My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 82


Jennie tak peduli lagi pada tangisan pilu Michael, dia terus melangkah ke arah mobil Aneeq. Dadanya bergemuruh hebat, dengan sesak yang mengikat. Sekali lagi, dia menoleh ke arah pria yang dulu begitu dia cintai, pria yang dia anggap akan berjuang bersama dengannya—selamanya.


Namun, nyatanya tidak!


Michael telah menghancurkan semuanya, bahkan pria itu jauh lebih egois dari apa yang Jennie bayangkan. Sungguh Jennie tidak pernah menyangka, akan begini jadinya.


Padahal apa susahnya menerima Ziel, bocah lima tahun yang belum mengerti apa-apa tentang hubungan darah di antara mereka. Namun, karena sikap keras kepala Michael, rumah tangga mereka tidak lagi berarti apa-apa.


Cita-cita, angan dan semua mimpi yang tersusun seolah berterbangan, tak memiliki arah dan tujuan.


Kini dua raga itu telah kembali pada jalannya masing-masing. Jika Jennie memilih jalur kiri, maka Michael ada di jalur sebelah kanan.


"Selamat tinggal, Mike. Tugasku menjadi payung di kala hujan telah selesai, sekarang nikmatilah pelangimu," gumam Jennie, menatap nanar Michael yang tersungkur di tanah dengan air mata yang mendera.


Namun, Michael kini tidak sendirian, ada Lora yang tiba-tiba datang, seolah menjadi sebuah penawar.


Dan hal itu membuat hati Jennie bak diiris sembilu. Dia berusaha untuk tetap tenang, bahkan senyum tipis sempat terpatri di bibir **** itu.


Sementara Aneeq terus memperhatikan gerak-gerik Jennie dari tempat duduknya, dia tahu ini semua berat, bahkan dia yang tidak pernah merasakan apa itu cinta, ikut merasa sakit hati, saat Jennie seperti kehilangan separuh gairah hidupnya.


Kini, tugasnya adalah meyakinkan wanita itu, tentang cinta dan kesetiaan. Bukan karena dia seorang pakar, tetapi karena dia pun seseorang yang baru belajar.


Jennie masuk ke dalam mobil Aneeq, pria itu langsung merasakan hantaman keras di ulu hatinya, saat Jennie tiba-tiba menangis memeluk dirinya. "Aku munafik, An! Aku munafik, ternyata rasanya sangat sakit."


Bersamaan dengan itu mobil Aneeq melandas ke jalan raya, meninggalkan tubuh lunglai yang tak berdaya, karena baru saja kehilangan orang yang dicintainya. Jennie telah sepenuhnya lepas dari genggaman Michael, kini pria itu hanya bisa menyesali semuanya.


"Maafkan aku, Jen!" lirih pria itu sambil sesenggukan. Dunianya benar-benar runtuh, bersamaan dengan kepergian Jennie.


Namun, ini semua adalah kemenangan bagi Lora, karena cita-citanya untuk memisahkan Michael dengan istrinya telah berhasil. Satu langkah lagi dia akan merebut semua kekayaan Michael, dan menjadi satu-satunya Nyonya Nathanael.


Tak berbeda dengan Michael, Jennie pun terus memeluk Aneeq dengan erat. Dia membenamkan wajahnya di dada pria itu, hingga kemeja yang Aneeq kenakan terasa basah. "Kamu pasti membenciku, An. Kamu pasti membenciku karena aku berbohong dengan rasa sakit ini."


Aneeq diam, kedua tangannya ragu untuk memeluk punggung Jennie yang sedang bergetar hebat. Namun, mendengar tangis Jennie yang semakin keras, Aneeq tidak berpikir panjang lagi, dia langsung membalas pelukan Jennie tak kalah erat.


"Aku mengerti," ucap Aneeq dengan suara beratnya.


Mendengar itu, tangis Jennie semakin pecah. Rasa sesak terus memenuhi ruang nafasnya, menyisakan perih yang menjalar ke mana-mana. Dia tidak peduli lagi pada rasa malunya di depan Aneeq, dia hanya ingin mengungkapkan apa yang sedang dia rasakan, untuk mencari kelegaan.


"Apa aku terlihat menyedihkan? Apa aku terlihat menjijikkan? Apa aku terlihat seperti orang yang harus dikasihani? Karena pada nyatanya, aku malah menangis di atas perceraian ini, aku terlihat menyedihkan, 'kan, An?" rancau Jennie meminta pendapat Aneeq, dia menatap pria itu dengan bola matanya yang terus berkaca-kaca.


Sumpah demi apapun, Aneeq baru pernah merasakan apa itu iba pada seorang wanita yang menangis karena cinta.


Aneeq berusaha untuk menenangkan Jennie, dia terus mengusap punggung itu, dan semakin naik hingga ke atas puncak kepala Jennie. "Keluarkan semuanya, Jen. Tidak ada yang terlihat menjijikkan ataupun menyedihkan hanya karena kamu menangis, ini sifat manusiawi saat orang merasakan sakit hati."


"Tapi aku jadi pembohong, An. Aku pembohong!"


Jennie terus merancau, menyalahkan dirinya yang begitu lemah. Dia sudah berusaha menguatkan hati untuk hari ini, tetapi begitu saatnya tiba, dia ternyata tidak bisa membendung rasa kecewanya.


Aneeq tidak peduli pada apa yang dibicarakan oleh Jennie, dia hanya bisa memeluk wanita itu, hingga Jennie benar-benar tenang. Bahkan dia meminta Caka untuk berputar-putar, demi memberikan ruang pada wanita itu untuk mengungkapkan semua rasa sakit yang selama ini terpendam.


"Jangan khawatirkan apapun, aku di sini. Trust me, Dear!"


Cup!


Satu kecupan di puncak kepala Jennie, membuat wanita itu tiba-tiba terdiam.


*


*


*


Cie aku balik cie, kangen nggak?


Bang An, abis mudik ke kampung Ngothor 🤪



Silahkan halu, untuk ukuran 40 nya🙄



Nih si bocil yang suka bantuin Daddy balu 🍓