My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Anaconda #5


Mansion sudah terlihat sepi, sebab semua orang sudah ada pada kegiatan mereka masing-masing. Tersisa hanya tinggal Zoya, Ken, dan juga Jennie.


Di kamar utama.


Zoya sudah bersiap-siap untuk memeriksakan kandungannya. Namun, kendalanya adalah sang suami yang memaksa untuk ikut, bahkan dalam kondisi yang memprihatinkan.


"Hubby, aku bilang kamu tidak perlu ikut. Aku bisa sendiri," ucap Zoya, menahan Ken yang sudah ingin bangkit. Sebab pria itu tetap kukuh pada pendiriannya. Dia ingin melihat perkembangan anak mereka.


"Aku masih kuat, Baby. Jangan meremehkanku!"


"Iya aku tahu. Tapi tidak untuk saat ini, menurutlah. Aku akan memberitahu semua apa yang dibicarakan Dokter tentang anak kita," jelas Zoya, menatap Ken yang menatapnya dengan tatapan sayu dan tubuh yang tak bertenaga.


Ken menggeleng kecil, dia bangkit dan langsung dipapah oleh istrinya. Zoya menghela nafas, pria ini benar-benar keras kepala. Dia tahu Ken tidak akan pernah membiarkan dia sendiri dalam melakukan apapun, tetapi lihatlah kondisinya, kesehatan Ken sedang tidak stabil akibat tri semester kehamilannya.


"Baiklah, tunggu sebentar di sini. Aku panggil supir untuk membantumu turun ke bawah," ucap Zoya akhirnya mengalah.


Mendengar itu, Ken duduk kembali di sisi ranjang. Keduanya saling tatap, Ken meraih tangan Zoya mengecupnya beberapa kali. "Maaf aku merepotkanmu. Tapi aku benar-benar tidak ingin kamu pergi sendirian untuk memeriksakan dia. Aku juga ingin melihat perkembangan anak kita."


Zoya sedikit memajukan tubuhnya, Ken memeluk pinggang itu dan melabuhkan ciuman di perut rata Zoya. Sesuatu yang kembali terulang setelah sekian lama, tetapi kebahagiaannya masih terasa sama.


Mereka mensyukuri anugerah ini. Di usia mereka yang tidak muda lagi, mereka akan kembali mengurus bayi.


Zoya mengusap kepala Ken dengan pelan, hingga pria itu menarik diri dan menatap wajah istrinya. "Aku tidak merasa direpotkan, Sayang. Aku hanya khawatir kamu kenapa-kenapa di jalan." Jawab Zoya dengan mengulum senyum.


"Aku akan baik-baik saja, Baby."


Zoya mengangguk, lalu dia meraih telepon rumah untuk menghubungi asisten rumah tangganya. Hingga tak berapa lama kemudian seorang supir datang, membantu Zoya untuk memapah tubuh Ken hingga masuk ke dalam mobil.


Setelah perjalanan berpuluh-puluh menit. Akhirnya Zoya dan Ken sampai di rumah sakit Puri Medika. Tempat di mana De mengabdikan dirinya. Zoya hendak mendorong kursi roda Ken, tetapi pria paruh baya itu menahannya. "Jangan, Sayang. Kamu tidak boleh sembarangan melakukan aktivitas berat."


Zoya pun mengingat hal itu, apalagi ditambah kehamilannya di usia yang tidak lagi muda. Dia tahu banyak resiko yang akan ditanggungnya.


Zoya akhirnya menurut, dia berjalan di sisi kiri Ken yang sudah didorong oleh perawat pria yang menghampiri mereka. Keduanya disambut dengan antusias, hingga De akhirnya keluar dari ruangannya.


"Mom, Dad. Aku langsung antar saja ke ruangannya yah," ucap De sambil melangkah lebih dulu. Menunjukkan ruang pemeriksaan, di mana Alana bertugas.


"Terima kasih ya, Sayang. Setelah itu kamu kembali saja ke ruanganmu. Biar Mommy ditemani Daddy."


"Tidak, Mom. Aku juga ingin melihat calon adikku."


"Cih, makanya buat sendiri sana!" cibir Ken pada putra keempatnya. Sebab dia hafal betul bagaimana sikap De yang tidak pernah mengenal seorang wanita, sifat yang berbanding terbalik dengan putra sulungnya.


De mengambil alih pegangan kursi roda, hingga ia yang mendorongnya. "Sabar, Dad. Lagi pula aku belum terlalu tua. Daddy tidak ingat berapa umur Daddy saat menikah dengan Mommy?"


"Heh, jangan kurang ajar!"


Melihat perdebatan kecil itu, Zoya terkekeh kecil. Hingga akhirnya mereka sampai di ruangan dokter Alana. Zoya yang sudah didaftarkan lebih dulu oleh De, akhirnya masuk tanpa harus menunggu.


Alana tersenyum, melihat ibu dan ayah pria yang disukainya datang, bahkan dia bersikap lebih ramah dari biasanya.


"Silahkan, Nyonya. Anda bisa langsung berbaring di sini. Kita akan melakukan USG terlebih dahulu," ucap Alana, lalu dengan patuh Zoya berbaring. Alana memberikan gel sebelum akhirnya ia melakukan USG pada kandungan Zoya.


"Sejauh ini janin berkembang dengan baik ya, Nyonya," terang Alana. Dia melirik De yang senantiasa menatap calon adiknya. "Dokter De, selamat yah, sebentar lagi anda akan memiliki adik yang lucu-lucu."


De melirik sekilas, dia hanya mengangguk samar. Dan Zoya serta Ken bisa melihat itu. Ada sesuatu lain diantara keduanya. Zoya paham betul, bahwa Alana sepertinya menyukai putranya.


"Maaf, Dok. Apa maksudnya lucu-lucu? Kalimat itu terasa ambigu," ucap Zoya bertanya untuk memecah keheningan.


Alana kembali tersenyum manis. "Ada kemungkinan anak kalian kembar lagi, Nyonya. Di sini ada dua kantung yang terisi, semoga dua-duanya berkembang dengan baik yah. Saya sarankan juga untuk Nyonya jangan terlalu banyak berkegiatan, apalagi mengingat usia anda. Maaf, Nyonya. Kehamilan ini cukup beresiko, jika tidak dijaga dengan baik, maka akan fatal akibatnya." Jelasnya, membuat Ken dan Zoya merasa tercengang.


"Baby, anak kita kembar lagi?" tanya Ken.


Zoya mengangguk antusias. Sementara De hanya bisa melongo, tak habis pikir bagaimana kedua orang tuanya mendapatkan banyak bayi dalam satu kali kehamilan. Apakah dia juga akan seperti itu? Hah, yang benar saja?