi kanannya, Ken langsung mengangkat kepala. Wajah pria itu terlihat sendu, dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Baby ...."
"Aku mengerti, Sayang."
Ken langsung menghambur ke arah istrinya, memeluk wanita itu dan meletakkan kepalanya di bahu. Entah kenapa semenjak Zoya hamil, Ken pun menjadi seseorang yang begitu perasa.
Zoya mengangguk, dia terus mengelus punggung Ken. "Iya, Hubby, aku paham dengan apa yang kamu rasakan saat ini. Begitu pun dengan aku, tapi, kamu harus ingat, Caka lebih berhak atas segalanya, kamu tidak bisa asal menyalahkan dia. Karena kita tidak tahu titik permasalahannya."
"Tapi seharusnya—"
"Sayang, kita tidak tahu apa yang akan Tuhan rencanakan. Di balik kejadian ini pasti ada sebuah pelajaran, agar El lebih hati-hati misalnya. Dan aku yakin, bahwa Caka sangat mencintai El, sama seperti kamu mencintaiku. Dia tidak akan mungkin membiarkan anak dan istrinya terluka, sama halnya kamu menjaga kami semua. Aku mohon, dinginkan kepalamu di setiap ada masalah, kita tidak perlu sebuah kekerasan untuk menghadapinya. Aku juga minta maaf, karena aku reflek berteriak padamu di depan mereka semua," jelas Zoya dengan pelan-pelan, berharap Ken mau mengerti akan posisinya, bahwa sebagai orang tua, kita tidak terlalu berhak untuk mencampuri urusan anak-anak.
Ken sedikit menengadah, dia menatap Zoya yang senantiasa mengusap pipinya dengan penuh kelembutan.
"Maafkan aku, Baby. Aku terlalu emosi sampai tidak memikirkan perasaan Caka."
Zoya mengangguk sambil mengulum senyum. "Tidak apa-apa, ini semua sebagai pelajaran untukmu, dan kamu harus sadar, kini El sudah mau menjadi seorang ibu, berikan sedikit dia ruang untuk mandiri dalam menyelesaikan masalahnya. Agar dia menjadi ibu yang hebat. Hubby, mengerti kan maksudku?"
"Iya, Sayang, aku mengerti."
"Ini baru priaku." Zoya mengecup pipi Ken sekilas. "Nanti kita temui Caka, kita minta maaf padanya yah."
"Kenapa tidak sekarang?"
"Kita berikan waktu untuk Caka dan El untuk bicara. Setelah El tenang, kita temui lagi mereka."
Ken pun patuh pada ucapan istrinya, dia semakin mengusak dan memeluk Zoya dengan erat, tak peduli meski ada Aneeq dan Lily yang terus memperhatikan interaksi mereka berdua.
***
Abah python emang kudu dibelai-belai dulu keknya🙄