
Aneeq segera mengusir Bee dari ruangannya, karena pria itu dengan sengaja terus memandangi Jennie, calon semangkanya. Tidak bisa dibiarkan, Aneeq harus segera mengambil tindakan atau Jennie malah akan terpesona pada Bee.
Apalagi pria ini lah yang menangani kasus Jennie dan Michael, pasti Bee akan terlihat seperti malaikat penyelamat di depan wanita itu. Sungguh dengan memikirkannya saja, membuat Aneeq merasa kesal.
"Pergilah, Bee. Urusanmu dengan dia sudah selesai!" cetus Aneeq, masih berusaha untuk membuat ular satu ini keluar.
Namun, Bee yang mempunyai ide jahil pun tak menggubris tindakan Aneeq yang mengusirnya terang-terangan. Dia justru duduk santai, sambil menaikan satu kakinya di atas kaki yang lain.
"Apa sih, An? Kalau kamu mau bekerja ya bekerja saja, aku akan keluar setelah makan siang bersama kalian," jawab Bee dengan wajah tanpa dosa, membuat Aneeq ingin sekali mencakarnya.
Kedua mata Aneeq melotot, menatap sengit pada Bee yang mulai kurang ajar. Pasti pria ini sengaja, ingin terus berada di dekat Jennie.
"Tidak ada! Sekarang kamu keluar!" tegas Aneeq sambil menunjuk pintu.
"Tidak mau, An. Aku ingin di sini, di sini enak, ada pemandangan indah," ucap Bee tersenyum ambigu, Aneeq paham betul maksud pria itu. Ya, pemandangan indah yang dimaksud Bee adalah Jennie.
Sementara wanita itu hanya menatap heran kedua pria yang bagai pinang dibelah dua itu. Mereka terus berdebat, tetapi Jennie tidak mengerti apa yang mereka perebutkan.
Dan orang yang paling tidak peduli dengan itu semua adalah Caka. Dia hanya diam mematung, seperti tidak ada masalah apa-apa. Dia akan bergerak jika tuannya memang memberi perintah.
"Jangan kelewatan kamu, Bee, cepat pergi dari sini!" Aneeq menarik tangan Bee, sepertinya cara halus tidak akan mempan, maka dari itu Aneeq menggunakan cara kasar. Tidak peduli pada Bee yang mempertahankan posisinya, Aneeq terus menarik pria itu agar cepat enyah dari sana.
"An, aku tidak mau! Jangan memaksaku!"
Bee berpegangan pada ujung meja, sementara Aneeq memegang perut Bee. "Enyahlah! Kamu itu tidak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan!" Cetus Aneeq, memberi peringatan.
"Hah, bagaimana kalau kita bersaing?"
Aneeq semakin melotot, dia menarik tubuh Bee lebih keras, hingga akhirnya pegangan tangan pria itu terlepas. "Kubunuh nanti kau, Bee, kalau sampai macam-macam!" Ancam Aneeq.
Mendengar itu, Bee terkekeh geli, dia tidak takut sama sekali dengan ancaman Aneeq. "Coba saja kalau kamu berani. Kuadukan nanti semuanya pada Mommy."
"Bee!!!"
Aneeq mengepalkan tangannya, dan tidak peduli dengan ucapan Bee. Dia senantiasa memberikan tatapan tak ramah pada saudara kembarnya itu, sementara Bee terlihat begitu santai.
"Sudah tunggu apalagi? Cepat keluar!"
"Iya-iya, kenapa marah-marah terus sih?" ujar Bee mencibir Aneeq yang gampang emosian. Lalu dia menatap ke arah Jennie yang sedari tadi bergeming, dengan wajah cengo.
Bee tersenyum lagi. "Nona Jennie, bisakah saya meminta nomor telepon anda?" Tanya Bee sambil mengulurkan ponselnya. Jennie yang sama sekali tak sadar bahwa dirinya sedang diperebutkan dengan ramah mengangguk.
Lalu hendak mengambil ponsel milik Bee. Namun, sebelum itu terjadi, Aneeq lebih dulu merampasnya. "Tidak perlu menghubunginya, kalau ada apa-apa hubungi aku saja!" Sentak Aneeq, dengan wajah yang sudah sangat geram.
"Tapi dia kan klienku, An."
Kedua mata Aneeq menungkik tajam, lengkap gigi geraham yang saling bertautan. Membuat aura di ruangan itu semakin seram.
Bahkan bulu kuduk Jennie langsung meremang tidak karuan. Sementara si pembuat ulah langsung meneguk ludahnya kasar.
"Sekali lagi kamu membantah, kamu akan tahu akibatnya!"
Mendengar itu, Bee langsung merebut ponselnya dan mengambil langkah seribu. Bisa-bisa dia dihajar sungguhan oleh sang kakak, bila dia terus berdiam diri di sana.
"Nona Jennie, awas ada anaconda mengamuk!" teriak Bee saat sudah di ambang pintu, Aneeq mendelik dan hendak mengejar, tetapi benda persegi panjang itu lebih dulu tertutup dengan kencang.
"BIZARD, AWAS KAU!!"
*
*
*
Minta diapain nih Bang si Bee🤣🤣🤣