
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya makanan yang Aneeq pesan telah datang. Pria tampan itu bangkit dari ranjang dan melangkah menuju pintu untuk menarik troli makanan.
Jennie tampak bergeming, rasanya tak bertenaga sekali untuk sekedar bangun dari pembaringannya. Aneeq tersenyum melihat itu, dia semakin mendekat ke arah Jennie dan duduk di samping sang wanita dengan mengelus lembut puncak kepalanya.
"Sayang, ayo bangun. Kita isi tenaga dulu," ajak Aneeq memerhatikan Jennie yang senantiasa menutup mata karena kelelahan akibat ulahnya.
"Jen," panggil Aneeq dengan lembut, kini wajah pria itu sudah mendekat dan memberi kecupan beberapa kali di bahu polos Jennie. Membuat wanita itu akhirnya menggeliat kecil, Jennie mengerjap dan ketika bola matanya sukses terbuka, dia langsung disuguhi wajah tampan suaminya.
"Aku lelah, An. Jangan menggangguku!" ucap Jennie tak tergoda dengan senyum Aneeq yang terlihat begitu manis. Dia melesakkan wajah ke dalam bantal, tetapi segera Aneeq tahan.
"Hei, who's distrubing you? Aku hanya ingin mengajakmu makan, Sayang," jawab Aneeq, dia mencoba untuk mengangkat tubuh Jennie, wanita itu patuh dan akhirnya terduduk dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Aku suapi," ucap Aneeq lagi seraya mengambil piring yang sudah terisi oleh nasi dan beberapa lauk. Dia menyendok dan mulai menyuapi Jennie, pagi itu mereka makan dalam satu sendok yang sama.
"An, kapan kita pulang?" tanya Jennie setelah kunyahan dan mulutnya habis. Tak hanya tentang rumah, dia juga memikirkan Ziel yang entah ada di mana sekarang.
Sebelum menjawab Aneeq kembali mengarahkan sendok ke depan mulut Jennie. "Up to you. Aku akan mengikutimu, Jen. Kalau kamu mau pulang nanti sore juga tidak apa-apa. Kamu pasti mengkhawatirkan Ziel juga, 'kan?" Tebak pria tampan itu, seolah mengerti kegundahan yang menyelimuti binar mata Jennie.
"Di mana anakku sekarang?"
"Anak kita, Jen!" tegas Aneeq, tak suka jika Jennie menyebut Ziel seperti itu. Mereka sudah menikah, dan mau bagaimana pun Ziel sekarang adalah anaknya juga.
Mendengar itu, Jennie mengulum senyum, dia merasa senang karena kasih sayang Aneeq memang tidak main-main. Tangan langsing wanita itu tiba-tiba terulur dan mengusap pipi Aneeq. "Iya, anak kita sekarang di mana, Sayang?" Tanya Jennie, mengulang dengan pertanyaan yang sama. Namun, terasa berbeda karena ada embel-embel sayang di belakangnya.
Aneeq tersenyum sumringah, senang saat Jennie memanggilnya seperti itu.
Cup!
"Hadiah karena kamu memanggilku sayang," ucap Aneeq setelah mengecup bibir Jennie sekilas. Jennie hanya mendengus kecil, sementara Aneeq terkekeh dan mengaduk kembali makanannya.
"Anak kita bersama dengan Daddy dan Mommy. Dia pasti aman bersama kedua orang tua itu," sambung Aneeq, yakin kalau Ziel pasti diamankan oleh kedua orang tuanya. Takut bocah tampan itu mengganggu malam pertama mereka.
Setelah beberapa saat kemudian, beberapa makanan yang Aneeq pesan telah tandas. Aneeq mengelap pinggiran bibir Jennie dengan ibu jarinya, dan berakhir dengan kecupan manis yang membuat Jennie merona.
"Jen, di samping ada kolam renang, kamu mau mandi lagi tidak?"
"Aku sudah tidak bertenaga, An. Tapi badanku juga lengket, aku tidak nyaman," keluh Jennie.
"Kalau begitu biar aku gendong, ke mari! Kita mandi bersama lagi supaya tubuhmu segar."
"Tapi_"
"Aku tidak akan macam-macam, Sayang. Only swim, trust me." Aneeq meraih kedua tangan Jennie untuk beranjak dari ranjang. Tanpa mengulur waktu Aneeq membuang selimut dan mengangkat tubuh semampai Jennie untuk sampai di kolam renang.
Jennie sama sekali tak mau lepas dari tubuh Aneeq, dia memeluk erat leher suaminya hingga turun ke air. Di siang hari yang panas, membuat kegiatan ini terasa sangat menyegarkan.
"Kamu bisa berenang?" tanya Aneeq pada Jennie yang menempel bagai benalu.
"Hem, tapi aku sedang tidak ingin berenang. Aku ingin memelukmu saja, An."
Aneeq terkekeh keras, dia menangkup kedua sisi wajah Jennie hingga memberikan jarak di antara mereka. "Kamu benar-benar minta dihajar. Tapi karena aku tahu kamu sedang kelelahan, aku hanya ingin menciummu."
Sejurus dengan itu Aneeq kembali mengulumm bibir Jennie dan menyesap dengan penuh kelembutan. Padahal Jennie sudah merasa kebas, tetapi saat Aneeq mencumbunya lagi entah kenapa geleyar aneh itu kembali datang.
Jennie semakin mempererat pelukannya, membuat tubuh polos itu dapat Aneeq rasakan dengan seksama.
Hari yang indah untuk mereka berdua.
**