My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 104


Malam itu, Ziel berada di kamar Ken dan Zoya. Sementara Jennie menempati kamar Aneeq yakni di kamar sebelah. Seperti janjinya tadi pagi, Zoya mengajak Ziel untuk main kuda-kudaan dengan Ken.


"Ayo dong, Dad. Kamu merangkak jadi kuda, seperti waktu anak-anak kecil dulu," titah Zoya pada suaminya. Ken menghela nafas, melirik Ziel yang sudah terlihat kegirangan.


"Baby, bagaimana kalau encokku kambuh? Walaupun dia kecil, tapi lama-lama ya berat juga," protes Ken dengan wajah cemberut.


"Apa susahnya, kamu tinggal minum obat, Dad. Ayo sekarang kamu jadi kuda, seperti tidak biasanya saja," gerutu Zoya sambil menekan bahu Ken, agar pria yang masih terlihat cukup tampan itu merangkak di lantai.


Akhirnya Ken pasrah, karena Zoya terus-menerus memaksanya. Ken menekuk kedua lutut dan menegakkan tangan, dia benar-benar seperti kuda renggong sekarang.


Zoya mengangkat tubuh Ziel, hingga pria kecil itu naik ke atas punggung Ken. Kedua orang itu terkekeh, sementara Ken merasa tersiksa karena harus berputar-putar di sekitar kamar dan bersuara seperti kuda.


"Yeay, lebih cepat Grandpa! Jangan sampai kita tertangkap oleh musuh!" teriak Ziel sambil bergerak kegirangan, kedua tangan pria kecil itu menjambak rambut Ken, sementara di belakang sana Zoya terkekeh sambil menabok bokoong suaminya, agar Ken berjalan lebih cepat.


"Semangat menyenangkan cucumu, Grandpa," goda Zoya dengan terkekeh semakin keras. Ken mendengus kasar, tetapi tetap tidak bisa melakukan apapun selain menuruti perintah Zoya.


Awas saja, habis ini aku akan menjadi kudamu, Baby. Encok-encoklah aku tidak peduli!


*


*


*


Malam kian larut, Ziel tidak tidur di kamar bersama Jennie. Karena Zoya terus meminta pria kecil itu menemani dirinya, membuat Ken frustasi setengah mati, hancur sudah rencananya malam ini.


Ziel tidur dengan posisi memeluk tubuh Zoya, membuat keduanya saling menempel. Awalnya bocah tampan itu terlelap dengan nyenyak, tetapi begitu masuk tengah malam, tiba-tiba Ziel menggigil dan semakin mengeratkan pelukannya. "Mommy, Ziel dingin." Lirih pria kecil itu.


Ziel terus mengigau dan memanggil-manggil Aneeq. Membuat Ken yang saat itu belum bisa tidur mengerjap dan kembali membuka matanya. Dia menatap ke samping, Ziel merintih dengan mengepalkan tangannya.


"Daddy, Ziel rindu Daddy, kapan Daddy menjemput kami?"


Ken yang merasa heran langsung memeriksa kening Ziel, dan ternyata bocah tampan itu mengalami demam tinggi. "Boy, are you sick?"


Beberapa saat kemudian.


Jennie terbangun begitu mendengar gedoran pintu yang sangat keras. Dia memang belum benar-benar tidur, sedari tadi pikirannya terus melayang, melalang buana memikirkan Aneeq yang entah ada di mana.


Kamar ini menciptakan rindu tersendiri untuk pria berjambang cukup lebat itu. Jennie mengusap pipinya yang tiba-tiba basah, lalu bergegas membuka pintu karena gedoran itu semakin terdengar nyata.


Ceklek!


Jennie sedikit terlonjak kaget, saat Zoya berdiri di hadapannya dengan raut cemas. "Mom ...."


"Jen, Ziel sakit. Dia demam," ucap Zoya memberitahu Jennie, membuat wanita berdada besar itu melebarkan kelopak matanya.


Tanpa banyak kata, kedua wanita itu langsung melenggang masuk ke kamar di mana Ziel berada. Jennie berlari dan naik ke atas ranjang, ia menarik tubuh Ziel untuk di dekap hingga rasa panas itu menjalar ke tubuhnya. "Boy, kenapa kamu, Nak?" Tanya Jennie dengan perasaan cemas yang begitu luar biasa.


"Daddy mana, Mom?" Pria kecil itu kembali mengigau, membuat Jennie semakin merasa sesak, tak hanya Ziel yang merindukan Aneeq, tetapi dia juga sangat merindukan pria itu.


"Nanti Daddy pasti jemput kita, Boy. Sabar yah," jawab Jennie sambil mengecupi puncak kepala anaknya.


Ken dan Zoya saling pandang. Sepertinya mereka harus secepat mungkin menyudahi drama ini, dan memberikan waktu untuk kedua orang itu bertemu. Aneeq sudah cukup meyakinkan semua orang, bahwa dia serius dengan Jennie, Zoya dan Ken juga bisa melihat itu.


"Aku sudah memanggil dokter ke mari, sebentar lagi dia pasti datang," ucap Ken tiba-tiba, melihat Jennie yang bergerak gelisah, dia tahu tidak ada seorang ibu yang bisa tenang melihat anaknya sakit.


Jennie mengangguk pelan, ia senantiasa memeluk Ziel, memberikan kehangatan pada pria kecil itu. Hingga tak berapa lama kemudian, pintu diketuk disusul dengan seorang pria yang melangkah membawa tas khas milik dokter.


Jennie kembali terperanjat saat melihat wajah pria itu, kenapa pria yang mirip dengan Aneeq lagi? Sementara Ziel langsung mengangkat kepala, dia menatap De yang melangkah semakin dekat.


"Daddy!" panggil Ziel kegirangan saat menyadari wajah sang ayah yang memenuhi pelupuk matanya. Ziel melepaskan pelukan Jennie, dan menghambur ke arah De yang sudah duduk di sisi ranjang.


"Daddy, i miss you."


Eh!