My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 66


**Habis Buka**


*Jangan nackal epribadeh*


Caka bergeming, membiarkan El bermain sesuka hati, menyesap bibirnya dengan gerakan ala kadar, karena ia pun tahu El bukanlah seseorang yang handal dalam berciuman.


Pengaruh alkohol memang benar-benar besar, apalagi El bukanlah tipe orang pemabuk. Sesap sedikit hilang sudah kesadaran. Caka tidak tahu bagaimana wanita satu ini bisa meminum minuman tersebut. Yang jelas El pasti dipaksa, karena wanita cantik ini tidak suka dengan minuman tersebut.


Berlandaskan hasrat yang sedang membuncang, El sama sekali tak melepaskan pagutannya dengan sang pria. Meski Caka tidak membalas, tetapi El begitu bersemangat, yakin sekali bahwa pria ini adalah seseorang yang dicintainya.


El berpindah posisi memeluk leher Caka dengan erat, lalu duduk di pangkuan pria itu, membuat gaun malamnya tersibak hingga ke atas paha.


Dalam posisi mereka yang sangat intim, Caka dapat melihat kaki jenjang putih nan mulus itu, sebagai pria normal tentu hasratnya ikut terpancing. Belum lagi gerakan El yang terasa semakin brutal, memancing gairah yang ada di dalam dada. Membuat Caka sedikit merasa goyah.


Ada sesuatu yang mulai menggeliat di bawah sana.


Suara decapan perpisahan itu begitu nyaring. Pria tampan itu masih bergeming, El menyatukan kening mereka, dan tatapan mereka bertemu. Kedua netra Caka berubah sayu dengan nafas yang menderu, sama halnya dengan El yang semakin merasakan panas dalam dirinya.


El mengamati lamat-lamat wajah Caka. Satu tangannya menyentuh bibir yang sedari tadi dia sesap, lalu bergerak naik, menelisik setiap garis wajah seseorang yang ada di depannya.


"Kamu benar-benar Kak Caca? Kamu calon suamiku?" tanya El dengan suara parau, tetapi terdengar begitu menggelitik di telinga Caka.


Wanita itu meneguk ludah, terus menatap dua bola mata milik Caka dengan sorot mendamba. Menunggu jawaban pria itu adalah pilihannya, hingga selang waktu terjeda cukup lama, akhirnya Caka tak dapat menahan diri lagi, Caka langsung berganti menyerang El.


Menahan tengkuk El, sementara bibirnya sudah bergerak lincah, mengikuti naluri yang menginginkan wanita satu ini. Wanita yang dia yakini tidak akan pernah tergapai, karena status mereka yang membentang.


Dua raga itu, semakin merasa terbakar. Tersulut api gairah yang berkobar hebat. Caka berganti membuka jasnya, ingin bergerak lebih leluasa, membuang benda itu sembarangan dan semakin menarik tubuh El hingga mereka berhimpitan.


Otaknya mengajak untuk sadar. Namun, naluri kelelakian berkata lain. Dia ingin merasakan bagaimana indahnya bercinta dengan wanita yang selama ini mengisi relung jiwanya.


Semua itu dia lakukan hanya untuk memantaskan diri, rasanya tak etis di saat dirinya belum memiliki apa-apa. Dia malah berani mendekati El yang bahkan sudah menjadi seorang desainer ternama.


Semua kancing kemeja Caka sudah terbuka. Lalu kain berwarna putih itu terhempas di atas dashboard, sementara dress milik El sudah turun ke lengan. Entah kapan Caka melucuti pakaian sang wanita, yang jelas kini dia bisa melihat dua gundukan sintal yang setengahnya tertutup.


Menyembul dengan malu-malu, membuat Caka merasa gemas. "El." Panggil pria itu dengan nafas menderu nyaris tanpa jeda. Yang dipanggil menggelegakkan kepala, merasa mendapat persetujuan, benda tak bertulang itu langsung berlarian.


Menyusuri leher jenjang yang terlihat sangat menggiurkan, Caka memberikannya beberapa kecupan, tetapi tak sampai menyesap. Dia masih cukup waras, bahwa aksi gilanya akan menimbulkan bekas, jikalau dia melakukan itu.


El tak dapat menahan suaranya, seperti alunan musik yang terdengar sangat merdu. Caka menikmati semuanya, hingga benda basah itu bermuara di kedua pegunungan yang tergambar jelas kenikmatannya.


Caka membenamkan wajahnya di sana, sementara kedua tangan berusaha membuka pengait. Hingga dia bisa melihat lekuk yang selama ini ada dalam bayangan. Begitu indah dan menggairahkan.


Tanpa pikir panjang, jiwa yang sedang dirasuki setan berlandaskan napsuu langsung menyesap salah satu di antaranya, hingga El menjerit dan menjambak rambut Caka.


Darah mereka mendidih, Caka tak dapat lagi menahan gejolak yang nyaris membludak. Bibirnya terus berputar, menikmati setiap lekukan tubuh El, hingga kulit putih nan mulus itu basah, bermandikan air liur pria tampan yang sedang mencabik-cabik gelora dalam dadanya.


Hingga sebuah ketukan pintu, mengagetkan Caka. Dia langsung gelagapan, melihat Aneeq sudah berada di luar sana.


Ck, sial!


*


*


*


Ganggu banget! Asli lu tuh ganggu, Bang😩😩😩