
Dengan wajah terkantuk-kantuk, Aneeq terpaksa bangun, dia harus segera berangkat, dari pada nanti ibunda ratu kembali mengamuk padanya.
Kalau sudah sampai di perusahaan, dia bebas untuk melakukan apa saja, mau tidur seharian pun tidak masalah.
Aneeq masuk ke dalam kamar mandi, dia menanggalkan celana boxernya yang ternyata sudah basah. "Sial, mimpi apa aku semalam? Semangkamu benar-benar membawa pengaruh besar, Jen. Lihat, dia terus muntah berkali-kali hanya karena mengingat dua bongkahan milikmu."
Aneeq menggerutu, semalam tidurnya nyenyak sekali, apalagi ditambah dia bermimpi bertemu Jennie, menghabiskan malam berdua, hingga benar-benar menuju nirwana. Dan berakhir membuat celananya basah.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Aneeq keluar dengan pakaian yang sudah rapih, rambut tersisir dan juga aroma maskulin yang begitu menggugah selera kaum hawa.
Dia menapaki anak tangga, karena kamarnya berada di lantai dua, dekat dengan kamar Bee dan kedua orang tuanya. Sementara sisanya berada di lantai bawah.
Jangan tanyakan di mana kakek Abian, beliau sudah tenang di alam sana, setelah usia si kembar menginjak umur lima tahun. Kepergian kakek Abian kembali meninggalkan luka dalam bagi Ken.
Karena satu-satunya orang yang mengurusnya telah tiada. Kakek Abian meninggalkan Ken dengan senyum bahagia, karena tugasnya telah selesai, Ken telah mendapatkan anugerah yang begitu indah, yakni Zoya dan kelima anak kembarnya.
Semua kerisauan yang ada dalam dada pria tua itu menghilang, seiring melihat kehidupan Ken yang sudah kembali normal, meskipun pria tampan itu kerap bersikap kurang ajar.
Namun, percayalah rasa sayang kakek Abian pada Ken tetaplah besar.
Kembali pada Aneeq yang baru saja menapaki anak tangga terakhir, di sana dia bertemu dengan Choco yang sudah rapih pula.
"Hei, pulang jam berapa kamu semalam?" tanya Choco, tetapi di depan Aneeq pria itu terlihat seperti meledek, hingga dia tak menanggapi ucapan saudara kembarnya.
Aneeq tampak acuh, dan terus saja melangkah meninggalkan Choco yang mengernyit heran.
"Sudahlah, jangan meledeknya. Dia baru mendapat hukuman dari Mommy, yang ada kamu nanti dihajar," timpal De yang baru keluar dari kamar.
Choco menoleh, lalu mengangkat bahu, tanda tidak peduli. "Aku mau berangkat duluan, bilang pada Mommy dan Daddy, aku ada rapat dengan para dosen, jadi tidak sempat sarapan." Ujar Choco lalu melangkah keluar.
Mengingat dirinya yang berprofesi sebagai dosen, Choco selalu disiplin mengenai apapun itu. Dia juga terkenal killer di kampus tempatnya mengajar, tetapi percayalah pesonanya tetap membuat para wanita mengantri, hanya untuk sekedar menyapanya.
De hanya bisa geleng-geleng kepala saja, menatap kepergian Choco, di antara saudara kembarnya memang tidak ada yang beres, kalau sudah gila ya gila, tapi kalau sudah ketus, ya ketus semua.
Akhirnya De memutuskan untuk menyusul Aneeq ke meja makan. Hingga semua anggota keluarga berkumpul, sarapan pun dimulai.
"Kak An, ada apa dengan wajahmu? Kenapa terlihat masam sekali?" tanya El basa-basi, setelah semua makanan tandas dalam piringnya.
Aneeq mengangkat kepala, dengan sorot mata kesal. "Berisik, tidak usah banyak tanya!" Cetus pria tampan itu, membuat bibir El mencebik.
"El, jaga bicaramu, Sayang," timpal Ken, menengahi. Dia tahu Aneeq masih kesal karena hukuman yang diterimanya.
"Tapi, Dad. Kak An yang mulai, El hanya bertanya baik-baik," jawab wanita cantik itu dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, Ken yang sadar akan hal itu segera bangkit dan meraih tangan El.
"Sudahlah, ayo berangkat dengan Daddy. Hari ini Daddy akan mengantarmu," ajak pria yang sudah berusia kepala enam itu.
Akhirnya El mengalah dia mengangguk dan mengikuti Ken, karena sang ayah akan mengantarnya sampai ke butik.
Sementara Aneeq masih di sana, dia juga bangkit dan hendak menyalimi tangan Zoya. Akan tetapi wanita itu menahan langkah Aneeq. "Tunggu dulu!"
Aneeq menghela nafas. "Ada apalagi, Mom?"
"Cuci piring dulu, baru boleh berangkat kerja!"
Mendengar itu, mulut Aneeq langsung menganga. "Mom, An sudah menyelesaikan hukuman tadi malam. Lalu apalagi ini?" Protesnya, yang membuat Zoya langsung memicing tajam.
"Dua hari kamu tidak pulang, satu hari satu hukuman. Dan sekarang adalah hukuman keduamu, ayo cepat lakukan! Mommy akan mengawasimu!"
"Astaga, Mom?"
"Lakukan Aneeq!"
Aneeq mendesaah kecil, pagi-pagi seperti ini moodnya sudah benar-benar anjlok. Akan tetapi membantah saja rasanya tak bisa, membuat Zoya menangis adalah satu pantangan baginya.
Bisa-bisa Aneeq digantung di menara oleh sang ayah kalau sampai dia melakukannya.
Meskipun entah bisa atau tidak mencuci piring, karena ini semua kali pertama dia mencobanya. Aneeq tetap melakukan apa yang Zoya perintahkan.
Hingga terdengar bunyi pecahan, Zoya langsung mendelik, Aneeq menatap dengan takut-takut. "Maaf, Mom. Piringnya licin, dia jatuh sendiri."
*
*
*
Piringnya kek ikan lele ya Bang 🤣🤣🤣