My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 102


"Daddy!"


Zoya langsung membekap mulut Ziel, pria kecil itu menengadah, menatap Zoya yang memberi isyarat agar ia diam. Wanita beranak lima itu mengangkat tubuh mungil Ziel untuk kembali masuk ke dalam, karena ternyata tidak ada Jennie di sana.


Saat itu Jennie sedang mandi, sementara Ziel lebih dulu turun ke bawah. Mungkin karena mendengar keributan di luar, Ziel langsung melangkah ke sana, dan melihat Aneeq sedang berbicara dengan Ken.


Alhasil, pria kecil yang merindukan sosok ayahnya itu langsung memanggil Aneeq dengan sebutan "Daddy"


"Boy, kamu jangan keluar sembarangan," ucap Zoya memberi peringatan pada Ziel. Membuat bocah tampan itu langsung berpikir.


Kenapa, kenapa dan kenapa?


"Ada apa, Grandma? Tadi di luar ada Daddy, apa Ziel tidak boleh bertemu dengannya?" tanya Ziel saat mereka sudah berada di dalam dapur, Ziel duduk di atas pantry, sementara Zoya berdiri.


"Boy, Grandma tidak melarang kamu bertemu dengan Daddy, tapi sekarang bukanlah saatnya untuk bertemu dia. Nanti kalau sudah waktunya, Daddy pasti datang lagi dan menjemput kalian," jelas Zoya pelan-pelan, berharap bocah tampan ini mengerti.


"Tapi Ziel sudah merindukan Daddy. Ziel mau main kuda-kudaan," rengek Ziel dengan wajah yang tertekuk.


Zoya menghela nafas sambil mencari cara, hingga sebuah ide terlintas di benaknya. "Bagaimana kalau main kuda-kudaan dengan Grandpa?" Tawar Zoya dengan senyum sumringah.


Ziel tampak berpikir sejenak. Bola matanya melirik ke sana ke mari dengan telunjuk yang menempel pada kening. "Grandpa kan sudah tua, apa masih kuat?"


Mendengar itu, Zoya terkekeh kecil, ia mengusak puncak kepala Ziel karena gemas. "Tentu saja, setiap malam Grandpa memang berubah jadi kuda."


"Wah benarkah? Yeay, kalau begitu Ziel mau main kuda-kudaan dengan Grandpa saja," jawab pria kecil itu sambil bergerak kegirangan.


Zoya mengulum senyum, lalu keduanya melakukan tos tanda sepakat.


Sementara di luar sana, suasana masih begitu tegang. Tatapan mata Ken menajam padahal dalam hati ia sangat deg-degan. Dia kira drama ini akan berakhir begitu saja, saat bocah kecil itu datang, tetapi ternyata sampai sekarang Ziel tidak keluar.


Sepertinya Zoya membawanya masuk ke dalam. Cih, wanitaku benar-benar pintar.


Di tempatnya berdiri Aneeq mematung, memastikan bahwa apa yang dia dengar tidaklah salah. Dia mendengar suara Ziel dari dalam, apakah benar pria kecil itu ada di sini? Namun, sampai beberapa waktu ia menunggu tidak ada tanda-tanda kehadiran Ziel.


Boy, di mana kamu? Kenapa kamu pergi dengan Mommy tanpa membawa Daddy?


Aneeq bermonolog dengan batinnya sendiri.


"Kenapa masih di sini? Apa kamu mendadak tuli?" sentak Ken, yang membuat Aneeq tersadar seketika. Ia menatap sekeliling, dan tidak ada perubahan apapun, semua orang tampak tenang di tempat masing-masing sambil menahan dirinya agar tidak masuk.


Aneeq menelan salivanya dengan kasar, lalu menatap sang ayah. "Dad, sekali saja. Aku mohon sekali saja. Izinkan aku bertemu dengan Mommy." Ujar Aneeq dengan tatapan mengiba.


Namun, karena merasa belum puas memberikan pelajaran pada Aneeq, Ken malah menyuruh para penjaga untuk mengusir putra sulungnya itu.


"Bawa dia keluar!"


"Baik, Tuan."


"Dad, kumohon jangan seperti ini. Dad!" teriak Aneeq, tetapi Ken memilih tidak peduli, pria paruh baya itu melenggang masuk dan menutup pintu dengan cukup kuat.


Sedangkan para penjaga itu langsung menarik tubuh Aneeq untuk keluar dari halaman mansion. Aneeq meronta dengan sisa tenaganya, hingga cekalan mereka semua terlepas.


"Aku bisa sendiri!" cetusnya lalu masuk ke dalam mobil Caka yang berhenti tepat di sampingnya.


Kendaraan roda empat itu melandas, membawa kekecewaan Aneeq yang masih belum bisa bertemu dengan Zoya. Sepertinya ia harus berjuang lebih keras, untuk meredam amarah sang ayah, kalau tidak entah sampai kapan dia harus memupuk rasa bersalah terhadap ibunya.


"Ca, kita langsung cari Ziel dan Jennie saja," titah Aneeq.


"Baik, Tuan."


*


*


*