
Hari berganti dengan cepat. Sore saat semua karyawan berhambur keluar dari perusahaan, Aneeq justru harus menemui seorang klien. Akan tetapi kali ini Aneeq tak mengajak Jennie, dia menyuruh wanita itu pulang, sementara dirinya berangkat bersama dengan sang asisten, Caka.
Klien Aneeq ini terkenal mata keranjang, mereka juga berencana bertemu di sebuah klub malam. Maka Aneeq tidak akan membiarkan Jennie bertemu dengan kliennya apalagi sampai menjadi target pria itu.
"Hati-hati, salam juga untuk Ziel," ucap Aneeq setelah mengusap puncak kepala Jennie. Sebuah usapan yang membuat wanita itu mengukir senyum.
Jennie mengangguk. "Kamu juga, An. Semoga pertemuan kalian lancar." Jawab wanita itu, dan langsung mendapat anggukan dari Aneeq. Setelah itu, Aneeq melangkah keluar lebih dulu, karena waktu yang ditentukan sudah tidak lagi banyak.
Jennie membereskan meja kerjanya, juga meja Aneeq. Untuk pertama kalinya, dia melihat figura foto yang berada di samping komputer milik pria itu. Sebuah foto wanita cantik yang terlihat masih muda. "Siapa?"
Jennie mulai menerka-nerka. Namun, tak kunjung menemukan jawaban. Dia melihat ke arah jam yang menempel di dinding. Waktu sudah berkelana menuju senja, akhirnya Jennie segera menyelesaikan pekerjaannya.
Satu yang Jennie yakini tentang foto itu, bahwa dia adalah orang yang penting dalam hidup Aneeq.
Jennie bergegas mengambil tas, lalu turun ke bawah. Di lobby perusahaan, Jennie bertemu dengan Julie. Dia tersenyum lebar, merasa rindu pada sahabatnya itu, sebab walaupun satu perusahaan, mereka jarang bertemu, karena tidak bekerja dalam satu lantai.
"Jen, kamu tidak pulang dengan Tuan Aneeq?" tanya Julie, mulai tahu kebiasaan sang sahabat yang diantar jemput oleh atasannya.
"Tidak, Jul. Dia ada meeting dengan seorang klien, katanya aku tidak perlu ikut," jawab Jenie.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita pulang bersama, aku juga sudah merindukan Ziel, aku mampir ke rumahmu nanti."
Jennie terlihat kikuk, karena dia belum mengatakan tentang kepindahannya. Julie pasti mengira, dia masih tinggal di kontrakan itu.
"Jen, maaf, tapi aku sudah tidak tinggal di sana," ujar Jennie, membuat kening Julie langsung mengerut, meminta penjelasan lebih panjang.
"Aku sudah pindah ke apartemen, Jul. Kemarin ada penjahat yang mencoba menculik Ziel, untung Tuan Aneeq datang."
Mereka terus melangkah, hingga tak terasa sudah berada di luar gedung. Julie menghentikan laju kakinya, lalu menatap Jennie tak percaya. "Kamu tinggal di apartemen—milik Tuan Aneeq?" Tanyanya.
Jennie mengangguk, tetapi dengan cepat membungkam mulut Julie. "Jangan keras-keras, Jul. Aku takut mereka salah paham."
Julie mengangguk tanda mengerti, hingga akhirnya dia memilih untuk pamit. Dia berjanji lain kali akan datang menemui Jennie. Mereka berpisah di sisi jalan raya, karena Julie langsung mendapatkan taksi online.
Sementara Jennie entah dari mana asalnya, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang, dan dia langsung mendapat tamparan.
Plak!
Jennie merasa terperangah, dia merasakan pipinya yang panas, lalu melihat siapa orang yang tiba-tiba bertindak semena-mena kepadanya. Dan seseorang itu adalah wanita yang sama, yang berfoto bersama dengan Michael. Lora datang berniat untuk memperingati Jennie.
Mata Jennie memicing tajam. "Apa maksudmu bersikap seperti ini padaku?" Cetus wanita itu, memberanikan diri untuk melawan Lora.
"Harusnya aku yang tanya, apa maksudmu terus mendekati Michael? Kamu masih mengharapkannya? Kamu bilang ingin bercerai, tapi apa buktinya? Sampai sekarang surat perceraian itu tidak ada. Jangan bilang kamu masih mencintainya," cetus Lora dengan nada geram. Dia tahu Michael dan Jennie belum sepenuhnya bercerai, dan hal itu membuat dia merasa kesal.
Jennie berdecih, picik sekali otak wanita satu ini. Apa katanya, dia masih mengharapkan Michael? Sudi kembali juga tidak, untuk apa dia mengharapkan pria badjingan itu. Lagi pula bukan dia yang sengaja memperlambat proses perceraian itu, tetapi Michael yang membuat semuanya menjadi rumit.
"Asal kamu tahu, pria badjingan itu yang terus mengejarku. Kalau kamu ingin marah, marah saja padanya. Dasar wanita menjijikkan!"
"Jaga mulutmu!" Tangan Lora terkepal, mengayun untuk kembali menampar Jennie, tetapi tidak akan semudah pikiran Lora untuk menyentuh wanita berdada besar itu.
Jennie mencekal tangan Lora, lalu memelintirnya ke belakang, kini gilirannya yang menampar wajah Lora sesuka hati. "Dasar jalanng! Tidak akan semudah itu kamu menindasku. Dada saja kecil, so soan mau merebut suami orang. Hih, aku yakin selama denganmu dia tidak pernah kekenyangan!"
"Argh, sakit. Lepaskan aku, Sialan!" pekik Lora seraya meringis kesakitan. Seketika aksi mereka menjadi sebuah tontonan. Bahkan sampai ada yang buang-buang waktu untuk merekam kejadian tersebut.
"Mulutmu yang sialan! Makanya kalau punya lubang itu dijaga. Minta sana pada priamu agar secepatnya ceraikan aku! Bilang padanya aku sudah tidak sabar ingin lepas, dan menikmati hidupku yang baru, karena priaku sudah menunggu. Pria yang bahkan 100 kali lipat lebih baik dari tikus got milikmu! Cih, senjata Michael bahkan tidak apa-apanya."
Lora mendelik, tetapi dia tak ingin menanggapi ucapan Jennie, dia ingin terlepas dari cekalan tangan wanita itu, karena sudah terlanjur malu. Dia tidak memprediksi akan kalah tenaga.
Jennie menyeringai tipis, merasakan Lora yang sudah kalah telak darinya. Wanita itu akhirnya mendorong Lora, hingga Lora terjungkal di trotoar. Semua orang terkejut, sementara Lora merasakan lututnya yang tergores aspal.
"Perebut suami orang memang pantas mendapatkan itu semua, kalau kamu masih berani denganku, jangan sungkan untuk datang! Aku akan meladenimu dengan senang hati," setelah mengatakan itu Jennie melangkah menjauh.
Tanpa diduga aksinya justru mendapat apresiasi, hingga mengundang tepuk tangan dari banyak orang. Sementara Lora tak berani mengangkat kepalanya, sumpah demi apapun dia sangat malu.
*
*
*
Kasih semangka yuk buat Mommy Jen 😗😗😗
**