
Setelah memutuskan panggilan dengan sang ibu, akhirnya Aneeq menghubungi istrinya, ingin meminta keringanan pada Jennie agar tidak meminta yang aneh-aneh. Semoga saja Jennie mau mengerti kalau ia sedang berada di luar kota, dan tidak bisa membeli rujak yang diinginkannya.
"Halo, Sayang," sapa Aneeq saat panggilan itu sudah terhubung. Jennie langsung sumringah mendengar suara suaminya. Entah kenapa semenjak hamil ia pun ingin selalu dekat-dekat dengan Aneeq, rasanya rindu walaupun hanya sebentar mereka tidak bertemu.
"Halo, An. Ada apa menghubungiku?"
"Eum begini, tadi Mommy menelponku, katanya kamu ingin makan rujak. Tapi—"
"Iya, An. Anakmu ingin makan rujak yang dibeli olehmu. Dia sangat menginginkannya. Kamu pulang yah, sebentar," potong Jennie merengek, sebelum Aneeq menyelesaikan ucapannya.
Padahal Aneeq ingin memberitahu Jennie bahwa dirinya sedang di luar kota. Kemungkinan pulang nanti sore, dia tidak bilang dari awal karena dia berpikir hanya satu hari, tidak sampai menginap.
"Sayang, tapi aku—"
"An, anakmu lho yang minta, bukan aku. Hanya sebentar, setelah kamu membelikannya kamu boleh kembali lagi ke kantor." Jennie kembali memotong, kini dengan wajah yang sudah cemberut, sebab keinginannya tak lekas Aneeq penuhi, padahal ludahnya sudah mengucur deras sedari tadi.
Aneeq memijat pangkal hidungnya. Dia menatap Caka yang hanya terdiam dengan sorot mata penuh tanda tanya. Ah, kenapa jadi repot begini sih? Padahal bikinnya enak, tapi kenapa ada acara mengidam segala. Di mana dia harus menuruti semua kemauan si jabang bayi, kalau tidak nanti anaknya ileran, dan ia tidak mau itu terjadi.
Hah!
"An!"
"Iya-iya, Sayang. Tunggu aku di rumah yah. Nanti aku belikan." Akhirnya Aneeq mengalah, tak bisa membantah ratu semangkanya.
Mendengar itu, senyum Jennie langsung terasa begitu lebar. Dia menganggukkan kepala, seperti seorang anak kecil yang akan dituruti kemauannya. "Baiklah, Sayang. Aku tunggu yah. Kalau tidak—"
"Tidak perlu mengancam begitu, pasti aku bawa pulang apa yang kamu inginkan," tukas Aneeq, sudah tahu apa yang ingin diucapkan oleh Jennie. Pasti wanita itu akan mengancam dirinya menggunakan semangka. Kalau sudah membicarakan benda kesukaannya, dia tidak akan berdaya.
Setelah itu, panggilan itu pun terputus. Aneeq menatap Caka dengan hembusan nafas kasar. "Ca, aku harus pulang. Kamu gantikan aku bertemu klien yah."
"Lho kenapa? Setengah jam lagi dia akan datang, kamu mau ke mana?" tanya Caka, ia sudah mulai membiasakan diri memanggil Aneeq dengan sapaan yang lebih akrab. Ketika sedang berdua seperti ini, Caka tidak akan membawa embel-embel Tuan.
Sebenarnya ia juga akan diangkat menjadi direktur utama. Namun, Caka dengan tegas menolak. Dia akan tetap menjadi asisten Aneeq, sebab ia tidak mau orang-orang menyangka bahwa dia memanfaatkan keadaan.
Menjadikan Eliana sebagai alasan, agar ia naik jabatan.
"Aku harus pulang, aku yakin kamu bisa menyelesaikannya sendiri. Mana kunci mobilnya, nanti kamu pulang pakai kendaraan umum saja."
"Hei, aku tanya ada apa?!"
"Ck, nanti juga kamu mengerti kalau istrimu itu hamil. Makanya buat yang semangat dan konsentrasi supaya cepat jadi," cetus Aneeq sambil mengulurkan tangan meminta kunci dari Caka.
Mendengar itu, Caka menarik sudut bibirnya membentuk senyum sinis. Orang ditanya apa, jawabnya apa.
"Kalau kamu jawab seperti itu, aku harus memberi alasan apa pada klien kita?"
"Jangan pura-pura bodoh deh, Ca! Kamu kan pandai berbohong, bilang tidak suka pada El, tapi tetap saja perhatian padanya."
Halah! Semakin ngawur saja ucapan Aneeq. Kalau tidak dihentikan pasti akan semakin merambah ke mana-mana. Akhirnya Caka hanya bisa menghela nafas dan memberikan kunci mobil pada Aneeq.
Aneeq tersenyum sumringah. Dia menepuk pundak Caka, lalu segera berlari dari sana. Demi semangka, eh demi anaknya. Dia harus pulang dan membeli rujak buah.
"Baiklah, mulai sekarang aku harus belajar menjadi suami sekaligus ayah siaga. Baby Semangka, i am coming."