
**Disarankan habis buka**
*Dan ada pegangan hidup*
Aneeq yang saat itu merasa terkejut langsung menarik diri dari tubuh Jennie, dia merasakan nyeri di dadanya yang lebam.
"Tuan," panggil wanita itu sedikit cemas, dia menatap Aneeq yang terlihat kesakitan, tetapi kenapa? Apa dia memegang bagian yang salah?
Pandangan mata Aneeq kembali menatap Jennie. Dua semangka yang tumpah ruah membuat rasa sakitnya tiba-tiba mereda, sorot mata pria itu kembali membias kelaparan.
Dadanya sudah meletup-letup, hasrat membuncang dalam dirinya mendorong untuk melanjutkan hal yang belum semestinya terjadi, Aneeq kembali memangkas jarak, menggapai salah satu bulatan kecil untuk disesapnya.
"Ught." Jennie langsung menggelinjang, dia memegang kepala Aneeq, menjambak rambut pria tampan itu. Namun, anehnya Aneeq tidak merasa kesakitan, dia justru semakin menjadi-jadi, tak peduli pada dadanya yang terasa nyeri.
"Tuan," panggil Jennie, dengan kepala yang menggelegak, tak mampu untuk mendefinisikan rasa yang dia terima. Darahnya mengalir deras, terasa panas dan membara.
"Panggil namaku, Jen!" pinta Aneeq, mengikuti naluri kelelakiannya yang menuntut lebih dari sekedar bercumbu. Pria tampan itu memoloskan tubuh bagian atas Jennie, lalu mengunci tangan sang wanita di atas kepala.
Jennie yang masih setengah sadar, enggan untuk melakukan apa yang Aneeq mau. Dia hanya terus mendesaah dengan mulut yang menganga lebar, menikmati setiap derap sentuhan lidah Aneeq yang berlarian.
Aneeq tak putus akal, dia beringsut ke tubuh bagian bawah Jennie, menyibak rok mini Jennie ke atas,dan tanpa ba bi bu Aneeq menyusuri paha mulus itu, hingga bermuara di pangkalnya.
Tubuh Jennie seperti tersengat, rasanya sangat panas dan juga penuh getaran. Hingga dia menjerit, saat Aneeq menyesapnya. "An, stop, An!"
Rasanya sudah terlalu jauh mereka berkelana untuk mengetuk pintu nirwana. Jennie yang kembali sadar dengan posisinya segera menyadarkan Aneeq. Namun, pria itu sudah hampir tak waras, karena dengan tidak tahu malunya Aneeq malah mengeluarkan si Anaconda.
Jennie melebarkan kelopak matanya, dia reflek menelan ludah, saat benda panjang itu terpampang nyata, berdiri tegak meski tanpa penyanggah.
Sial, miliknya jauh lebih besar dari pada milik Michael!
Keduanya saling tatap, Aneeq memberikan sorot penuh damba, diiringi tubuhnya yang bergeser mendekat ke arah Jennie. Sementara wanita itu malah beringsut, tidak! Dia masih waras, dia tidak mungkin melakukan itu.
Jennie mengerutkan keningnya, menatap Aneeq dengan bias memohon. Walaupun tak dipungkiri, tubuhnya tidak menolak apapun yang Aneeq berikan. Namun, rasanya hubungan mereka masih terasa janggal.
"Jen," panggil Aneeq merayu, sementara Jennie terus menggelengkan kepala. Tanda belum siap. Dan hal itu membuat Aneeq langsung mendesaah kecewa.
Shittt, gagal lagi!
Akhirnya Aneeq mengalah, melihat Jennie yang terus beringsut menghindarinya dia tahu, kalau dirinya ditolak karena Jennie belum siap. Baiklah, dia harus bekerja lebih keras lagi setelah ini, yang penting dua semangka sudah ada dalam genggamannya, tinggal merealisasikannya saja.
Sementara wanita itu masih mencerna ucapan Aneeq. Perkenalan? Perkenalan apa?
Melihat Aneeq yang hendak berbalik, Jennie langsung membuang wajah, dia ikut membenahi pakaiannya yang jauh lebih berantakan. Aneeq yang tahu Jennie akan kesulitan lantas mendekat, membuat wanita itu beringsut karena terkejut.
"Aku yang membukanya, jadi biar aku yang tanggung jawab," bisik Aneeq, dan Jennie kali ini hanya diam. Dia membiarkan Aneeq memasangkan pengait braa miliknya.
Setelah itu, keduanya saling diam. Hingga Jennie teringat akan pekikan Aneeq sebelum mereka melanjutkan kegiatan panas itu.
"Tuan, tadi kamu sempat berteriak seperti kesakitan, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya Jennie, kini nadanya terdengar lembut, membuat Aneeq menyunggingkan senyum tipis.
Aneeq meraih tangan Jennie, lalu menempelkannya di dada. Membuat keduanya kembali saling tatap.
"Kamu periksa sendiri saja," ucap Aneeq.
Jennie merasa sedikit ragu, tetapi penasaran juga. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membuka kancing kemeja Aneeq, hingga dada yang lebam itu bisa dia lihat.
"Tuan, apa ini gara-gara penjahat itu?"
Aneeq mengangguk. Sementara Jennie menghela nafas, dan melihat itu dia merasa pengorbanan Aneeq untuk melindungi dirinya dan Ziel tak main-main.
"Biar aku obati."
"Tidak perlu, dicium saja nanti juga sembuh kok."
Jennie mencebik, lalu secara reflek mencubit perut Aneeq. "Jangan mesumm!"
Dan Aneeq hanya terkekeh.
*
*
*
Indah pada waktunya ya, Bang🤪
Yok dipencet itu Anaconda sama sarangnya🍉🐍