My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 75


Aneeq terus membekap pria botak itu dengan kaos kakinya. Hingga membuat pria itu kesulitan bernafas dan merasa mual, dikarenakan bau busuk yang dihasilkan dari kain tersebut.


"Rasakan! Kamu pikir aku bodoh?" cetus Aneeq, dia terus menahan kepala pria itu, meski sang musuh terus meronta-ronta. Dan hal itupun dilakukan oleh Caka, sesuai rencana yang sudah disusun dengan tuannya.


Hingga saat pria botak itu hampir kehabisan nafas, Aneeq mendorongnya keras, hingga menabrak dinding. Kepala pria itu terasa pusing, Aneeq kembali melayangkan kakinya, dan kali ini tendangan itu tepat mengenai wajah sang musuh.


Membuat rahang pria itu merasakan sakit luar biasa, juga sudut bibirnya yang berdarah.


Namun, dia tidak ingin berakhir sia-sia, dia mencoba mengeluarkan senjata tajam yang sudah dia siapkan, dia mengeram kesal. "Takkan semudah itu kamu mengalahkanku!" Pekiknya, lalu mencoba bangkit dan berlari, tetapi dipertengahan jalan tiba-tiba dia ditubruk oleh anak buahnya yang ditendang mundur oleh Caka.


Mereka tersungkur di tanah. Melihat itu Aneeq tersenyum lebar, dia menatap Caka dan mengedipkan sebelah matanya. Tanda pekerjaan yang dilakukan pria sangatlah bagus.


"Kurang ajar!" pekik pria itu lagi dengan mendengus kasar. Mereka mencoba bangkit, tetapi sebelum itu, Aneeq mengarahkan senjata apinya.


Dan...


DOR!


DOR!


Aneeq memberikan dua orang itu masing-masing tembakan di kaki, membuat keduanya memekik dan tak mampu untuk berdiri. Aneeq memberi kode pada Caka, lalu pria itu segera mengambil tali, untuk mengikat kedua penjahat yang berani mengganggunya.


Caka menepuk-nepuk kedua tangan, tanda pekerjaannya telah selesai. Aneeq berdecak keras, lalu menyeringai setan. Dia menatap sengit kedua orang yang sudah babak belur itu.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Aneeq, tetapi kedua orang itu diam. Satu pukulan keras Aneeq layangkan, seperti tengah menghukum orang yang berbohong.


Hingga lima kali dia bertanya dengan pertanyaan yang sama, kedua pria itu sama sekali tak mau buka suara. "Setia juga kalian ya?" Aneeq tersenyum mengejek, bersamaan dengan itu, salah satu ponsel milik mereka berbunyi, sepertinya percuma sedari tadi mereka bungkam, karena pada akhirnya Aneeq pasti akan tahu.


"Sial!" umpat si pria botak.


Aneeq tertawa sarkas, dia melangkah dan segera merogoh ponsel itu. Ada panggilan masuk dari kontak "BOS" tanpa pikir panjang, Aneeq langsung menerima panggilan itu.


"Hei, kalian ini ke mana saja? Kenapa tidak ada kabar sedikit pun. Apa ular itu sudah kalian habisi?" gerutu seseorang di ujung sana. Dan Aneeq begitu hafal dengan pemilik suara ini, pria itu kembali menyeringai, menunjukkan gigi-giginya.


Sementara dua orang itu sudah gemetar, mereka memandang satu sama lain dengan ludah yang tercekak di tengah tenggorokan, mau ditelan saja rasanya sangat berat, kali ini mereka tahu, bahwa mereka sudah kalah.


Aneeq langsung mematikan panggilan itu, dan melemparkan ponsel tersebut ke arah Caka. Caka menerimanya dengan tanggap, sementara Aneeq langsung memicing tajam.


Tubuh mereka gemetar, saat Aneeq melangkah semakin mendekat, sepertinya tidak ada pilihan lain selain menuruti pria satu ini. Karena mereka sudah salah mencari lawan.


"Bos, bagaimana ini?" tanya anak buahnya yang sudah tidak karuan, dia hampir saja pipis di celana karena saking gemetarnya.


Apalagi saat Aneeq memainkan senjata api, memutarnya dan membidik ke sana ke mari, mereka benar-benar sudah seperti akan dieksekusi mati.


"Tidak ada pilihan lain, dari pada kita mati sia-sia lebih baik kita tidak mendapatkan uang dari Tuan Michael," jawab pria botak ikut bisik-bisik pula. Anak buahnya pun mengangguk.


"Baik, Tuan, kami setuju," jawab pria botak itu sambil meringis, merasakan perih di sudut bibirnya. Aneeq mengangkat alis, lalu tiba-tiba kedua netranya melihat dua ekor tikus yang berlari, dengan kecepatan tangannya, Aneeq mengambil dua hewan kecil itu.


Membuat dua orang yang tengah diikat langsung mendelikkan matanya. Apa yang akan dilakukan oleh pria ini dengan tikus itu. Mereka semakin ketakutan, sementara Aneeq malah merasa gemas dengan kedua hewan berbulu itu. "Kalian lihat, menggemaskan bukan?" Tanyanya dengan terkekeh kecil.


Mereka bergeming, dan kembali waspada saat Aneeq melangkah. "Kalian tahu? Bos kalian itu seperti hewan kecil ini, lemah tapi banyak tingkah. Dan jangan lupakan, kalau dia sudah mencari lawan yang salah—Ca!"


Caka langsung berdiri di samping sang tuan.


"Kamu yang buka ya, Ca. Aku yang menaruhnya, biar tikus-tikus ini bermain dengan mereka," ucap Aneeq yang hanya dimengerti oleh Caka, sementara mereka hanya saling pandang.


"Tuan, kamu mau apa?"


Aneeq hanya tersenyum mengejek, Caka maju ke depan, dan melakukan tugasnya, menarik celana dua orang itu, sementara Aneeq langsung melepaskan tikus yang ditangkapnya.


"Aaaaaaaa ...."


Aneeq terkekeh keras. "Bermainlah dengan mereka, nanti anak buahku ke mari untuk menjemput kalian berdua."


"Aaa ... Tuan, ampun, Tuan. Tolong keluarkan!"


*


*


*


Tikusnya pingsan itu nanti main sama uler kadut yang bau pecinggg🤣🤣🤣