My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Anaconda #13


Pagi-pagi sekali mansion keluarga Tan sudah didatangi sebuah mobil box yang membawa lemari es krim. Gara-gara keinginan Jennie yang tak terpenuhi, akhirnya Aneeq menjanjikan wanita itu untuk membeli es krim beserta tempatnya.


Satu buah lemari es krim sedang diturunkan, Zoya yang kala itu berada di dapur segera keluar, karena mendengar sedikit keributan, wanita hamil itu melihat beberapa orang berkerumun, lalu mengangkat lemari tersebut untuk dibawa masuk ke dalam.


"Pak, itu apa yah? Siapa yang pesan?" tanya Zoya pada penjaga yang sudah menghampirinya.


"Itu lemari es krim, Nyonya. Tuan Aneeq katanya yang pesan untuk Nyonya Jennie," jawab penjaga itu apa adanya.


Semalam karena lupa membeli es krim yang diidam-idamkan oleh istrinya. Aneeq membujuk Jennie, agar sedikit menunda keinginannya.


"Sebanyak itu?"


"Iya, Nyonya. Sepertinya istri Tuan Aneeq sedang mengidam es krim. Mungkin untuk persediaan."


Zoya terlihat manggut-manggut. Dia pamit lalu kembali masuk ke dalam. Karena Jennie belum turun ke bawah alhasil dia yang memilih tempat untuk menyimpan lemari es krim tersebut.


Ibu hamil memang tingkahnya ada-ada saja. Bahkan terkadang tak masuk akal, tetapi itulah yang dirasakan mereka semua. Zoya tak merasa aneh sedikitpun, sebab dia pun kerap seperti itu saat mengandung anak-anak kembarnya.


Di dalam kamar, Jennie mengerjap, lalu menatap Aneeq yang masih setia memeluk tubuhnya. Dia melihat jam di atas nakas, dia terbangun karena teringat dengan es krim yang Aneeq janjikan.


Jennie segera beranjak dari atas ranjang, tetapi segera ditahan oleh Aneeq. "Sayang, mau ke mana? Ini masih terlalu pagi, temani aku tidur lagi."


"Aku mau es krim, An. Siapa tahu sudah datang."


"Sayang," rengek Aneeq, memeluk perut Jennie. "Andaikan sudah datang pun aku tidak akan mengizinkanmu memakannya. Perutmu belum terisi apa-apa, jadi jangan macam-macam!" Aneeq sedikit mempertegas suaranya, menandakan bahwa dia tidak main-main.


"Jangan marah, ke mari peluk aku. Aku melakukan itu semua karena sayang pada kalian."


Pria tampan itu menarik tubuh Jennie untuk masuk kembali ke dalam dekapannya. Walaupun kesal tetapi ternyata Jennie patuh, wanita itu melingkarkan tangan di pinggang Aneeq seraya melesakan wajah di dada bidang pria itu.


"Tapi kalau sudah makan boleh?" tanya Jennie, persis seperti anak kecil yang tidak izinkan membeli mainan oleh orang tuanya.


Aneeq mengusap puncak kepala Jennie dan memberi beberapa kecupan di sana. "Boleh, Sayang. Sekarang istirahat dulu, semalam tidurmu kurang nyenyak 'kan?"


Jennie mengangguk dalam dekapan Aneeq, pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Hingga membuat sang istri merasa aman dan nyaman. Lama semakin lama, Jennie memejamkan mata dan kembali ke alam bawah sadarnya.


Berbeda dengan lantai bawah. Karena pasangan El dan Caka sudah bermandikan keringat, mereka terus mendesaah seiring pompaan tubuh El yang kini tengah menari di atas tubuh Caka.


Wanita itu menekan dada suaminya dengan kedua tangan, sementara pinggulnya senantiasa bergerak, terkadang berputar dan lebih banyak maju-mundur.


Caka sedikit mengangkat tubuh El, di saat wanita itu sudah terengah-engah. Meskipun dia berada di bawah tetapi Caka tak sepasif itu, dia ikut bergerak seraya menekan bokoong El, agar senjatanya menghujam semakin dalam, dan hentakannya terasa dahsyat.


"Ught, Kak!" lenguh El, seraya membusungkan dada, Caka yang bersandar di kepala ranjang segera menggapai pucuk merah jambu milik istrinya, menyesapnya hingga El belingsatan.


Wanita itu bergerak semakin liar, bersamaan dengan geleyar yang menikam hasratnya.


"Lebih cepat, Sayang." Caka menganga, sementara El masih berusaha keras untuk menyalurkan nalurinya. Hingga tak berapa lama kemudian erangan diiringi deru nafas yang memburu menjadi satu di udara.


Pagi yang panas untuk mereka berdua.