My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Anaconda #20


Setalah satu hari menginap di rumah sakit, akhirnya Baby FG dan Zoya sudah diizinkan untuk pulang ke rumah. Mereka ditemani oleh Ken dan Jennie yang memang tidak memiliki pekerjaan seperti yang lainnya.


Namun, baru saja Zoya keluar dari ruangan dengan menggunakan kursi roda, tiba-tiba Jennie mengeluh sakit pinggang.


"Aduh, Mom, kenapa pinggangku terasa kencang yah," ujar Jennie dengan meringis, dia langsung memberikan satu bayi yang ada dalam gendongannya kepada perawat, kemudian duduk di kursi tunggu.


"Apa rasanya sangat sakit, Sayang?" tanya Zoya dengan mimik wajah cemas. Dia pun segera beranjak dari kursi roda, lalu mendekati Jennie.


Wanita hamil itu mengangguk cepat.


"Jen, apa jangan-jangan kamu mau melahirkan?" tebak Zoya sambil mengelus-elus punggung sang menantu, berharap semua itu bisa membantu.


Jennie tampak melongo, dia langsung melayangkan tatapan tak percaya pada ibu mertuanya. "Maksudnya, sekarang aku sedang kontraksi?"


"Bisa jadi, Sayang. Mommy tidak tahu bagaimana rasanya kontraksi, tapi dari tanda-tandanya sepertinya bayimu memang sudah tidak sabar ingin keluar," jelas Zoya, kemudian pandangan matanya beralih pada satu perawat yang berdiri tak jauh darinya. "Sus, tolong cek menantu saya yah. Sepertinya dia mau melahirkan juga."


Jennie ingin bicara, tetapi rasa sakit di tubuhnya malah semakin menjalar ke mana-mana. Dia memang memutuskan untuk melahirkan secara normal, maka dari itu tidak ada kesepakatan antara ia dan dokter, mengenai tanggal kelahiran anak kembarnya.


"Sabar ya, Sayang." Zoya masih berusaha mengelus punggung Jennie. "Dad, coba hubungi Aneeq."


"Iya, Baby," jawab Ken, kemudian menyerahkan sang anak yang kini ada dalam gendongannya kepada Zoya. Dia sedikit menyingkir untuk menghubungi Aneeq, mengabarkan bahwa sang istri mengeluh sakit.


Tak berapa lama kemudian, Jennie pun dibawa ke ruang pemeriksaan. Dan ternyata benar, wanita hamil itu sudah masuk tahap pembukaan.


"Nyonya Zoya, Nyonya Jennie sudah masuk pembukaan empat. Dan tahapan pembukaannya cukup bagus, setelah ini saya akan memberikan dia obat, agar proses pembukaan lebih cepat," ujar Alana yang menjadi dokter pendamping Jennie selama hamil.


"Baik, Dok, terima kasih yah."


Baru saja Zoya ingin mengajak Ken untuk masuk ke dalam ruangan Jennie, tiba-tiba Aneeq datang dengan tergopoh-gopoh. Raut cemas tergambar jelas, dengan peluh yang mengucur deras. Sebab pria tampan itu berlari dari parkiran sampai ke ruangan sang istri. "Mom, Dad, bagaimana katanya?"


"Istrimu sudah masuk pembukaan empat, Sayang. Sebentar lagi dia akan melahirkan," jawab Zoya apa adanya.


Mendengar itu, Aneeq sedikit terperangah dengan bola matanya yang memerah. Merasa haru, karena sebentar lagi dia dan Jennie akan bertemu buah cinta mereka. "Melahirkan? Jadi benar Jennie akan melahirkan?"


Zoya mengangguk sebagai jawaban. Tanpa ba bi bu Aneeq dengan rasa cemasnya yang menggunung, segera masuk ke dalam ruangan Jennie, hingga dia bisa melihat sang istri yang sedang kesakitan dengan sesekali meremass sisi ranjang.


"Sayang," panggil Aneeq, dia pun menghambur ke arah Jennie, kemudian menghujani wanita itu dengan banyak ciuman.


"Sakit, An," keluh Jennie, merasakan sengatan demi sengatan yang memenuhi punggungnya.


"Sabar yah, sebentar lagi kita akan bertemu dengan mereka. Jadi Mommy twins harus kuat," balas Aneeq sambil mengelus dahi istrinya yang berpeluh. Dia pun merasa tak tega melihat Jennie yang seperti itu, ingin rasanya dia menggantikan itu semua, andai bisa.


Jennie tak menjawab, dia malah memiringkan tubuhnya, kemudian mengerang seraya memegangi sisi ranjang dengan kuat, merasakan sengatan kontraksi yang datangnya silih berganti.


Tanpa dipinta Aneeq pun mengelus punggung Jennie dengan lembut. Hingga ibu hamil itu merasakan kenyamanan. Dia terus seperti itu hingga tepat jam 12 siang, akhirnya Jennie sudah tak tahan, dia menangis kencang karena merasakan sakit yang luar biasa.


"An, perutku sakit," rengeknya sambil meremass kuat buku jari Aneeq.


"Sabar, Jen. Aku mencintaimu, sabar yah."


Hanya kata itu yang terus keluar dari bibir Aneeq. Hingga sang istri masuk ke ruang persalinan, karena sudah tahap pembukaan sepuluh.


Aneeq ikut menangis, dia benar-benar merasa tak tega melihat Jennie yang terus-menerus merasakan sakit yang luar biasa.


"Kuatkan istrimu, An. Bisikkan kata cinta sebanyak-banyaknya untuk dia. Temani dia berjuang, jangan buat dia merasa sendirian," ucap Ken saat Aneeq ikut masuk, karena Jennie sudah tak tahan, ia berulang kali mengeram sambil sedikit mengejan.


"Iya, Dad. Mom, An masuk dulu."


Melihat sang suami datang, Jennie langsung melambaikan tangannya. Dia ingin Aneeq selalu berada di dekatnya.


"Ayo kita berjuang bersama, Sayang. Kamu pasti kuat. Aku mencintaimu, Jen. Sangat, sangat mencintaimu," ucap Aneeq seraya mengecup kening istrinya.


Jennie langsung menggenggam erat tangan Aneeq, bersamaan dengan itu dia mengikuti instruksi dokter untuk memberikan dorongan pada anaknya.


Aneeq mengikuti saran Ken, dia terus mengucapkan kata-kata cinta juga semangat untuk istrinya, hingga tak berselang lama, terdengar suara bayi laki-laki, membuat tangis Aneeq kembali pecah.


"Aku mencintaimu, Jen. Kamu hebat!"


"Selamat, Sayang. Kamu sudah menjadi ibu yang begitu sempurna. Terima kasih sudah mau berjuang denganku."


Aneeq kembali menghujani Jennie dengan ciuman.


Hingga sore di rumah sakit Puri Medika, keluarga Tan dan keluarga Lawrence berkumpul bersama, untuk melihat dua bayi lucu yang berhasil dilahirkan oleh Jennie, tanpa cacat sedikitpun.


"Lihat matanya, yang laki-laki mirip sekali dengan Aneeq," ucap Zoya, menatap takjub pada si kecil yang menggeliat lucu.


"Jelaslah, Mom, kan anakku," timpal Aneeq bangga.


"An, tapi kita belum siapkan nama lho untuk mereka," ujar Jennie sedih, sebab dia belum menemukan nama yang cocok untuk kedua anaknya.


"Siapa bilang? Aku sudah mencarinya, Dear."


"Hah, kapan?"


"Barusan," jawab Aneeq dengan terkekeh, membuat Jennie langsung mencubit perutnya.


"Ayo coba beritahu kami siapa namanya," sambar Cristian yang begitu gemas dengan kedua cucunya. Tidak disangka, bersama dengan Aneeq Jennie bisa melahirkan bayi kembar.


"Yang laki-laki aku beri nama Cornelius Burmese Tanson, dan yang perempuan namanya Amanda Vyper Tanzeela," ucap Aneeq dengan tersenyum sumringah.


Semua keluarga Tan tidak begitu kaget dengan nama yang Aneeq berikan, meskipun ada unsur ular-ularan.


Berbeda dengan kedua orang tua Jennie.


"Kok kedengarannya agak aneh yah?"


Mendengar itu, kompak semua orang tertawa membahana.


*


*


*


"Maafkan aku Ayah Mertua, tapi unsur nama itu memang sudah dari sananya. Dan sekarang aku menyebut mereka sebagai Baby Conda, COrnelius dan amaNDA."



Wkwk itulah mereka keluarga Uler-uleran 😂😂😂 Untuk cerita Aneeq dan Jennie cukup sampai di sini juga yah🙏🙏🙏


See you next time 🥰


Sekali lagi terima kasih, buat yang udah ikutin mereka sampai episode ini. Sayang kalian banak-banak 🙃🙃🙃


Mulai hari ini, kita pindah ke lapak Abang Bee yah🙏🙏🙏



Cuplikan:


Karena kesalahan di masa lalu, membuat seorang wanita yang kini bekerja di sebuah club' malam bertekad menghancurkan rumah tangga seseorang.


Dia adalah Bianca, wanita cantik dengan tubuh gemulai, juga parasnya yang cantik rupawan. Namun, nasib baik sepertinya tidak berpihak padanya.


Bianca hidup sebatang kara, setelah sang ayah meninggal saat dia remaja. Semua keluarga tidak ada yang sudi menampungnya hingga dia hidup dengan liar di luar sana.


Dan ia merasa semua nasib sial itu adalah akibat perbuatan seorang wanita yang kini terlihat bahagia dengan suaminya. Hidup penuh tawa, dan bergelimang harta.


Hingga akhirnya Bianca bertekad, untuk menggoda suami wanita itu.


"Bizard Welling Tanson, aku akan membuatmu jatuh dalam pelukanku!"