
Dengan menggunakan handuk sebatas pinggang, Ken keluar untuk melihat siapa orang yang berani mengusik ketenangannya. Dia hampir saja pelepasan, tetapi karena ketukan pintu itu tak berhenti juga, membuat Zoya menyuruh dia untuk menyudahi kegiatan mereka.
Ceklek!
"Bisakah kamu tidak mengganggu ketenangan orang lain?" ketus Ken, belum melihat siapa pelakunya. Dia mengangkat kepala, dan sejurus dengan itu Ken terperangah, sebab melihat ketiga putranya dan sang cucu yang ada dalam gendongan Choco.
"Akhirnya," kompak mereka merasa lega, karena akhirnya Ken membuka pintu. Namun, detik berikutnya mereka memerhatikan penampilan Ken dari atas sampai bawah, pria yang sedikit beruban itu tampak terengah dengan peluh yang memenuhi dada.
Ketiganya semakin merasa aneh, begitu melihat pusat tubuh sang ayah menonjol dari balik handuk. Menandakan bahwa pria berkepala enam itu tengah melakukan sesuatu dengan sang ibu.
Glek!
Bee, Choco dan De serempak menelan saliva masing-masing. Sepertinya setelah ini hukuman akan semakin bertambah banyak, karena mereka mengganggu kegiatan Ken dan Zoya.
Sementara Ken mengatupkan bibirnya dengan rahang yang mengeras. Kepala pria itu terasa menegang akibat gagal pelepasan. Ken mengepalkan tangannya kuat, dan sedikit meninju udara di bawah sana untuk menguapkan kekesalan.
"Hah, ada apa? Daddy sedang sibuk dan tidak punya waktu banyak untuk meladeni kalian!" ketus Ken membuyarkan lamunan ketiga putra kembarnya. Dia memandangi satu persatu pria dewasa itu, berharap mereka semua mengerti dan segera pergi jauh, sebelum Zoya menolaknya lagi.
"Eum ... Itu, Dad, Ziel menangis_"
"Ya kalian tenangkan lah, kan Daddy sudah bilang jaga keponakan kalian! Itu semua hukuman karena kalian berani mengerjai An," potong Ken sebelum Bee menyelesaikan kalimatnya. Dia memicing dengan tubuh yang tak karuan. Yah, kalian tahu lah bagaimana rasanya gagal pelepasan.
"Iya, Dad, tapi masalahnya Ziel mau bertemu dengan An dan Jennie. Apa mereka masih lama? Kan sudah siang, kenapa mereka betah sekali di dalam kamar?" timpal De ikut buka suara.
Mendengar itu, Ken berdecak pelan. Ketiga putranya ini pura-pura polos atau bagaimana? Apa karena belum mengenal seorang wanita jadi kaku seperti ini? Namanya pengantin baru pasti lebih suka di dalam kamar ketimbang jalan-jalan keluar! Enak juga nyarang.
Eh! Tuhkan Ken jadi keceplosan. Untung hanya di dalam hati, kalau tidak pasti urusannya bisa panjang.
"Nanti kalian juga merasakan bagaimana menjadi pengantin baru. Sekarang pergi dan ajak Ziel bermain. Karena Daddy ingin mengerjakan sesuatu yang lain!" usir Ken kepada tiga pria yang ada di hadapannya. Lalu tatapan mata Ken berpindah pada Ziel yang sedari tadi hanya diam.
"Boy, ikut dulu dengan para Uncle-mu yah. Nanti sebentar lagi Grandpa jemput, okey?"
"Tapi Ziel mau main ular-ularan dan kuda-kudaan," rengek bocah tampan itu pada Ken. Karena dari pagi, Ziel terus diajak bermain kartu dan itu semua terasa membosankan.
"Yah, mereka semua bisa jadi ular, bisa juga jadi kuda. Ziel bisa meminta semuanya pada Uncle pasti mereka akan menurutinya."
Ketiga ular kompak gelagapan.
Ken memicing tajam, seolah memberi ancaman menggunakan sorot matanya. Bee, Choco dan De sudah seperti dikuliti habis oleh pria paruh baya itu. Hingga akhirnya ketiga pria tampan itu mengangguk pasrah. Mereka menjauh dari kamar Ken dengan bibir yang mengerucut maju, karena meminta pertolongan pada orang yang salah.
"Hah, ternyata mereka sama saja!" kompak Bee, Choco dan De sambil menghela nafas tanda lelah.
Sedangkan di sisi lain, Ken kembali masuk dan mengunci pintu kamar. Zoya masih terlihat belum memakai apa-apa selain selimut yang membalut tubuhnya. Dia menatap Ken yang menyeringai tipis dengan kening yang mengeryit.
"Siapa, Hubby?"
"Hanya cleaning servis yang salah mengetuk pintu kamar, Sayang." Ken melangkah semakin dekat, senyum di bibir pria yang sudah berumur itu terus mengembang hingga ia melempar handuk dengan sembarangan. "Okay, Baby. Sekarang waktunya kita lanjutkan!"
Ken menarik selimut Zoya dengan paksa, dan kembali naik ke atas ranjang dengan merangkak di tubuh istrinya. Ken kembali menciumi bibir Zoya dengan buas, seperti yang sudah sering dia lakukan.
Pria yang masih terlihat cukup gagah itu kembali merasakan getaran nikmat. Apalagi saat Zoya melenguh dengan penuh gairah. Mulut Ken semakin turun, memandikan leher Zoya dengan ludahnya. Hingga mulut pria itu bermuara di pucuk yang masih saja membuatnya berhasrat.
Ken mencengkram dua bongkahan milik Zoya, membuat pucuk itu semakin menyembul dengan nyata. Ken menjilatinya hingga Zoya menggelinjaang. "Eught, Dad!"
Ken tersenyum tipis, hingga tak butuh waktu lama pelumas dari tubuh Zoya keluar dengan sendirinya. Ken mengangkat kedua kaki wanita itu dan siap melakukan sesuatu yang menyenangkan. Wajah Zoya semakin terlihat sensual dan sedikit menahan sesak saat Ken kembali berhasil merasuki dirinya.
"Kamu masih saja terlihat bersemangat, Dad?"
"Hem, karena tidak ada yang berubah. Semuanya masih tetap sama. Cintaku, sayangku, dan juga pythonku, selalu milikmu."
Zoya mengulum senyum, mulut pria ini memang selalu terasa manis, hingga Zoya selalu merasa kesulitan untuk menolak Ken, saat pria itu menginginkan sesuatu darinya.
"Lakukan sesukamu, Hubby," bisik Zoya yang membuat wajah Ken sumringah.
Krek!
"Aaaaaaaa!"
**
Si Daddy masih gagah oy, lu mah sekate-kate dah🤣