
Siang hari setelah pulang dari kantor Bee. Aneeq mengajak sang wanita untuk menjemput Ziel. Kini perasaan Jennie sudah mulai membaik, memang tidak seharusnya dia menangisi pria tak punya hati seperti Michael.
"Jen, setelah menjemput Ziel, bagaimana kalau kita pergi ke mall?" ajak Aneeq, melihat Jennie yang masih sedikit murung, membuatnya ingin menghibur wanita itu dengan berbelanja.
Jennie menatap ke arah Aneeq yang sedang fokus mengemudi, pria itu hanya beberapa kali melirik, dan dia tahu kalau Aneeq sedang berusaha membantu menaikan moodnya.
"Hem, baiklah. Lagi pula di apartemen juga belum ada bahan makanan, nanti aku akan berbelanja untuk mengisi lemari es," jawab Jennie dengan tersenyum manis.
Senyum yang menular pada diri Aneeq. Pria tampan itu mengangguk menyetujui ide Jennie. Hingga tak berapa lama kemudian mereka akhirnya sampai di depan gerbang sekolah Ziel.
Di sana, Elly dan Ziel sudah menunggu. Ziel bergerak kegirangan saat melihat mobil Aneeq menepi. "Yeay, aku dijemput oleh Daddy. Elly, ayo cepat naik!" Serunya pada sang pengasuh.
Elly mengangguk sambil tersenyum. Mereka naik tanpa Aneeq yang turun terlebih dahulu. Jennie sampai geleng-geleng kepala, karena melihat Ziel yang tidak sabaran.
"Boy, kenapa kamu terlihat bersemangat sekali?" tanya Aneeq, dia kembali menyalakan mesin mobil, tetapi kedua matanya melirik Ziel yang duduk di kursi penumpang bersama Elly.
"Iya dong, Dad. Ziel mau cepat-cepat lihat adik bayinya," jawab pria kecil itu dengan bola mata berbinar.
Seketika Jennie dan Aneeq saling pandang. Adik bayi apa maksudnya? Siapa yang punya adik bayi?
"Ziel, adik bayi siapa?" tanya Jennie dengan kening yang mengernyit. Sementara Elly sudah menggigit bibir, mulai merasa gugup.
"Kata Elly, Mommy dan Daddy sedang buat adik bayi, lalu mana adik bayinya? Kenapa tidak dibawa?"
Jennie langsung melebarkan kelopak matanya. Menatap Elly yang langsung menunduk. Sementara Aneeq malah terkekeh, membuat Jennie semakin memicing. "An!" pekiknya, hal ini bukanlah sebuah lelucon.
"Boy, apa kamu menginginkan adik bayi?" tanya Aneeq, tak peduli pada pekikan Jennie. Sepertinya lebih seru jika membahas tentang adik bayi dengan bocah tampan itu.
Ziel langsung duduk dengan tegak, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat. "Of course, Dad. I want a little sister."
Aneeq semakin terkekeh mendengarnya, sementara Jennie hanya bisa mengatupkan rahangnya. Dia memberi kode pada Aneeq melalui sorot mata, tetapi pria itu lagi-lagi tak peduli padanya.
"Hanya itu, Boy? Apa kamu hanya ingin satu adik bayi?"
"An!"
"What's up, Jen?" Aneeq menatap wanita di sampingnya dengan wajah yang terlihat santai, tetapi berbeda dengan Jennie, dia ingin Aneeq menyudahi pembicaraan ini. Lagi pula kenapa Elly bicara seperti itu pada Ziel?
"Memangnya Ziel boleh minta lebih, Dad?" Ziel ikut-ikutan tidak peduli pada Jennie yang sudah mengeluarkan tanduk di dua sisi kepalanya.
Aneeq terkekeh, lalu mengusap puncak kepala Jennie, Aneeq tetap melakukan itu meskipun Jennie sudah menepisnya dengan kasar. Apa-apaan pria ini? Sementara yang di belakang malah bertepuk tangan dan berteriak kegirangan, senang karena akan mendapatkan adik bayi seperti yang Elly janjikan.
Adik bayi seperti milik Biel.
Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di pusat perbelanjaan. Elly mengekor di belakang, sementara Ziel sudah naik ke atas troli dengan Aneeq yang mendorongnya pelan-pelan.
Setelah puas berbelanja semua kebutuhan pokok. Kini Jennie yang membawa troli belanjaan itu ke meja kasir. Sementara Ziel sudah digendong oleh Aneeq.
"Nyonya, ini kartu suami anda. Terima kasih atas kunjungannya," ucap sang kasir sambil tersenyum ramah, sementara Jennie kikuk sendiri, karena wanita di depannya ini menganggap Aneeq adalah suaminya.
Wanita itu ingin membantah, tetapi tangannya dengan cepat ditarik oleh Aneeq.
"Ini kartumu, An."
"Simpan saja kartu suamimu."
Jennie mendelik. "Aku tidak mau!"
Aneeq tidak menerima penolakan, dan Jennie juga kekeuh tidak mau memakai uang dari Aneeq. Hingga dia mencoba memasukkan benda tipis itu ke dalam saku celana Aneeq secara paksa. Namun, sayang gerakannya meleset.
Kelopak mata Jennie langsung melebar.
Ah sial, aku salah sasaran!
"Tanggung jawab, Sayang," bisik Aneeq yang langsung membuat Jennie meremang.
***
Mangap ye, kalo agak telat-telat up-nya. Dah mau lebaran riweuh sama rangginang+biji Ketapang 🤣🤣🤣
Ngomong-ngomong biji, gosah nanya bijinya si Aneeq. Ntuh mah punyanya si neng Jennie seorang 🥱
***
Bila berkenan, sambil nunggu si Abang ❤️❤️❤️